Comedy, Indie and Creativity

Minggu, 16 Agustus 2026

Mahasiswa KKN Ajak Siswa Kelas 5 SDN Toyogo Membaca Buku dengan Baik dan Benar Sesuai Prinsip K3



Loetju.idSragen - Membaca merupakan salah satu kebiasaan dasar yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan belajar anak, khususnya siswa Sekolah Dasar (SD). Namun, di lapangan masih banyak ditemukan siswa yang membaca dengan posisi tubuh kurang tepat, jarak baca terlalu dekat, serta pencahayaan yang kurang memadai. Kebiasaan tersebut apabila dibiarkan terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan, seperti gangguan penglihatan, sakit kepala, hingga menurunnya konsentrasi belajar. Berangkat dari kepedulian tersebut, mahasiswa KKN melaksanakan Program Sosialisasi Cara Membaca Buku yang Baik dan Benar Sesuai Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) kepada siswa kelas 5 SDN Toyogo 1 dan SDN Toyogo 2, Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua sesi, yaitu di SDN Toyogo 1 dan di SDN Toyogo 2.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun pemahaman siswa mengenai pentingnya menerapkan prinsip K3 dalam aktivitas membaca sehari-hari, sehingga siswa mampu membaca dengan aman dan nyaman tanpa membahayakan kesehatan mata maupun postur tubuh. Sosialisasi tidak hanya membahas pengertian K3 secara sederhana, tetapi juga mengajak siswa mengenali kebiasaan membaca yang keliru dalam kehidupan sehari-hari, seperti membaca sambil tiduran, membaca di tempat gelap, serta membaca dengan jarak yang terlalu dekat.


Mengenal Prinsip K3 dalam Membaca
Siswa mendapatkan edukasi interaktif mengenai cara membaca buku yang baik dan benar sesuai K3, meliputi posisi duduk tegak dengan punggung bersandar, jarak baca ideal sekitar 30 cm antara mata dan buku, pencahayaan yang cukup dan tidak menyilaukan, serta pentingnya istirahat mata setiap 20-30 menit dengan melihat objek jauh. Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan contoh-contoh konkret yang mudah dipahami sesuai usia siswa kelas 5 sekolah dasar, sehingga siswa dapat mengaitkan kebiasaan tersebut dengan aktivitas membaca mereka di rumah maupun di sekolah.

Selain mengenali prinsip K3 dalam membaca, siswa juga diajak untuk mempraktikkan langsung posisi duduk dan jarak baca yang benar melalui simulasi dan demonstrasi bersama Tim KKN. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka mencoba posisi membaca yang tepat serta menjawab pertanyaan seputar kebiasaan membaca sehari-hari.


Tidak Berhenti pada Siswa
Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan siswa mengenai cara membaca yang sehat, tetapi juga mendorong mereka untuk menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten di lingkungan masing-masing. Para siswa diharapkan dapat menyampaikan kembali kebiasaan membaca yang baik dan benar kepada teman maupun keluarga di rumah, sehingga pemahaman mengenai K3 dalam membaca tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diteruskan ke lingkungan yang lebih luas.

 

Membangun Kebiasaan Membaca yang Sehat Sejak Dini
Hasil dari kegiatan menunjukkan bahwa siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai posisi duduk, jarak baca, dan pencahayaan yang tepat saat membaca buku. Siswa juga mulai memahami bahwa kebiasaan sederhana seperti duduk tegak dan menjaga jarak baca merupakan langkah awal untuk menjaga kesehatan mata dan postur tubuh sejak dini.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap edukasi mengenai cara membaca buku yang baik dan benar sesuai K3 dapat menjadi bekal bagi siswa untuk lebih peka terhadap kesehatan diri sendiri dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun rumah. Program Sosialisasi Cara Membaca Buku yang Baik dan Benar Sesuai K3 ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya kesehatan dan keselamatan dalam belajar di Desa Toyogo.



Editor:
Achmad Munandar

Perindah Tampilan Bazar UMKM, Mahasiswa KKN Undip Rancang Gate dan Tata Pencahayaan Di Desa Toyogo



Loetju.id - Sragen - Selain kesiapan administrasi, tampilan dan suasana lokasi turut menentukan daya tarik sebuah kegiatan bazar. Menyadari hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan program kerja Perancangan Gate dan Penataan Lighting untuk mendukung penyelenggaraan Bazar UMKM Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, yang dilaksanakan pada 9 Agustus 2026. Program ini bertujuan menghadirkan pintu masuk (gate) yang menarik sekaligus pencahayaan yang memadai agar area bazar tampak lebih hidup dan nyaman dikunjungi, terutama saat kegiatan berlangsung hingga sore dan malam hari.

Kegiatan diawali dengan pengamatan kondisi lokasi bazar untuk memetakan tata letak area, jalur masuk pengunjung, titik-titik yang memerlukan pencahayaan tambahan, serta ketersediaan sumber listrik di sekitar lokasi. Pengamatan ini menjadi dasar bagi mahasiswa KKN dalam menyusun rancangan gate dan tata pencahayaan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lapangan.


Koordinasi dan Perancangan Konsep
Setelah kondisi lokasi terpetakan, mahasiswa KKN Undip berkoordinasi dengan panitia Bazar UMKM Desa Toyogo untuk menyelaraskan konsep gate dan penempatan lampu dengan tema kegiatan serta anggaran yang tersedia. Koordinasi ini penting dilakukan agar rancangan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan panitia dan dapat direalisasikan dengan bahan-bahan yang mudah didapat di desa.

Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, mahasiswa KKN Undip menyusun rancangan gate sebagai penanda sekaligus daya tarik pintu masuk area bazar, dilengkapi dengan denah tata letak pencahayaan yang mencakup titik-titik lampu di sepanjang jalur pengunjung dan area stan UMKM. Rancangan disusun sesederhana mungkin agar mudah dipasang oleh panitia maupun warga yang membantu persiapan bazar.


Dari Rancangan ke Pelaksanaan
Pendampingan tidak berhenti pada tahap perancangan, tetapi berlanjut hingga proses pemasangan di lapangan. Mahasiswa KKN Undip mendampingi panitia dan warga dalam memasang gate serta menata posisi lampu sesuai rancangan yang telah disusun, mulai dari pemasangan rangka gate, dekorasi, hingga pengaturan arah dan titik pencahayaan di area bazar.
 

Meningkatkan Daya Tarik dan Kenyamanan Pengunjung
Melalui program ini, area Bazar UMKM Desa Toyogo tampil lebih menarik dengan adanya gate sebagai penanda pintu masuk serta pencahayaan yang membuat suasana bazar terasa lebih hidup dan nyaman bagi pengunjung. Penataan lighting yang baik juga membantu pengunjung maupun pelaku UMKM beraktivitas dengan lebih leluasa saat hari mulai gelap.


Program Perancangan Gate dan Penataan Lighting ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN Undip dalam mendukung kelancaran dan daya tarik kegiatan ekonomi masyarakat di Desa Toyogo. Dengan tampilan lokasi yang lebih menarik dan nyaman, diharapkan Bazar UMKM dapat semakin diminati pengunjung serta memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Desa Toyogo.



Editor:
Achmad Munandar

Tanamkan Nilai Kejujuran Sejak Dini, Mahasiswa KKN Undip Beri Edukasi Anti Korupsi Kepada Siswa Kelas 5 SDN Toyogo

 


Loetju.idSragen, 24 Juli 2026 - Korupsi merupakan salah satu permasalahan besar yang mengakar dan berdampak luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk mencegah tumbuhnya bibit-bibit perilaku koruptif, penanaman nilai kejujuran dan integritas perlu dilakukan sejak usia dini, termasuk kepada anak-anak sekolah dasar. Berangkat dari kepedulian tersebut, mahasiswa KKN Undip melaksanakan Program Sosialisasi Pendidikan Anti Korupsi kepada siswa kelas 5 SDN 01 dan SDN 02 Toyogo, Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua sesi, yaitu pada 22 Juli 2026 di SDN 01 Toyogo dan 24 Juli 2026 di SDN 02 Toyogo.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun pemahaman siswa mengenai pengertian korupsi serta menanamkan nilai-nilai anti korupsi sejak dini, sehingga siswa mampu mengenali perilaku tidak jujur di sekitar mereka dan memahami dampaknya bagi diri sendiri maupun orang lain. Sosialisasi tidak hanya membahas pengertian korupsi secara sederhana, tetapi juga mengajak siswa mengenali contoh-contoh perilaku koruptif dalam kehidupan sehari-hari, seperti menyontek, berbohong, dan mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Siswa mendapatkan edukasi interaktif mengenai sembilan nilai anti korupsi, yaitu kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan. Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan contoh-contoh konkret yang mudah dipahami sesuai dengan usia siswa kelas 5 sekolah dasar, sehingga siswa dapat mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan kegiatan mereka sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan bermain.

Selain mengenali nilai-nilai anti korupsi, siswa juga diajak untuk mempraktikkan sikap jujur melalui berbagai simulasi dan diskusi interaktif. Siswa diminta untuk berani mengakui kesalahan, tidak mencontek saat ujian, serta bersikap terbuka dan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka dalam menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait sikap jujur yang pernah mereka terapkan.


Tidak Berhenti pada Siswa
Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan siswa mengenai bahaya korupsi, tetapi juga mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan yang menjunjung tinggi kejujuran di lingkungan masing-masing. Para siswa diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai anti korupsi yang telah dipelajari serta menyampaikannya kembali kepada teman, keluarga, dan orang-orang di sekitar mereka.

Dengan demikian, pemahaman mengenai pendidikan anti korupsi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diteruskan ke lingkungan yang lebih luas. Peran siswa sebagai generasi muda diharapkan dapat membantu membangun budaya jujur dan berintegritas sejak dini demi masa depan bangsa yang bebas dari korupsi.


Membangun Generasi Jujur dan Berintegritas
Hasil dari kegiatan menunjukkan bahwa siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pengertian korupsi, nilai-nilai anti korupsi, serta pentingnya bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari. Siswa juga mulai memahami bahwa perilaku sederhana seperti tidak mencontek dan berkata jujur merupakan langkah awal dalam mencegah budaya korupsi.
 

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Undip berharap edukasi anti korupsi dapat menjadi bekal bagi siswa untuk lebih peka terhadap nilai-nilai kejujuran dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Program Sosialisasi Pendidikan Anti Korupsi ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya nilai kejujuran dan integritas di Desa Toyogo. Edukasi sejak dini diharapkan dapat menciptakan generasi muda yang jujur, berintegritas, dan berani menolak segala bentuk tindakan koruptif di masa depan.



Editor:
Achmad Munandar

Dukung Kelancaran Bazar UMKM, Mahasiswa KKN Undip Dampingi Penyusunan Administrasi Kegiatan Di Desa Toyogo



Loetju.idSragen - pelakasaan basar di laukan pada tangal 9 agustus untuk  Kelancaran sebuah kegiatan besar seperti bazar tidak lepas dari kesiapan administrasi yang rapi dan terstruktur. Menyadari hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) memberikan pendampingan administrasi dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan Bazar UMKM Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. Pendampingan ini difokuskan untuk membantu panitia dalam menyiapkan berbagai dokumen pendukung agar kegiatan bazar dapat berjalan tertib dan terdokumentasi dengan baik.

Kegiatan pendampingan diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan administrasi yang diperlukan untuk penyelenggaraan bazar, mulai dari surat-menyurat, formulir pendaftaran peserta UMKM, daftar hadir, jadwal kegiatan, hingga format dokumentasi acara. Identifikasi ini dilakukan agar seluruh kebutuhan dokumen dapat terpetakan sejak awal, sehingga proses persiapan bazar dapat berjalan lebih efisien dan terarah.

Setelah kebutuhan administrasi teridentifikasi, mahasiswa KKN Undip melanjutkan dengan berkoordinasi bersama panitia bazar dan pemerintah Desa Toyogo untuk menyelaraskan format dan isi dokumen yang akan digunakan. Koordinasi ini penting dilakukan agar dokumen yang disusun sesuai dengan kebutuhan lapangan serta mendapatkan persetujuan dari pihak-pihak terkait sebelum digunakan dalam kegiatan.

Tahap selanjutnya adalah penyusunan dokumen administrasi, meliputi surat undangan dan surat-menyurat lain yang dibutuhkan panitia, formulir pendaftaran bagi pelaku UMKM yang ingin berpartisipasi, daftar hadir peserta maupun panitia, susunan jadwal kegiatan bazar, serta format dokumentasi untuk mencatat dan mengarsipkan pelaksanaan acara. Seluruh dokumen disusun dengan format yang sederhana dan mudah digunakan oleh panitia maupun pelaku UMKM.


Pendampingan Berlanjut Hingga Pelaksanaan Kegiatan
Pendampingan tidak berhenti pada tahap penyusunan dokumen, tetapi terus dilanjutkan selama pelaksanaan kegiatan bazar berlangsung. Mahasiswa KKN Undip mendampingi panitia dalam penggunaan dokumen-dokumen tersebut, seperti pengisian daftar hadir, pendataan peserta UMKM yang mendaftar, serta pencatatan dokumentasi kegiatan agar seluruh rangkaian acara dapat terekam dengan tertib.

Melalui pendampingan ini, panitia bazar merasa terbantu dalam mengelola administrasi kegiatan yang sebelumnya belum tertata secara sistematis. Ketersediaan dokumen yang lengkap juga memudahkan panitia dalam melakukan evaluasi dan pelaporan kegiatan setelah bazar selesai dilaksanakan.


Mendorong Tata Kelola Kegiatan Desa yang Lebih Rapi
Program pendampingan administrasi ini diharapkan tidak hanya bermanfaat untuk kelancaran kegiatan Bazar UMKM, tetapi juga dapat menjadi contoh tata kelola administrasi yang dapat diterapkan pada kegiatan-kegiatan desa lainnya di masa mendatang. Dengan administrasi yang tertib, setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh desa maupun kelompok masyarakat dapat berjalan lebih terorganisir, transparan, dan mudah dipertanggungjawabkan.
 

Bazar UMKM sendiri menjadi wadah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Desa Toyogo untuk memasarkan produk unggulan mereka sekaligus meningkatkan geliat perekonomian desa. Dengan dukungan administrasi yang baik, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang lebih luas bagi para pelaku UMKM maupun masyarakat Desa Toyogo secara keseluruhan.

Program Pendampingan Administrasi Bazar UMKM ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN Undip dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan ekonomi masyarakat di Desa Toyogo. Melalui dukungan administrasi yang rapi dan terstruktur, diharapkan kegiatan bazar dapat terus berkelanjutan dan menjadi agenda rutin yang mendorong perkembangan UMKM di desa.



Editor:
Achmad Munandar

Permudah Pelayanan Masyarakat, Mahasiswa KKN Undip Bantu Perangkat Desa Toyogo dalam Administrasi Pemerintahan

 


Loetju.idSragen, 4 Agustus 2026 -  Administrasi yang tertib menjadi salah satu kunci kelancaran pelayanan pemerintahan desa kepada masyarakat. Menyadari pentingnya hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) turut membantu perangkat Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen dalam melaksanakan administrasi pemerintahan desa. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran pelayanan masyarakat maupun tata kelola administrasi internal desa.

Bantuan yang diberikan meliputi penyusunan, pengetikan, pengeditan, pengecekan, hingga pencetakan berbagai surat administrasi sesuai dengan kebutuhan yang diajukan oleh masyarakat maupun kebutuhan administrasi internal perangkat desa. Surat-surat yang disusun antara lain surat pengantar, surat keterangan, serta dokumen administratif lain yang menjadi bagian dari pelayanan sehari-hari di kantor desa.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN Undip membantu perangkat desa mulai dari mendengarkan kebutuhan warga yang datang mengurus surat, menyusun draf surat sesuai keperluan, mengetik dan mengedit dokumen agar rapi dan sesuai format, hingga mencetak surat yang telah selesai untuk diserahkan kepada pemohon. Proses ini dilakukan dengan tetap berkoordinasi bersama perangkat desa agar setiap dokumen yang dihasilkan sesuai dengan kewenangan dan prosedur yang berlaku.


Menjaga Ketepatan Format dan Ketentuan yang Berlaku
Selain membantu proses penyusunan dan pencetakan, mahasiswa KKN Undip juga turut memastikan bahwa setiap dokumen yang dibuat telah sesuai dengan format dan ketentuan administrasi pemerintahan desa yang berlaku. Pengecekan dilakukan pada kelengkapan data, penulisan yang baku, serta kesesuaian format surat, sehingga dokumen yang dihasilkan benar-benar layak dan siap digunakan dalam proses pelayanan maupun tata kelola pemerintahan desa.

Ketelitian dalam tahap ini penting dilakukan mengingat dokumen administrasi desa sering kali digunakan untuk keperluan penting warga, seperti pengurusan kependudukan, keperluan usaha, maupun keperluan administratif lainnya. Dengan format dan ketentuan yang tepat, dokumen yang diterbitkan dapat langsung digunakan tanpa perlu direvisi ulang, sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih cepat dan efisien.


Meringankan Beban Kerja Perangkat Desa
Kehadiran mahasiswa KKN Undip dalam membantu administrasi pemerintahan dirasa meringankan beban kerja perangkat desa, terutama pada saat volume permintaan surat dari warga cukup tinggi. Dengan adanya pembagian tugas dalam proses pengetikan, pengeditan, dan pengecekan dokumen, pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih tertata tanpa mengurangi ketelitian dan kesesuaian dokumen dengan ketentuan yang berlaku.

Selain memberikan manfaat langsung bagi kelancaran pelayanan, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung mengenai sistem tata kelola administrasi pemerintahan desa, mulai dari alur pelayanan, jenis-jenis surat yang dibutuhkan masyarakat, hingga ketentuan format yang berlaku di tingkat desa.

Program bantuan administrasi pemerintahan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN Undip dalam mendukung kinerja perangkat Desa Toyogo. Melalui dukungan penyusunan dokumen yang rapi, tepat format, dan sesuai ketentuan, diharapkan pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih cepat, tertib, dan berkualitas.



Editor:
Achmad Munandar

Sabtu, 15 Agustus 2026

Mahasiswa UNDIP KKN-T 106 Kembangkan Inovasi Abon Bonggol Pisang melalui Proses R&D hingga Siap Dikenalkan kepada Masyarakat



Loetju.id - Semarang, 1 Agustus 2026 - Inovasi pangan tidak lahir dalam satu kali percobaan. Hal tersebut ditunjukkan oleh mahasiswa KKN Tematik Tim 106 Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui pengembangan abon bonggol pisang yang melewati serangkaian proses research and development (R&D), mulai dari trial awal, evaluasi, perbaikan, hingga menghasilkan produk yang siap diperkenalkan kepada masyarakat.

Program pengembangan abon bonggol pisang merupakan bagian dari kegiatan KKN-T 106 UNDIP yang berkolaborasi dengan PT Pertamina Patra Niaga dalam mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping pohon pisang menjadi produk pangan bernilai tambah. Inovasi tersebut memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di Kelurahan Pedurungan Tengah sekaligus menjadi upaya untuk mengenalkan proses pengembangan inovasi pangan kepada masyarakat.

Proses pengembangan diawali dengan trial pertama untuk mengetahui karakteristik awal abon bonggol pisang. Hasil percobaan kemudian dievaluasi berdasarkan beberapa aspek penting, yaitu tekstur, warna, dan rasa. Dari hasil evaluasi tersebut, mahasiswa mengidentifikasi bagian produk yang masih perlu diperbaiki sebelum dapat diperkenalkan kepada masyarakat. Berdasarkan hasil evaluasi, mahasiswa melakukan trial lanjutan dengan menerapkan berbagai perbaikan terhadap produk. Penyempurnaan dilakukan pada keseluruhan karakteristik abon, mulai dari tekstur, warna, hingga rasa. Proses tersebut dilakukan secara bertahap hingga diperoleh produk akhir dengan karakteristik yang lebih baik dan siap diperkenalkan dalam kegiatan sosialisasi.

Mahasiswa KKN-T Tim 106 UNDIP saat proses persiapan bahan baku dan pembuatan Abon Bonggol Pisang, Sabtu (01/08/2026). (Foto: Dokumentasi Tim KKN-T 106 UNDIP)

Rangkaian trial tersebut menjadi bagian penting dalam proses R&D. Mahasiswa tidak hanya berfokus pada menghasilkan produk akhir, tetapi juga menerapkan tahapan percobaan, evaluasi, identifikasi kekurangan, dan penyempurnaan produk. Proses inilah yang menjadi dasar lahirnya inovasi abon bonggol pisang. Setelah melalui proses pengembangan, produk abon bonggol pisang kemudian diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan sosialisasi pada Sabtu, 1 Agustus 2026, bertempat di Toko PKK RW 08, Kelurahan Pedurungan Tengah. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri atas PKK RW 08, Kelompok Tani Mulyo, Karang Taruna, dan perangkat Kelurahan Pedurungan Tengah.

Kegiatan diawali dengan pengenalan bonggol pisang sebagai bahan baku yang dapat dimanfaatkan menjadi produk pangan. Mahasiswa menjelaskan karakteristik bahan, kandungan gizi, manfaat, hingga proses pengolahannya. Penyampaian materi juga didukung dengan video interaktif yang memperlihatkan tahapan pembuatan abon bonggol pisang dari awal hingga siap dikonsumsi. Peserta kemudian diberikan kesempatan untuk melakukan uji cita rasa terhadap produk yang telah dikembangkan. Sesi tersebut mendapat tanggapan positif dan mendorong diskusi mengenai potensi pengembangan produk di masa mendatang.

Salah satu peserta, Bu Mul, mengaku baru mengetahui bahwa bonggol pisang yang selama ini kerap dianggap sebagai bagian yang tidak terpakai ternyata dapat diolah menjadi produk pangan. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan bahan yang sebelumnya sering dibuang.

“Wah, ternyata bonggol pisang yang biasanya dibuang bisa dimasak dan dijadikan makanan juga, ya. Baru tahu kalau ternyata bisa diolah seperti ini. Ke depannya mungkin bisa dikembangkan lagi dengan varian rasa lain, misalnya rasa pedas, supaya lebih banyak pilihan,” ujar Bu Mul.


Dari Produk hingga Pemahaman tentang Inovasi
Impact utama dari kegiatan ini tidak hanya berupa diperkenalkannya produk abon bonggol pisang kepada masyarakat, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat mengenai bagaimana sebuah inovasi pangan dikembangkan.

Melalui kegiatan sosialisasi, masyarakat diperkenalkan pada proses bahwa sebuah produk pangan membutuhkan tahapan trial, evaluasi, dan penyempurnaan sebelum dapat diterapkan dan diperkenalkan secara lebih luas. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya melihat abon bonggol pisang sebagai produk jadi, tetapi juga memahami bahwa proses R&D merupakan fondasi penting dalam menghasilkan inovasi pangan.

Hal tersebut menjadi salah satu nilai utama dari kegiatan ini. Masyarakat diajak untuk melihat bahwa pemanfaatan potensi lokal tidak berhenti pada ide, tetapi membutuhkan proses pengembangan agar dapat menghasilkan produk yang memiliki kualitas dan nilai tambah.

Benedicta Praycillia Wardaniela, Seorang mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan angkatan 2023, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro yang terlibat dalam pengembangan produk menjelaskan bahwa proses R&D menjadi dasar penting dalam menghasilkan inovasi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi pangan bukan hanya tentang menghasilkan sebuah produk, tetapi juga tentang bagaimana produk tersebut dikembangkan melalui proses trial dan evaluasi sehingga bisa menghasilkan produk yang lebih baik dan bisa diterima oleh masyarakat.”

Selain memberikan pemahaman mengenai inovasi pangan, kegiatan ini juga berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap hasil samping pohon pisang. Bonggol pisang yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk pangan bernilai tambah dan berpotensi dikembangkan sebagai peluang usaha berbasis potensi lokal.


Inovasi Pangan untuk Mendukung SDGs
Pengembangan abon bonggol pisang juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN-T 106 UNDIP dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini secara khusus berkaitan dengan SDGs 2: Zero Hunger, SDGs 8: Decent Work and Economic Growth, SDGs 9: Industry, Innovation and Infrastructure, serta SDGs 12: Responsible Consumption and Production.

SDGs 9 menjadi salah satu fokus utama melalui penerapan proses R&D dalam mengembangkan produk pangan berbasis potensi lokal. Proses trial, evaluasi, dan penyempurnaan menunjukkan penerapan inovasi untuk menghasilkan produk yang lebih baik. Sementara itu, pemanfaatan bonggol pisang sebagai bahan baku pangan turut mendukung SDGs 12 melalui upaya meningkatkan pemanfaatan hasil samping dan mendorong konsumsi serta produksi yang lebih bertanggung jawab. Inovasi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan SDGs 8 karena pengembangan produk bernilai tambah dari potensi lokal dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Di sisi lain, pemanfaatan bahan pangan lokal dan diversifikasi produk turut mendukung SDGs 2.

Kolaborasi antara mahasiswa KKN-T 106 UNDIP dan PT Pertamina Patra Niaga dalam program ini menjadi bentuk sinergi dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Lurah Pedurungan Tengah, Lisetya Budi, S.IP., M.M., turut mengapresiasi kolaborasi tersebut dan berharap pendampingan dapat terus berlanjut agar produk yang dihasilkan semakin berkualitas dan berpotensi menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

Program ini dilaksanakan di bawah pendampingan Tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Ir. Joko Mariyono, M.P., Ph.D., Annisa Firdauzi, S.P., M.P., dan Pramesti Megayana, S.P., M.Sc. Pendampingan tersebut diarahkan agar inovasi mahasiswa tidak berhenti sebagai luaran KKN, tetapi dapat diimplementasikan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN-T 106 Universitas Diponegoro, PT Pertamina Patra Niaga, Pemerintah Kelurahan Pedurungan Tengah, dan masyarakat, abon bonggol pisang menjadi lebih dari sekadar produk hasil KKN. Inovasi ini menjadi bukti bahwa R&D dapat menjadi fondasi dalam mengembangkan potensi lokal menjadi produk pangan bernilai tambah, sekaligus menjadi media edukasi bagi masyarakat bahwa sebuah inovasi membutuhkan proses, evaluasi, dan penyempurnaan sebelum dapat memberikan manfaat nyata.


Penulis:
Benedicta Praycillia Wardaniela
Teknologi Pangan Angkatan 2023, Universitas Diponegoro. 

Editor:
Achmad Munandar

Jumat, 14 Agustus 2026

Cegah Kenakalan Remaja Sejak Dini, Mahasiswa KKN Undip Beri Edukasi Anti-Bullying kepada Siswa SDN 01 dan 02 Toyogo



Loetju.idSragen, 23 Juli 2026 - Maraknya kasus bullying dan kenakalan remaja di lingkungan sekolah menjadi keprihatinan tersendiri yang perlu ditangani sejak usia dini. Berangkat dari kepedulian tersebut, mahasiswa KKN Undip melaksanakan Program Sosialisasi Anti-Bullying dan Kenakalan Remaja kepada siswa SDN 01 dan SDN 02 Toyogo, Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua sesi, yaitu pada 21 Juli 2026 di SDN 01 Toyogo dan 23 Juli 2026 di SDN 02 Toyogo.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun pemahaman siswa mengenai perilaku bullying dan kenakalan remaja sejak dini, sehingga siswa mampu mengenali bentuk-bentuk perilaku tersebut serta memahami dampaknya bagi diri sendiri maupun orang lain. Sosialisasi tidak hanya membahas definisi bullying dan kenakalan remaja, tetapi juga mengajak siswa mengenali situasi di sekitar mereka dan mendorong sikap saling menghargai antarteman.

Siswa mendapatkan edukasi interaktif mengenai jenis-jenis kenakalan remaja, mulai dari perilaku menyimpang ringan hingga tindakan yang berpotensi merugikan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, siswa juga dikenalkan dengan berbagai jenis bullying, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun bullying yang terjadi di dunia maya (cyberbullying), lengkap dengan contoh-contoh yang mudah dipahami sesuai dengan usia siswa sekolah dasar.

Selain mengenali jenis-jenis bullying dan kenakalan remaja, siswa juga diberikan pemahaman mengenai sikap yang perlu diambil ketika mengalami atau menyaksikan tindakan bullying. Siswa diajak untuk berani bercerita dan melapor kepada guru atau orang tua apabila mengalami maupun melihat kejadian bullying, serta pentingnya tidak diam atau justru ikut serta dalam tindakan tersebut. Siswa juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun sikap saling menghargai, empati, dan kepedulian terhadap sesama teman sebagai langkah pencegahan kenakalan remaja dan bullying sejak dini.


Tidak Berhenti pada Siswa
Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong mereka untuk menjadi bagian dari upaya pencegahan bullying dan kenakalan remaja di lingkungan masing-masing. Para siswa diharapkan dapat menerapkan sikap saling menghargai yang telah dipelajari serta menyampaikannya kembali kepada teman, keluarga, dan orang-orang di sekitar mereka.

Dengan demikian, pemahaman mengenai anti-bullying dan pencegahan kenakalan remaja tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diteruskan ke lingkungan yang lebih luas. Peran siswa sebagai generasi muda diharapkan dapat membantu membangun lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan bebas dari tindakan bullying.


Membangun Generasi yang Peduli dan Berani Bersuara
Hasil dari kegiatan menunjukkan bahwa siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai jenis-jenis kenakalan remaja, bentuk-bentuk bullying, serta sikap yang perlu diambil ketika menghadapi situasi tersebut. Siswa juga mulai memahami pentingnya berani bercerita, saling menghargai, dan tidak membiarkan tindakan bullying terjadi di sekitar mereka.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Undip berharap edukasi anti-bullying dan kenakalan remaja dapat menjadi bekal bagi siswa untuk lebih peka terhadap lingkungan pertemanan dan mampu bersikap tepat ketika menghadapi maupun menyaksikan tindakan bullying.

"Harapannya, siswa tidak hanya mengetahui apa itu bullying dan kenakalan remaja, tetapi juga berani bersuara dan saling menjaga satu sama lain. Sikap saling menghargai yang ditanamkan sejak sekolah dasar ini diharapkan dapat mereka bawa hingga dewasa," ujar Chayla.

Program Sosialisasi Anti-Bullying dan Kenakalan Remaja ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya lingkungan pertemanan yang sehat di Desa Toyogo. Edukasi sejak dini diharapkan dapat menciptakan generasi muda yang lebih peduli, berani bersuara, dan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari bullying dan kenakalan remaja.


Editor:
Achmad Munandar

Senin, 10 Agustus 2026

Mahasiswa KKN-T IDBU-07 UNDIP Rampungkan Entri Kearifan Ekologi Waduk Cengklik di Repositori Digital KALOKA





Loetju.id Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim IDBU-07 Universitas Diponegoro (Undip) menuntaskan program kerja multidisiplin berupa penyusunan entri kearifan ekologi Waduk Cengklik ke dalam repositori digital KALOKA. Program ini dikerjakan di Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali pada (04/08/2026). Fokusnya adalah dimensi Ekologi Waduk Cengklik, salah satu kategori utama dalam basis data kearifan lokal desa tersebut.

Kegiatan ini bertujuan mendokumentasikan pengetahuan ekologi warga sekitar waduk agar dapat diakses publik secara daring. Setiap entri disusun mengikuti standar kolom data KALOKA: judul, deskripsi, kata kunci, narasumber, sampai lokasi.

Sejumlah entri yang berhasil didokumentasikan antara lain sejarah pembangunan Waduk Cengklik sejak era Mangkunegaran dan kolonial Belanda, cerita rakyat tentang sosok penjaga gaib di empat penjuru waduk, dan legenda Watu Gajah. Tim juga mendokumentasikan praktik ekologi yang masih berjalan hingga kini. Beberapa di antaranya budidaya ikan sistem karamba, inovasi pengolahan eceng gondok menjadi pupuk dan biogas oleh Pokmas Ngudi Tirto Lestari, serta kesepakatan tak tertulis warga dalam menjaga kelestarian ikan di waduk.

Ketua Pokmas Ngudi Tirto Lestari, Turut Raharjo, menjadi salah satu narasumber dalam proses penggalian data ini. Ia menjelaskan bahwa ledakan eceng gondok yang sempat menutupi hampir 60 persen permukaan Waduk Cengklik pada 2021 justru menjadi titik awal lahirnya inovasi pupuk organik dan biogas Lesindo yang kini dimanfaatkan warga.



Ia berharap keberadaan KALOKA bisa menjaga pengetahuan lokal warga Sobokerto agar tidak berhenti di generasi sekarang.

"Semoga dengan adanya KALOKA, pengetahuan lokal yang kami miliki tidak berhenti di generasi sekarang saja. Mudah-mudahan apa yang kami bagikan melalui KALOKA dapat bermanfaat dan membuat lebih banyak orang mengenal kearifan lokal di sekitar Waduk Cengklik," ujarnya.

Seluruh entri kearifan ekologi Waduk Cengklik ini telah rampung didokumentasikan oleh tim KKN dan diserahkan ke pihak pengelola KALOKA. Ke depannya, harapannya masyarakat Desa Sobokerto sendiri yang dapat melanjutkan dan menambah entri kearifan lokal lainnya, sehingga KALOKA terus terisi dan berkembang secara mandiri oleh warga.


Penulis:
Fadhil Resmana Putra 
Mahasiswa KKN-T 07 UNDIP

Editor:
Achmad Munandar

KALOKA Resmi Diperkenalkan, Tim KKN IDBU 7 Undip Himpun Masukan untuk Pengembangan




Loetju.id - Pasca-peluncuran website KALOKA oleh Tim KKN-T IDBU 07 di Desa Sobokerto, mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Undip, Aisyah Khoirunnisa, melakukan evaluasi terhadap kesiapan dan pemanfaatan sistem digital bagi pengelola perpustakaan desa. Evaluasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya melihat bagaimana website KALOKA dapat diterima dan digunakan setelah sistem mulai diperkenalkan. KALOKA dikembangkan sebagai platform digital yang mendukung pengelolaan perpustakaan desa, sekaligus menjadi ruang untuk memuat berbagai informasi dan potensi yang ada di Desa Sobokerto.

Evaluasi tidak hanya melihat apakah website dapat digunakan secara teknis, tetapi juga memperhatikan pengalaman pengguna ketika mulai beradaptasi dengan sistem baru. Aspek seperti persepsi terhadap kemudahan penggunaan, manfaat sistem, serta kendala yang muncul selama proses penggunaan menjadi bagian yang diperhatikan dalam evaluasi.

Pengambilan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner persepsi dan penerimaan awal pengguna. Kuesioner tersebut dilengkapi dengan beberapa pertanyaan review singkat pada bagian akhir untuk memberikan ruang bagi pengelola maupun pengguna untuk menyampaikan pengalaman, kesulitan, serta bagian dari website yang masih dirasa perlu diperbaiki atau dikembangkan.

Masukan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan kendala dalam penggunaan website. Beberapa warga juga menyampaikan usulan mengenai konten yang dapat ditambahkan agar informasi di dalam KALOKA semakin beragam. Salah satunya adalah permintaan agar jumlah dokumentasi foto di dalam website dapat diperbanyak sehingga informasi mengenai kegiatan maupun potensi desa dapat ditampilkan secara lebih lengkap.

Selain itu, terdapat pula warga yang menanyakan kemungkinan untuk menambahkan informasi mengenai usaha milik warga lain ke dalam website. Menanggapi hal tersebut, tim KKN menyampaikan bahwa penambahan informasi maupun dokumentasi tetap dapat dilakukan setelah website diserahkan kepada pihak desa.

"Bisa saja ditambahkan, baik foto maupun informasi usaha warga. Karena nantinya website ini akan diserahkan dan dikelola oleh perangkat desa, untuk penambahan konten selanjutnya bisa dikoordinasikan dan disampaikan kepada perangkat desa sebagai pengelola," jelas salah satu tim IT KKN IDBU 7.

Masukan tersebut menjadi salah satu temuan yang menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap website dapat berkembang setelah sistem mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Warga tidak hanya melihat website sebagai sumber informasi yang sudah tersedia, tetapi juga mulai memberikan usulan mengenai informasi lain yang menurut mereka relevan untuk dimasukkan ke dalam KALOKA.

Pertanyaan review menjadi bagian penting dalam evaluasi karena memungkinkan pengguna menyampaikan masukan yang mungkin tidak dapat tergambarkan hanya melalui jawaban pada kuesioner. Masukan yang terkumpul kemudian diolah untuk memperoleh gambaran mengenai bagian-bagian website yang masih membutuhkan penyesuaian, penambahan konten, maupun pendampingan.

Evaluasi ini menjadi salah satu langkah awal dalam mendukung keberlanjutan pengelolaan website KALOKA di Desa Sobokerto. Hasil evaluasi dan modul yang telah disusun dapat dimanfaatkan oleh pengelola sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perbaikan, pembiasaan penggunaan, maupun pengembangan website pada tahap berikutnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN dalam mendampingi proses pemanfaatan teknologi digital di tingkat desa, khususnya agar sistem yang telah dikembangkan dapat terus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pengguna di lapangan.


Penulis: 
Aisyah Khoirunnisa
Mahasiswa Program Studi Psikologi 
KKN-T IDBU 07 Universitas Diponegoro
Desa Sobokerto, Boyolali


Editor:
Achmad Munandar

Minggu, 09 Agustus 2026

Mahasiswa KKN Tematik 101 Universitas Diponegoro Lakukan Edukasi Pemanfaatan Cangkang Telur sebagai Sumber Kalsium untuk Tanaman di Kampung Nglarang RW 09 Kelurahan Gunungpati



Loetju.id - Minggu, 26 Juli 2026, bertempat di Kampung Nglarang RW 09, Kelurahan Gunungpati, Kota Semarang, telah dilaksanakan kegiatan Edukasi Pemanfaatan Cangkang Telur sebagai Sumber Kalsium untuk Tanaman. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja individu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 101 Universitas Diponegoro Tahun 2026 yang ditujukan kepada Ibu-Ibu PKK RW 09 sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kandungan dan manfaat cangkang telur sebagai sumber kalsium alami bagi tanaman, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah organik rumah tangga menjadi sesuatu yang bernilai guna. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan cangkang telur sebagai alternatif sumber kalsium untuk mendukung pertumbuhan tanaman pekarangan serta mendukung penerapan konsep Integrated Farming.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian cangkang telur sebagai limbah organik rumah tangga yang memiliki kandungan kalsium karbonat (CaCO₃) sekitar 94–97%. Selanjutnya dijelaskan fungsi kalsium bagi tanaman, di antaranya memperkuat dinding sel, merangsang pertumbuhan akar, membantu pembentukan jaringan baru, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap gangguan fisiologis. Selain itu, peserta juga diberikan penjelasan mengenai potensi cangkang telur yang selama ini masih banyak dibuang, padahal dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium alami yang mudah diperoleh dan ramah lingkungan.


Pada sesi berikutnya disampaikan materi mengenai cara pengolahan cangkang telur menjadi bubuk yang siap digunakan pada tanaman. Peserta diberikan penjelasan mengenai tahapan pengeringan cangkang telur, proses penghalusan hingga menjadi bubuk, serta cara pengaplikasiannya pada media tanam. Selain itu, dijelaskan pula bahwa bubuk cangkang telur bukan merupakan pengganti pupuk NPK, melainkan berfungsi sebagai sumber kalsium alami yang melengkapi kebutuhan unsur hara tanaman.

Sebagai bentuk penguatan materi, seluruh peserta memperoleh leaflet edukasi yang berisi informasi mengenai kandungan nutrisi cangkang telur, manfaat bagi tanaman, langkah-langkah pengolahan, serta cara penggunaan yang tepat. Leaflet tersebut diharapkan dapat menjadi media pembelajaran yang mudah dipahami sehingga masyarakat dapat mempraktikkan pemanfaatan cangkang telur secara mandiri di rumah.

Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam mengikuti penyampaian materi, berdiskusi, serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai manfaat cangkang telur dan cara penggunaannya pada berbagai jenis tanaman pekarangan. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat mampu mengurangi limbah organik rumah tangga sekaligus memanfaatkannya sebagai sumber kalsium alami bagi tanaman, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan sesuai dengan konsep Integrated Farming.


Editor:
Achmad Munandar

Comika

Politika

Gen Z