Comedy, Indie and Creativity

Comika

Selebrita

Gen Z

Indie

Video

Selasa, 18 Agustus 2026

Penguatan Tata Kelola Perpustakaan Digital, Mahasiswa KKN-T IDBU-07 Undip Susun Modul SOP Layanan KALOKA




Loetju.idBOYOLALI – Transformasi layanan literasi di tingkat desa tidak cukup hanya dengan menghadirkan platform digital, tetapi juga membutuhkan tata kelola yang mampu menjamin keberlangsungan pemanfaatannya. Berangkat dari kebutuhan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU-07 Universitas Diponegoro (Undip) menyusun Modul Pelatihan Penerapan SOP dan Manajemen Layanan Harian Perpustakaan Digital untuk mendukung pengelolaan KALOKA (Kearifan dan Literasi Lokal Desa) di Desa Sobokerto, Kabupaten Boyolali.


Modul ini dirancang sebagai panduan bagi pengelola dalam memahami dan menerapkan prosedur layanan perpustakaan digital secara sistematis. Penyusunannya tidak hanya berorientasi pada penggunaan platform, tetapi juga pada pembentukan alur kerja yang jelas sehingga aktivitas pengelolaan dapat dilakukan secara lebih terarah, konsisten, dan mudah diterapkan dalam operasional sehari-hari.


Salah satu bagian penting dalam program ini adalah penyusunan alur kerja layanan Perpustakaan Desa Digital KALOKA. Alur tersebut menjadi instrumen untuk memetakan tahapan layanan dan memberikan gambaran kerja yang lebih terstruktur bagi pengelola. 


Dari perspektif Teknik Industri, Shulchia Diana, mahasiswa Fakultas Teknik, berkontribusi dalam aspek tata kelola dan penataan alur layanan. Peran tersebut diarahkan pada bagaimana proses layanan dapat disusun secara sistematis, memiliki tahapan yang jelas, serta mendukung efektivitas pengelolaan perpustakaan digital. Modul yang disusun juga memuat panduan penerapan SOP dan manajemen layanan harian sebagai dasar dalam menjalankan proses operasional.


Kebutuhan terhadap panduan tersebut semakin relevan karena KALOKA diproyeksikan untuk dikelola oleh pihak desa setelah proses serah terima. Dengan adanya modul, proses alih kelola tidak berhenti pada penyerahan produk digital, tetapi turut disertai dengan pengetahuan dan pedoman kerja yang dapat digunakan oleh pengelola dalam menjalankan layanan secara mandiri.


Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyerahan Modul Pelatihan Penerapan SOP dan Manajemen Layanan Harian Perpustakaan Digital kepada Pemerintah Desa Sobokerto pada 5 Agustus 2026. Berdasarkan berita acara serah terima, pihak desa menerima produk tersebut dan menyatakan akan mengimplementasikannya sesuai dengan peruntukan dan kebermanfaatannya. 


Program ini menunjukkan bahwa pengembangan layanan digital di tingkat desa perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem pengelolaannya. Melalui modul, SOP, dan alur kerja yang disusun, KKN-T IDBU-07 Undip berupaya memberikan fondasi tata kelola yang dapat mendukung keberlanjutan KALOKA sekaligus mempermudah pengelola desa dalam menjalankan layanan perpustakaan digital setelah program KKN-T berakhir.



Penulis: 
Shulchia Diana 
Mahasiswa Teknik Industri 
Tim II KKN-T IDBU-07 Universitas Diponegoro
Desa Sobokerto, Kabupaten Boyolali.

Editor:
Achmad Munandar

Dampingi Pengelola KALOKA, Mahasiswa KKN Undip Gelar Pelatihan Teknis Pengunggahan Konten dan Troubleshooting Sistem




Loetju.id -  Mahasiswa Tim KKNT IDBU-07 Universitas Diponegoro (Undip) memberikan pelatihan teknis pengunggahan konten sekaligus pendampingan troubleshooting sistem kepada pengelola KALOKA (Portal Literasi Desa Sobokerto), dalam rangkaian program kerja multidisiplin di Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, yang berlangsung sejak 1 hingga 5 Agustus 2026.

Program ini digagas oleh Nazla Azzahra, mahasiswa dari divisi IT Tim KKNT IDBU-07, sebagai tindak lanjut atas kebutuhan pengelola KALOKA yang memerlukan pendampingan teknis dalam mengoperasikan sistem, khususnya dalam mengunggah konten dan menangani gangguan yang mungkin muncul saat digunakan. Sebelumnya, Nazla telah menyusun modul panduan pengguna berisi tutorial langkah demi langkah untuk menambahkan entri pada modul Kearifan Lokal, Info Wisata, dan UMKM.

Pendampingan dilakukan secara langsung dengan mendatangi pengelola KALOKA, memandu proses login, navigasi Dashboard, hingga praktik mengisi dan mengunggah entri konten sesuai dengan alur kerja sistem, mulai dari input data oleh pengelola hingga proses kurasi yang dilakukan admin sebelum konten tampil ke publik. Selain pelatihan, kegiatan ini juga mencakup pendampingan troubleshooting untuk membantu pengelola memahami cara mengidentifikasi dan menangani kendala teknis sederhana yang mungkin ditemui saat mengoperasikan sistem sehari-hari.

Salah satu pengelola KALOKA yang mendapatkan pendampingan, Queen, yang bertanggung jawab atas entri tradisi lisan dan sejarah desa, mengaku terbantu dengan modul dan pendampingan yang diberikan.

"Modulnya sangat informatif, setiap langkah dijelaskan dengan jelas jadi aku bisa langsung praktik input entri sesuai alurnya tanpa bingung," ujar Queen.

Melalui pelatihan dan pendampingan yang telah dilakukan, program ini diharapkan mampu membekali pengelola KALOKA agar dapat mengunggah konten secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus menghasilkan catatan troubleshooting yang dapat menjadi acuan penyelesaian kendala teknis di kemudian hari.


Penulis: 
Nazla Azzahra Hermana
Tim KKNT IDBU-07 Desa Sobokerto, Boyolali

Editor:
Achmad Munandar

Kreatif Manfaatkan Limbah, KKN-T IDBU 69 Desa Tumerep Kembangkan Akuaponik Selada dan Lele



Loetju.idBATANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi dan Desa Binaan (KKN-T IDBU) 69 Desa Tumerep menghadirkan inovasi budidaya tanaman selada berbasis akuaponik dengan menggabungkan budidaya tanaman dan perikanan dalam satu sistem. Kegiatan ini memanfaatkan selada sebagai komoditas tanaman dan ikan lele sebagai komoditas perikanan dengan menggunakan hidroton sebagai media tanam.

Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa KKN-T dari program studi agroekoteknologi dengan memanfaatkan ember dan galon bekas sebagai wadah budidaya, serta mahasiswa KKN-T dari program studi Arsitektur yang menyulap limbah botol plastik menjadi hiasan bunga cantik yang menambah nilai estetika akuaponik. Pemanfaatan barang bekas ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam mengurangi limbah anorganik sekaligus menciptakan sarana budidaya yang sederhana, kreatif, estetik, dan mudah diterapkan oleh masyarakat.

Sistem akuaponik yang diperkenalkan oleh mahasiswa Agroekoteknologi Lala dan Ristha, mengintegrasikan budidaya ikan lele dengan tanaman selada. Ikan lele dibudidayakan pada bagian wadah yang berfungsi sebagai tempat pemeliharaan ikan, sedangkan tanaman selada ditempatkan pada bagian atas dengan hidroton sebagai media tanam. Sistem tersebut memungkinkan kegiatan budidaya tanaman dan ikan dilakukan secara bersamaan sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan ruang. 

“Saya minat belajar sistem pertanian ini, biasanya saya lihat di TV kurang jelas dan sekarang dapat dilihat bentuknya secara langsung. Mudah dilakukan dan bisa efisien tempat jadinya kalau menanam dengan sistem seperti ini, saya bisa mempraktikan di halaman rumah saya” ucap salah satu masyarakat yang mengunjungi stand aquaponik saat Gelar Karya. 

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini mampu memberikan pengetahuan dan wawasan baru kepada masyarakat mengenai alternatif budidaya tanaman yang sederhana dan dapat diterapkan di rumah. Secara umum, masyarakat tertarik untuk mencoba membuat sistem akuaponik secara mandiri dan memanfaatkan berbagai bahan serta teknologi sederhana yang sebelumnya belum pernah mereka temui dalam kegiatan

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengenalan teknik budidaya, tetapi juga membawa pesan mengenai pentingnya pengelolaan limbah secara kreatif dan efisien. Ember, galon, dan botol bekas yang umumnya menjadi limbah dapat dimanfaatkan kembali menjadi wadah produktif. Dengan demikian, barang yang sudah tidak digunakan dapat memiliki nilai guna baru sekaligus mendukung kegiatan budidaya pangan. Masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap penerapan sistem akuaponik yang diperkenalkan dalam kegiatan Gelar Karya. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pertanyaan dan ketertarikan masyarakat terhadap berbagai komponen media yang digunakan, seperti hidroton, rockwool, serta mekanisme kerja sistem akuaponik

Penggunaan hidroton sebagai media tanam juga menjadi salah satu bagian dari inovasi yang diperkenalkan kepada masyarakat. Hidroton digunakan untuk menopang tanaman selada dalam sistem akuaponik sehingga budidaya dapat dilakukan tanpa menggunakan media tanah. “Wah bagus ya media Hidroton ini, bentuknya juga menarik seperti coklat. Bagus adik – adik mahasiswa memperkenalkan hal baru terkait pertanian konvensional ke masyarakat desa yang masih menerapkan pertanian tradisional” ucap Bapak Sukur selaku Kepala Dusun Cepoko. Kombinasi selada, ikan lele, hidroton, serta wadah dari barang bekas menghasilkan sistem budidaya sederhana yang dapat diterapkan pada lahan dengan ruang terbatas.

 

Melalui kegiatan ini, KKN-T IDBU 69 Desa Tumerep berharap masyarakat dapat mengenal alternatif budidaya yang menggabungkan sektor pertanian dan perikanan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Sistem akuaponik juga diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk menghasilkan pangan secara mandiri melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu dan inovasi di tengah masyarakat. Dengan memanfaatkan barang bekas menjadi sarana budidaya, KKN-T IDBU 69 Desa Tumerep berupaya menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dan kegiatan produksi pangan dapat dilakukan secara bersamaan melalui inovasi sederhana yang berkelanjutan.


Editor:
Achmad Munandar

Peduli Fasilitas Belajar Anak Usia Dini, Mahasiswa KKN UNDIP Dampingi Penilaian Kerusakan Bangunan TK-PAUD Dahlia Tumbrep

 

Gambar 1. Survei Lapangan bersama Penanggung Jawab TK/PAUD Dahlia 
RT 04 Dusun Tembelang


Loetju.idMahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 69 Universitas Diponegoro melaksanakan survei kondisi fisik bangunan TK-PAUD Dahlia yang berlokasi di Dukuh Tembelang RT 04, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sosial Kemasyarakatan yang dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa terhadap fasilitas pendidikan di lingkungan setempat.

 
Gambar 2. Kondisi Eksisting Bangunan TK/PAUD Dahlia RT 04 Dusun Tembelang

Mahasiswa turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengamatan visual terhadap seluruh komponen bangunan Kelas A-B TK-PAUD Dahlia yang memiliki luas 75 meter persegi, meliputi komponen struktur seperti pondasi, kolom, balok, dan atap; komponen arsitektur seperti dinding, plafon, lantai, kusen, pintu, dan jendela; hingga komponen utilitas seperti instalasi listrik, air bersih, dan drainase limbah.

Setiap komponen kemudian dinilai berdasarkan tingkat kerusakannya, mulai dari kategori tidak rusak hingga sangat berat, sebelum dimasukkan ke dalam formulir sesuai bobot komponen masing-masing untuk memperoleh perhitungan nilai kerusakan bangunan secara keseluruhan. Proses pengisian formulir ini menjadi tahapan penting agar data yang dihasilkan dapat langsung digunakan sebagai bahan acuan oleh pihak berwenang tanpa memerlukan verifikasi ulang yang panjang.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa turut memberikan perhatian khusus pada komponen yang berkaitan langsung dengan keselamatan penggunanya, mengingat bangunan tersebut digunakan oleh anak-anak usia dini. Komponen seperti atap, plafon, lantai, dan instalasi listrik menjadi bagian yang diperiksa secara lebih cermat karena berpotensi menimbulkan risiko apabila mengalami kerusakan lanjutan.

Hasil survei dan formulir yang telah terisi lengkap ini selanjutnya diserahkan sebagai bahan pertimbangan bagi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Batang dan Dinas Kebudayaan Pendidikan Kabupaten Batang dalam menentukan langkah tindak lanjut, khususnya terkait kebutuhan perbaikan pada komponen bangunan yang teridentifikasi mengalami kerusakan. Dengan tersedianya data yang terstruktur sesuai standar penilaian yang berlaku, proses pengambilan keputusan oleh dinas terkait diharapkan dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.

Program bantuan survei dan pengisian formulir ini diharapkan dapat memberikan manfaat konkret bagi pengelola TK-PAUD Dahlia, khususnya dalam mendukung upaya pemeliharaan fasilitas pendidikan agar tetap aman dan layak digunakan oleh peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN dalam membantu proses administratif yang dibutuhkan masyarakat, khususnya dalam hal pendataan kondisi fasilitas publik di wilayah Desa Tumbrep.



Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa KKN UNDIP Rancang Masterplan Kawasan Agro-Eduwisata PSDKU UNDIP Batang, Ubah Kampus Jadi "Living Laboratory"

 
Gambar 1. Pemaparan Hasil Masterplan Tim KKN-T IDBU 69 UNDIP


Loetju.id - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 69 Universitas Diponegoro di Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, menyusun rancangan awal Masterplan Pengembangan Kawasan Edu-Wisata Berbasis Agro di lingkungan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) UNDIP Batang. Rancangan ini dipresentasikan pada Jumat (8/8/2026) di hadapan Kepala Desa Tumbrep, Kepala Dukuh Cepoko dan Tembelang, jajaran RT/RW setempat, perwakilan Omah Tani, Kepala BPK2U UNDIP, serta Dosen Pembimbing Lapangan.

Pemilihan arah pengembangan Agro-Eduwisata didasarkan pada hasil identifikasi wilayah yang menunjukkan Desa Tumbrep didominasi oleh lahan pertanian dengan kondisi tanah yang mendukung pengembangan berbagai komoditas. Mahasiswa dari program studi Agroteknologi melakukan kajian pemilihan komoditas yang memiliki potensi ekonomi, edukasi, dan daya tarik wisata disertai dengan analisis dari jenis tanah, kemiringan lereng, dan data iklim setempat. Hasil kajian ini kemudian menjadi dasar rekomendasi komoditas yang direncanakan mengisi kawasan, mulai dari kelengkeng, kopi, dan edamame, hingga tanaman hias seperti mawar, sedap malam, aster, dan gladiol, serta hortikultura seperti melon, tomat, cabai, dan terung. Melalui pendekatan ini, Kampus PSDKU UNDIP Batang diproyeksikan menjadi living laboratory, tempat mahasiswa dan wisatawan dapat mempraktikkan langsung ilmu pengetahuan di bidang pertanian, peternakan, hingga pengolahan hasil panen.

Program yang digarap selama kurang lebih 35 hari ini mencakup perancangan pada dua lokasi, yaitu Kampus I Tumbrep yang direncanakan sebagai pusat kegiatan pendidikan sekaligus eduwisata agro, dan Kampus II di Dusun Cepoko yang diarahkan sebagai kawasan wisata dengan memanfaatkan kondisi topografi dan potensi alam setempat.

Konsep utama yang diusung untuk PSDKU UNDIP adalah "Campus in Nature", diterjemahkan melalui perancangan fasilitas yang menyatu dengan aktivitas pertanian di sekitarnya, alih-alih berdiri terpisah sebagai bangunan akademik semata. Prinsip ini turut diterapkan pada rancangan bangunan, di mana massa bangunan dibuat rendah dan mengikuti kontur tapak agar tidak mendominasi lanskap kebun, dilengkapi shading eksternal serta double skin façade berbahan pori yang dapat dipadukan dengan tanaman rambat sebagai pelindung panas alami. Pemilihan material diarahkan pada material alami seperti batu dan kayu yang dipadukan dengan elemen metal, didukung pemanfaatan panel surya sebagai salah satu sumber energi terbarukan.


Gambar 2. Output Masterplan, Business Model Canvas, dan Paket/Rute Wisata

Pada perancangan untuk Kampus I Tumbrep, terdapat Sub-Zona Pendidikan yang  meliputi Ruang Kuliah, Laboratorium, Perpustakaan, Asrama, Ruang Terpadu, Auditorium, Sport Center, Kantin, dan Teaching Farm Broiler Closed House. Kemudian untuk Sub-Zona Eduwisata meliputi Visitor Center serta UMKM & Souvenir Center sebagai titik kedatangan, dilanjutkan Area Kebun Produktif juga Area Kebun Tanaman Hias & Hortikultura.

Pendekatan learning through experience diterjemahkan melalui penempatan fasilitas sehingga pengunjung dapat mengikuti setiap aktivitas yang ditawarkan. Pada Area Kebun Produktif, dirancang Packing House dan Training Center yang menampilkan proses penanganan pasca-panen kelengkeng dan kopi, mulai dari penyortiran hingga pengemasan. Pola serupa diterapkan pada Area Kebun Tanaman Hias & Hortikultura, di mana Greenhouse memungkinkan pengunjung mengamati tahapan budidaya hortikultura, dilanjutkan Workshop Kreasi dan Lab Atsiri yang menghubungkan proses belajar merangkai bunga hias serta mengolah minyak atsiri.


Sementara itu, pada area Kampus II sendiri sudah memiliki sejumlah potensi alam, seperti Kali Lojahan, curug di seberang tapak, serta pemandangan ke arah pegunungan Dieng, serta komoditas lokal berupa kopi, sengon, dan singkong. Sehingga, perancangan untuk Kampus II yang memiliki topografi berundak diarahkan menjadi kawasan wisata. Kawasan dibagi menjadi tiga zona, yaitu Zona Komersial (Parkir, Basecamp Jeep, Ticketing, Cafe), Zona Outdoor Activity (Kelas Luar Ruang, Outbound, Area Berkemah), serta zona Kebun dan Pengolahan Kopi.

Mahasiswa dari program studi Matematika juga turut menyusun pemodelan rute perjalanan wisata menggunakan pendekatan graf dengan 59 titik lokasi dan 182 jalur penghubung, menggunakan algoritma Nearest Neighbor yang disempurnakan lewat Iterated Local Search. Hasilnya tersusun satu rute optimal yang mampu menghubungkan seluruh titik dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan kontur, sehingga pengunjung dapat menjelajahi kawasan secara efisien.

Selain aspek fisik kawasan, penyusunan masterplan ini juga melibatkan disiplin ilmu lain, seperti ilmu budaya dan ekonomika bisnis. Dalam hal ini, turut dikaji identifikasi potensi pada aspek sosial budaya dan dirancangnya Business Model Canvas sebagai gambaran awal skema pengelolaan yang dapat dipertimbangkan ke depan. Menanggapi paparan rancangan, Sekretaris Sementara Omah Tani, Pak Badan, menyampaikan pandangannya. "Hal pertama yang dipikirkan ketika melihat masterplan wisata harapannya adalah kehidupan yang sejahtera," ujarnya.

Program ini merupakan bagian dari upaya mendukung sejumlah tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 11 mengenai Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Hasil ini adalah rancangan awal yang Mahasiswa KKN-T IDBU 69 harapkan dapat menjadi salah satu bahan acuan bagi pengembangan kawasan PSDKU UNDIP Batang ke depannya.


Editor:
Achmad Munandar

Senin, 17 Agustus 2026

KKN-T 109 Komunitas Berdaya Undip Dorong Kemandirian Ekonomi dan Kesiapan Kerja Penerima Manfaat PPS Mardi Utomo



Loetju.id - Semarang - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 109 Komunitas Berdaya Universitas Diponegoro (Undip) berupaya mendorong kemandirian Penerima Manfaat (PM) di Panti Pelayanan Sosial (PPS) Mardi Utomo, Kelurahan Kramas, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, melalui penguatan kapasitas usaha dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

Upaya tersebut diwujudkan melalui rangkaian program Domain 2 yang dirancang berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pihak panti. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa para PM telah memiliki beragam keterampilan dan aktivitas produktif, mulai dari produksi makanan, kerajinan, pengolahan pupuk kompos, hingga kegiatan perdagangan. Namun, potensi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti belum konsistennya kualitas produk, keterbatasan pemasaran, pengelolaan keuangan yang belum optimal, serta rendahnya kepercayaan diri sebagian PM ketika berinteraksi dengan konsumen.

Selain penguatan pada aspek usaha, sebagian PM usia produktif juga masih memerlukan pembekalan mengenai sikap dan perilaku yang dibutuhkan untuk memasuki serta mempertahankan pekerjaan. Berdasarkan kondisi tersebut, Tim KKN-T 109 menyusun program yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga pada kemampuan mengelola, memasarkan, dan mengembangkan usaha serta mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.


Standarisasi Mutu Dorong Konsistensi Kualitas Produk PM
Salah satu fokus utama Domain 2 adalah penguatan kualitas produk melalui standarisasi mutu dan penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sederhana. Tim KKN-T 109 memperkenalkan konsep Quality Control (QC) kepada PM agar proses pengecekan produk dapat dilakukan secara lebih sistematis sebelum produk dipasarkan.

Pendampingan dilakukan melalui pengenalan alur pemeriksaan mutu dan penyusunan panduan QC yang disesuaikan dengan karakteristik produk PM. Melalui panduan tersebut, PM diarahkan untuk memperhatikan beberapa aspek dasar, seperti kondisi fisik, kebersihan, kerapian, kelayakan produk, hingga kesesuaian hasil dengan standar yang telah ditentukan.

Program ini diharapkan dapat membantu PM menjaga konsistensi kualitas produk sekaligus meningkatkan kelayakan jual dan daya saing hasil karya mereka. Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 9, Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, khususnya melalui penguatan proses produksi dan penerapan inovasi sederhana yang mendukung keberlanjutan usaha.


Pemasaran Digital Perluas Jangkauan Produk PM
Penguatan usaha juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas pemasaran. Tim KKN-T 109 membantu memperkenalkan produk hasil karya PM melalui media sosial @galeri.mardiutomo sebagai sarana publikasi sekaligus media promosi produk.

Pemanfaatan media digital diarahkan untuk membantu produk PM menjangkau calon konsumen di luar lingkungan panti. Selain publikasi produk, Tim KKN-T 109 turut mendukung penyebarluasan informasi mengenai Pasar Srawung yang dilaksanakan pada  05/07/2026 sehingga kegiatan perdagangan yang melibatkan PM dapat diketahui oleh masyarakat secara lebih luas.


Pendekatan tersebut tidak berhenti pada pemasaran melalui media sosial. PM yang menjalankan aktivitas perdagangan juga memperoleh pendampingan melalui program Behavioral Coaching Marketing. Dalam kegiatan ini, PM diajak berlatih secara langsung untuk menyapa konsumen, membuka percakapan, menawarkan produk, menjelaskan keunggulan produk, serta membangun keberanian dalam berinteraksi dengan calon pembeli.

Melalui praktik tersebut, pemasaran tidak hanya dipahami sebagai kegiatan menawarkan barang, tetapi juga sebagai proses membangun komunikasi dan kepercayaan dengan konsumen. Penguatan keterampilan ini mendukung SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kapasitas PM dalam menjalankan aktivitas ekonomi secara lebih aktif dan adaptif.


Perencanaan Usaha dan Digitalisasi Transaksi Perkuat Pengelolaan UMKM
Selain produksi dan pemasaran, kemampuan mengelola usaha menjadi bagian penting dalam rangkaian Domain 2. Tim KKN-T 109 memberikan edukasi mengenai perencanaan usaha melalui Mini Business Plan serta pendampingan dalam penerapan pembayaran digital menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) selama periode KKN yaitu 29/06/2026 hingga 07/08/2026.


Melalui Mini Business Plan, PM diperkenalkan pada dasar-dasar pengelolaan usaha, mulai dari menghitung modal, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menentukan harga jual, memperkirakan keuntungan, hingga merencanakan penggunaan kembali sebagian keuntungan sebagai modal usaha.

Sementara itu, penerapan QRIS diperkenalkan sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan transaksi digital. Penggunaan sistem pembayaran non-tunai diharapkan dapat memberikan alternatif transaksi yang lebih praktis sekaligus meningkatkan kesiapan PM dalam mengikuti perkembangan pola perdagangan di era digital.

Penguatan kemampuan pengelolaan usaha dan adaptasi terhadap teknologi tersebut menjadi bagian dari kontribusi terhadap SDG 8, khususnya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta peningkatan kapasitas pelaku usaha.


Seminar Kesiapan Kerja Bekali PM Hadapi Dunia Profesional
Tidak hanya berfokus pada pengembangan usaha, Domain 2 juga memberikan perhatian terhadap kesiapan PM usia produktif untuk memasuki dunia kerja. Seminar Persiapan Kerja dilaksanakan pada 16/07/ 2026 dengan memberikan pemahaman mengenai berbagai sikap dan perilaku yang dibutuhkan dalam lingkungan kerja.

Materi yang diberikan mencakup kedisiplinan waktu, etika komunikasi, kerapian, kepatuhan terhadap aturan, kemampuan beradaptasi, tanggung jawab, serta sikap profesional. Pembekalan tersebut dirancang agar PM tidak hanya memahami cara mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memiliki kesiapan untuk mempertahankan pekerjaan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan kerja.

Kesiapan kerja menjadi bagian penting dalam mendorong kemandirian ekonomi PM. Dengan pemahaman mengenai perilaku kerja yang tepat, PM diharapkan mampu meningkatkan kesiapan dirinya untuk menghadapi lingkungan kerja formal maupun informal.


Literasi Keuangan Bekali PM dengan Pengelolaan Keuangan yang Lebih Terarah
Penguatan ekonomi PM juga dilengkapi dengan Seminar Literasi Keuangan yang dilaksanakan pada 23/07/2026. Kegiatan ini diarahkan tidak hanya pada pengelolaan keuangan usaha, tetapi juga pada kemampuan PM dalam mengelola keuangan secara lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan tersebut, PM mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan, mengatur pemasukan dan pengeluaran, menghindari pengeluaran konsumtif yang tidak terencana, serta mempertimbangkan penggunaan dan pengembangan aset yang dimiliki.

Literasi keuangan menjadi salah satu aspek penting dalam membangun ketahanan ekonomi, terutama bagi kelompok yang berada pada kondisi rentan. Oleh karena itu, program ini turut mendukung SDG 1, Tanpa Kemiskinan melalui penguatan kemampuan individu dalam mengelola sumber daya finansial dan mengurangi risiko permasalahan ekonomi di masa mendatang.


Behavioral Coaching Perkuat Kepercayaan Diri dalam Menghadapi Dunia Kerja
Penguatan kesiapan kerja kemudian dilanjutkan melalui Behavioral Coaching yang dilaksanakan pada 29/07/ 2026. Kegiatan ini menggunakan pendekatan yang lebih praktis dengan mengajak PM memahami dan mempraktikkan perilaku yang diperlukan ketika berada di lingkungan kerja maupun saat menjalankan aktivitas ekonomi.

Melalui simulasi dan latihan, PM diajak untuk mengenali cara berkomunikasi yang tepat, merespons situasi, menunjukkan sikap percaya diri, serta menghadapi berbagai kondisi yang mungkin muncul dalam interaksi kerja. Pendekatan berbasis praktik tersebut diharapkan dapat membantu PM menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh ke dalam situasi yang lebih nyata.

Rangkaian seminar dan coaching tersebut semakin memperkuat kontribusi Domain 2 terhadap SDG 8, khususnya dalam mendukung kesiapan tenaga kerja, peningkatan kapasitas individu, serta terciptanya peluang untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak.


Modul dan Panduan Jadi Bekal Keberlanjutan Program
Untuk mendukung keberlanjutan hasil program, Tim KKN-T 109 tidak hanya melaksanakan kegiatan secara tatap muka, tetapi juga menyiapkan sejumlah media pendukung yang dapat digunakan kembali oleh PM maupun pihak panti. Media tersebut meliputi Panduan Quality Control dan SOP QC, modul literasi keuangan, Mini Business Plan, modul kesiapan kerja, modul keterampilan pemasaran, serta panduan penggunaan QRIS.

Penyediaan media pendukung tersebut diharapkan dapat membantu PM mengulang dan menerapkan materi secara mandiri setelah rangkaian pendampingan KKN-T berakhir. Dengan demikian, program tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga memberikan bekal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pengembangan kapasitas PM secara berkelanjutan.

Melalui integrasi penguatan kualitas produk, pemasaran, pengelolaan usaha, literasi keuangan, hingga kesiapan kerja, Domain 2 KKN-T 109 Komunitas Berdaya Undip berupaya mendorong kemandirian PM PPS Mardi Utomo secara lebih menyeluruh. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu PM mengoptimalkan potensi yang telah dimiliki sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mengelola usaha, memanfaatkan teknologi, berinteraksi dengan konsumen, dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Rangkaian program yang berkontribusi terhadap SDG 1, SDG 8, dan SDG 9 tersebut menjadi bagian dari upaya Tim KKN-T 109 Komunitas Berdaya Undip dalam membangun kapasitas PM agar mampu berkembang secara lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.



Editor:
Achmad Munandar

Kolaborasi KKN-T 106 UNDIP X Pertamina: Sulap Sampah Plastik Jadi Paving Block Bernilai Ekonomi

 


Loetju.id - Semarang, 2 Agustus 2026 – Tim KKN-T 106 Universitas Diponegoro (UNDIP) berkolaborasi dengan PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Semarang menggelar sosialisasi bertajuk "Plastic to Paving" di Balai Kelurahan Pedurungan Tengah, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini mengundang warga RW 06 dan diikuti sekitar 20 peserta, sebagai upaya mengubah sampah plastik rumah tangga yang selama ini kurang bernilai ekonomi menjadi paving block yang bermanfaat dan bernilai jual.

Kegiatan ini penting dilakukan mengingat sampah plastik tergolong sulit terurai secara alami dan membutuhkan waktu 100–500 tahun bahkan lebih untuk terdegradasi. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah plastik dapat mencemari lingkungan, mengganggu ekosistem, hingga menimbulkan risiko kesehatan bagi warga sekitar. Melalui sosialisasi ini, Tim KKN-T 106 UNDIP berharap warga RW 06 tidak hanya memahami dampak sampah plastik, tetapi juga mampu mengelolanya secara mandiri menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus menambah nilai ekonomi rumah tangga.

Acara dibuka dengan sambutan Ketua RW 06, yang mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN-T 106 UNDIP dan Pertamina dalam mengedukasi warga soal pengelolaan sampah. 

"Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena warga jadi lebih paham bahwa sampah plastik yang selama ini dianggap tidak berguna, ternyata bisa diolah menjadi paving block yang bermanfaat untuk lingkungan RW 06. Semoga ilmu ini bisa terus diterapkan warga setelah kegiatan KKN selesai," ujar Bapak Sigit, Ketua RW 06 Kelurahan Pedurungan Tengah. 


Sebelum masuk ke pemaparan materi, panitia terlebih dahulu melaksanakan pre-test kepada seluruh peserta untuk mengukur pemahaman awal warga mengenai sampah plastik. Materi kemudian disampaikan oleh Christian Manuel Siregar, mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Diponegoro selaku penanggung jawab program. Christian menjelaskan bahwa tidak semua sampah anorganik memiliki nilai ekonomi, dan justru sampah-sampah rendah nilai jual seperti plastik kresek, bungkus sachet, dan kemasan snack itulah yang berpotensi besar diolah menjadi paving block. 

"Selama ini banyak warga menganggap sampah plastik seperti bungkus sachet dan kresek hanya bisa dibakar atau dibuang begitu saja. Padahal kalau diolah dengan cara yang tepat, sampah-sampah ini bisa jadi paving block yang kuat dan bisa dipakai untuk kebutuhan lingkungan RW 06 sendiri, bahkan punya nilai jual," ujar Christian.

Kegiatan ini turut didampingi oleh tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-T 106 UNDIP yang terdiri atas Ir. Joko Mariyono, M.P., Ph.D., Annisa Firdauzi, S.P., M.P., dan Pramesti Megayana, S.P., M.Sc. Ir. Joko Mariyono selaku Ketua DPL, mengapresiasi program ini sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. 


"Program pengolahan sampah plastik menjadi paving block ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya membawa ilmu dari kampus, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata dan aplikatif atas persoalan sampah yang dihadapi masyarakat sehari-hari," ungkap Bapak Joko Mariyono.

Di akhir kegiatan, panitia kembali membagikan post-test kepada peserta untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti sosialisasi. Hasil post-test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman warga dibandingkan hasil pre-test, khususnya terkait pengetahuan bahwa sampah plastik dapat diolah menjadi paving block beserta manfaatnya bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial warga RW 06.

Melalui kolaborasi KKN-T 106 UNDIP dan PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Semarang ini, warga RW 06 Kelurahan Pedurungan Tengah diharapkan dapat terus menerapkan pengetahuan yang didapat untuk mengelola sampah plastik rumah tangga secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat di lingkungan sekitar.



Editor:
Achmad Munandar

KKN TIM II UNDIP Kembangkan Peta Administrasi Desa Pundungrejo Berbasis QR Code




Loetju.id - Sukoharjo – Informasi mengenai wilayah desa menjadi salah satu hal penting dalam mendukung tertib administrasi dan pelayanan kepada masyarakat. Melalui program multidisiplin, mahasiswa KKN TIM II Universitas Diponegoro mengembangkan Peta Administrasi Desa Pundungrejo berbasis QR Code sebagai media informasi mengenai wilayah dan berbagai fasilitas yang terdapat di Desa Pundungrejo, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

Peta administrasi tersebut disusun dan diserahkan kepada Pemerintah Desa Pundungrejo pada Kamis, 30 Juli 2026 bertempat di Balai Desa Pundungrejo. Dalam kesempatan tersebut, peta diterima langsung oleh Kepala Desa Pundungrejo, Bapak Supandi, bersama perangkat desa lainnya. Peta ini memuat informasi mengenai batas wilayah desa, batas RW, jaringan jalan, sungai, fasilitas umum, sekolah, tempat ibadah, fasilitas kesehatan, kantor desa, serta sejumlah lokasi penting lainnya.

Tidak hanya menampilkan informasi wilayah, peta juga dilengkapi dengan QR Code yang terhubung dengan website resmi Desa Pundungrejo. Dengan fitur tersebut, masyarakat dapat mengakses informasi digital mengenai desa dengan lebih mudah hanya melalui telepon pintar.

Dalam program ini, Chaezarani Hijrinalis, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, turut berkontribusi dalam mengaitkan penyusunan peta dengan aspek hukum pemerintahan desa. Peta administrasi memiliki kaitan dengan kepastian batas wilayah serta tertib administrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.


Dari sisi hukum, penyusunan peta mengacu pada sejumlah ketentuan mengenai pemerintahan desa, administrasi pemerintahan desa, serta penetapan dan penegasan batas desa. Beberapa dasar hukum yang menjadi rujukan antara lain Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 45 Tahun 2016 tentang Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Desa, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 47 Tahun 2016 tentang Administrasi Pemerintahan Desa.

Penggunaan QR Code menjadi salah satu upaya untuk membuat peta administrasi lebih mudah diakses dan tidak hanya berfungsi sebagai media informasi secara visual. Masyarakat dapat mengenali wilayah desa sekaligus memperoleh informasi tambahan melalui website resmi Desa Pundungrejo.

Peta administrasi tersebut kemudian diserahkan kepada perangkat Desa Pundungrejo untuk dapat dimanfaatkan sebagai media informasi wilayah. Keberadaan peta diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali batas wilayah, fasilitas umum, serta berbagai lokasi penting yang terdapat di desa.

Bagi pemerintah desa, peta ini juga dapat menjadi salah satu media pendukung dalam penyampaian informasi kepada masyarakat dan membantu terciptanya administrasi pemerintahan desa yang lebih tertib.

Melalui program ini, mahasiswa KKN TIM II UNDIP berupaya memanfaatkan teknologi untuk menjawab kebutuhan informasi di tingkat desa. Peta Administrasi Desa Pundungrejo berbasis QR Code diharapkan dapat terus dimanfaatkan dan diperbarui sesuai dengan perkembangan informasi wilayah serta kebutuhan Pemerintah Desa Pundungrejo.


Editor:
Achmad Munandar

Inovasi Pendidikan Jasmani: Mahasiswa KKNT-106 Undip Kenalkan 'Flag Football' Tanpa Benturan di SDN Pedurungan Tengah 02





Loetju.id - Semarang – Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) 106 Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan program inovasi pendidikan jasmani melalui pengenalan olahraga flag football (sepak bola bendera) kepada siswa kelas VI di SDN Pedurungan Tengah 02, Kota Semarang. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (27/7/2026) ini didukung penuh oleh Pertamina Patra Niaga sebagai bentuk sinergi dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan generasi muda.

Program pengabdian masyarakat ini berjalan di bawah bimbingan tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang terdiri atas Ir. Joko Mariyono, M.P., Ph.D., Annisa Firdauzi, S.P., M.P., dan Pramesti Megayana, S.P., M.Sc. Kehadiran dan arahan dari para akademisi ini bertujuan untuk memastikan agar inovasi yang digagas oleh mahasiswa tidak sekadar menjadi formalitas akademik, tetapi mampu diterapkan dan memberikan manfaat yang berkesinambungan bagi masyarakat sasaran.

Inisiatif pengenalan olahraga ini diketuai oleh Jaziel Abyaz Audrio, mahasiswa Program Studi Teknik Komputer Undip angkatan 2023 yang bertindak sebagai Penanggung Jawab (PIC) program. Berbekal rekam jejak dan pengalamannya sebagai atlet flag football yang pernah berprestasi di kompetisi tingkat kota hingga nasional, Jaziel menyusun kurikulum pelatihan dasar yang mudah dipahami, terstruktur, dan aman untuk anak usia sekolah dasar.


"Melalui program KKN ini, saya merasa terpanggil untuk menyalurkan ilmu dan keahlian yang saya kuasai di lapangan kepada adik-adik di sini. Saya berharap pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki bisa menginspirasi mereka untuk mengenal olahraga kompetitif yang seru, sekaligus mengajarkan kerja sama tim dan strategi tanpa perlu khawatir dengan risiko cedera fisik," ungkap Jaziel.


Pemilihan flag football sebagai inovasi didasari oleh sifat permainannya yang menghindari benturan fisik (non-contact). Berbeda dengan American football konvensional, tindakan menjatuhkan lawan (tackle) diganti dengan mencabut bendera yang terpasang pada sabuk pinggang pemain. Program ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kebugaran kardiovaskular, serta Tujuan 4 (Pendidikan Bermutu) dengan menghadirkan metode pembelajaran luar ruang yang interaktif.

Siswa kelas 6 SDN Pedurungan Tengah 02 saat melakukan pertandigan simulasi
flag footballdi bawah arahan mahasiswa KKNT-106 UNDIP, Senin (27/7/2026). 

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKNT Undip mengawali kegiatan dengan pemanasan dinamis guna mencegah risiko cedera otot. Setelah itu, Jaziel memandu langsung para siswa dalam sesi latihan dasar (drills) yang mencakup teknik berlari (running), ketangkasan menangkap bola (catch), dan teknik bertahan dengan mencabut bendera lawan (deflag). Sebagai penutup, para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mempraktikkan keterampilan tersebut dalam pertandingan simulasi (scrimmage game).

Dampak dari pelatihan ini langsung terlihat pada perubahan dinamika dan antusiasme siswa di lapangan. Pertandingan simulasi terbukti tidak hanya merangsang keaktifan motorik anak secara signifikan, tetapi juga menjadi sarana krusial dalam pembentukan karakter.

Di tengah lapangan, para siswa dituntut untuk mengasah kemampuan kognitif dan mengambil keputusan strategis dengan cepat. Lebih dari itu, olahraga ini sukses menumbuhkan kemampuan kerja sama tim (teamwork). Para siswa belajar untuk menekan ego, berkomunikasi dengan baik, memercayai rekan satu regu, serta menjunjung tinggi nilai sportivitas tanpa dihantui oleh risiko kekerasan.

Kolaborasi sinergis antara mahasiswa KKNT-106 Undip, SDN Pedurungan Tengah 02, dan kepedulian sosial Pertamina Patra Niaga ini diharapkan mampu memantik minat jangka panjang siswa terhadap ragam olahraga baru, sekaligus menanamkan kebiasaan hidup sehat dan disiplin secara berkelanjutan di masa depan.


Penulis:
Jaziel Abyaz Audrio

Editor:
Achmad Munandar

Minggu, 16 Agustus 2026

Mahasiswa KKN T 82 UNDIP Dampingi UMKM Langensari Lewat Program “Pesta Rakyat”



Loetju.idUngaran Barat, 2 Agustus 2026  -  Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata - Tematik (KKN - T) Tim 82 Universitas Diponegoro (UNDIP) sukses menjalankan program kerja bertajuk “Pesta Rakyat” di Kelurahan Langensari, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Program ini merupakan gabungan dari 30 program kerja individu yang dirancang oleh mahasiswa dari sembilan fakultas berbeda dengan satu tujuan utama mendampingi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.


Kegiatan ini menggabungkan bazzar UMKM dengan berbagai perlombaan untuk anak kecil hingga orang tua dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan. Perpaduan ini menjadi semakin meriah dengan adanya berbagai hadiah menarik bagi pemenang lomba. Selain menjadi sarana hiburan dan mempererat kebersamaan antar warga, kegiatan ini juga di rancang untuk menjawab berbagai persoalan yang di hadapi UMKM. 

Berbagai persoalan yang ada mulai dari minimnya pemantauan kesehatan, kemasan produk yang kurang menarik, sistem pendataan bazaar yang masih dilakukan manual, hingga rendahnya pemahaman soal legalitas usaha dan pengelolaan keuangan. Pelaku UMKM pangan dan warga sekitar menjadi sasaran utama sehingga diharapkan melalui program ini dapat memberi dampak yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Salah satu program yang menjadi sorotan adalah screening kesehatan gratis yang usung oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran. Kegiatan ini mencakup pengukuran lingkar perut, berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), gula darah, hingga tekanan darah bagi pelaku UMKM dan warga sekitar. Setiap peserta juga menerima kartu hasil pemeriksaan sebagai catatan status kesehatan pribadi.

“Masih banyak pelaku UMKM yang belum pernah memantau status gizinya secara berkala. Melalui skrining ini, mereka jadi tahu kondisi kesehatannya sejak dini,” ujar Suyanto, Kepala Kelurahan Langensari.

Selain itu, mahasiswa Agribisnis turut andil memperbaiki kemasan produk UMKM agar lebih menarik sekaligus menyusun katalog produk unggulan desa berdasarkan hasil observasi dan wawancara secara langsung dengan pelaku usaha.

Pada bidang digitalisasi mahasiswa Manajemen merancang strategi promosi digital bagi tenant bazaar mulai dari melakukan pendataan, dokumentasi produk, hingga publikasi di media sosial. Sementara itu mahasiswa Teknik Komputer mengembangkan sistem pendaftaran digital berbasis web serta sistem voting digital untuk pemilihan booth favorit yang dilengkapi kode QR.

“Selama ini pendataan peserta bazaar masih dilakukan manual dan memakan waktu lama. Dengan sistem digital, prosesnya jadi lebih cepat dan tertata,” kata salah satu mahasiswa KKN dari Teknik Komputer.

Mahasiswa Teknik Geologi turut berkontribusi dengan menyusun peta geomorfologi desa berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) serta master map digital interaktif untuk memandu alur pengunjung expo UMKM.

Dari sisi legalitas, mahasiswa Fakultas Hukum memberikan pendampingan terkait Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat halal, izin edar, hingga pendaftaran merek. Mahasiswa juga menyusun Standard Operating Procedure (SOP) dan tata tertib acara, pos pengaduan dan informasi, serta basis data digital untuk pendataan tenant secara terintegrasi guna mengantisipasi potensi pelanggaran selama bazaar berlangsung.

Mahasiswa Sekolah Vokasi mendorong penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran yang praktis dan aman serta memberikan edukasi mengenai pencatatan keuangan, hingga pemisahan keuangan usaha dan pribadi. Di sisi lain, mahasiswa Psikologi turun langsung melakukan survei kepuasan pengunjung terhadap pelayanan tenant UMKM sebagai bahan rekomendasi peningkatan kualitas pelayanan ke depan.

Ketua KKN Tim 82 UNDIP Izzan, berharap seluruh hasil program dapat terus dimanfaatkan oleh warga dan pelaku UMKM Langensari.

“Harapannya, apa yang kami tinggalkan bukan sekadar seremonial kegiatan, tapi benar-benar bisa dipakai dan dikembangkan lebih lanjut oleh warga dan pelaku UMKM Langensari,” ujarnya.

Kegiatan ini di tutup dengan sesi dokumentasi bersama dan penyerahan hadiah bagi pemenang lomba. Terimakasih kepada seluruh pihak termasuk Dosen Pembimbing Lapanagn (DPL), Kepala Kelurahan, serta warga yang sudah berkontribusi pada kegiatan ini.


Penulis/Reporter: Mahasiswa KKN – T 82 UNDIP
Fotografer: Mahasiswa KKN – T 82 UNDIP
Kontak Media / Humas Kelompok: @langensarimengabdi

Comika

Politika

Gen Z