Loetju.id - Semarang, 1 Agustus 2026 - Inovasi pangan tidak lahir dalam satu kali percobaan. Hal tersebut ditunjukkan oleh mahasiswa KKN Tematik Tim 106 Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui pengembangan abon bonggol pisang yang melewati serangkaian proses research and development (R&D), mulai dari trial awal, evaluasi, perbaikan, hingga menghasilkan produk yang siap diperkenalkan kepada masyarakat.
Program pengembangan abon bonggol pisang merupakan bagian dari kegiatan KKN-T 106 UNDIP yang berkolaborasi dengan PT Pertamina Patra Niaga dalam mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping pohon pisang menjadi produk pangan bernilai tambah. Inovasi tersebut memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di Kelurahan Pedurungan Tengah sekaligus menjadi upaya untuk mengenalkan proses pengembangan inovasi pangan kepada masyarakat.
Proses pengembangan diawali dengan trial pertama untuk mengetahui karakteristik awal abon bonggol pisang. Hasil percobaan kemudian dievaluasi berdasarkan beberapa aspek penting, yaitu tekstur, warna, dan rasa. Dari hasil evaluasi tersebut, mahasiswa mengidentifikasi bagian produk yang masih perlu diperbaiki sebelum dapat diperkenalkan kepada masyarakat. Berdasarkan hasil evaluasi, mahasiswa melakukan trial lanjutan dengan menerapkan berbagai perbaikan terhadap produk. Penyempurnaan dilakukan pada keseluruhan karakteristik abon, mulai dari tekstur, warna, hingga rasa. Proses tersebut dilakukan secara bertahap hingga diperoleh produk akhir dengan karakteristik yang lebih baik dan siap diperkenalkan dalam kegiatan sosialisasi.
Mahasiswa KKN-T Tim 106 UNDIP saat proses persiapan bahan baku dan pembuatan Abon Bonggol Pisang, Sabtu (01/08/2026). (Foto: Dokumentasi Tim KKN-T 106 UNDIP)
Rangkaian trial tersebut menjadi bagian penting dalam proses R&D. Mahasiswa tidak hanya berfokus pada menghasilkan produk akhir, tetapi juga menerapkan tahapan percobaan, evaluasi, identifikasi kekurangan, dan penyempurnaan produk. Proses inilah yang menjadi dasar lahirnya inovasi abon bonggol pisang. Setelah melalui proses pengembangan, produk abon bonggol pisang kemudian diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan sosialisasi pada Sabtu, 1 Agustus 2026, bertempat di Toko PKK RW 08, Kelurahan Pedurungan Tengah. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri atas PKK RW 08, Kelompok Tani Mulyo, Karang Taruna, dan perangkat Kelurahan Pedurungan Tengah.
Kegiatan diawali dengan pengenalan bonggol pisang sebagai bahan baku yang dapat dimanfaatkan menjadi produk pangan. Mahasiswa menjelaskan karakteristik bahan, kandungan gizi, manfaat, hingga proses pengolahannya. Penyampaian materi juga didukung dengan video interaktif yang memperlihatkan tahapan pembuatan abon bonggol pisang dari awal hingga siap dikonsumsi. Peserta kemudian diberikan kesempatan untuk melakukan uji cita rasa terhadap produk yang telah dikembangkan. Sesi tersebut mendapat tanggapan positif dan mendorong diskusi mengenai potensi pengembangan produk di masa mendatang.
Salah satu peserta, Bu Mul, mengaku baru mengetahui bahwa bonggol pisang yang selama ini kerap dianggap sebagai bagian yang tidak terpakai ternyata dapat diolah menjadi produk pangan. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan bahan yang sebelumnya sering dibuang.
“Wah, ternyata bonggol pisang yang biasanya dibuang bisa dimasak dan dijadikan makanan juga, ya. Baru tahu kalau ternyata bisa diolah seperti ini. Ke depannya mungkin bisa dikembangkan lagi dengan varian rasa lain, misalnya rasa pedas, supaya lebih banyak pilihan,” ujar Bu Mul.
Dari Produk hingga Pemahaman tentang Inovasi
Impact utama dari kegiatan ini tidak hanya berupa diperkenalkannya produk abon bonggol pisang kepada masyarakat, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat mengenai bagaimana sebuah inovasi pangan dikembangkan.
Melalui kegiatan sosialisasi, masyarakat diperkenalkan pada proses bahwa sebuah produk pangan membutuhkan tahapan trial, evaluasi, dan penyempurnaan sebelum dapat diterapkan dan diperkenalkan secara lebih luas. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya melihat abon bonggol pisang sebagai produk jadi, tetapi juga memahami bahwa proses R&D merupakan fondasi penting dalam menghasilkan inovasi pangan.
Hal tersebut menjadi salah satu nilai utama dari kegiatan ini. Masyarakat diajak untuk melihat bahwa pemanfaatan potensi lokal tidak berhenti pada ide, tetapi membutuhkan proses pengembangan agar dapat menghasilkan produk yang memiliki kualitas dan nilai tambah.
Benedicta Praycillia Wardaniela, Seorang mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan angkatan 2023, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro yang terlibat dalam pengembangan produk menjelaskan bahwa proses R&D menjadi dasar penting dalam menghasilkan inovasi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi pangan bukan hanya tentang menghasilkan sebuah produk, tetapi juga tentang bagaimana produk tersebut dikembangkan melalui proses trial dan evaluasi sehingga bisa menghasilkan produk yang lebih baik dan bisa diterima oleh masyarakat.”
Selain memberikan pemahaman mengenai inovasi pangan, kegiatan ini juga berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap hasil samping pohon pisang. Bonggol pisang yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk pangan bernilai tambah dan berpotensi dikembangkan sebagai peluang usaha berbasis potensi lokal.
Inovasi Pangan untuk Mendukung SDGs
Pengembangan abon bonggol pisang juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN-T 106 UNDIP dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini secara khusus berkaitan dengan SDGs 2: Zero Hunger, SDGs 8: Decent Work and Economic Growth, SDGs 9: Industry, Innovation and Infrastructure, serta SDGs 12: Responsible Consumption and Production.
SDGs 9 menjadi salah satu fokus utama melalui penerapan proses R&D dalam mengembangkan produk pangan berbasis potensi lokal. Proses trial, evaluasi, dan penyempurnaan menunjukkan penerapan inovasi untuk menghasilkan produk yang lebih baik. Sementara itu, pemanfaatan bonggol pisang sebagai bahan baku pangan turut mendukung SDGs 12 melalui upaya meningkatkan pemanfaatan hasil samping dan mendorong konsumsi serta produksi yang lebih bertanggung jawab. Inovasi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan SDGs 8 karena pengembangan produk bernilai tambah dari potensi lokal dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Di sisi lain, pemanfaatan bahan pangan lokal dan diversifikasi produk turut mendukung SDGs 2.
Kolaborasi antara mahasiswa KKN-T 106 UNDIP dan PT Pertamina Patra Niaga dalam program ini menjadi bentuk sinergi dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Lurah Pedurungan Tengah, Lisetya Budi, S.IP., M.M., turut mengapresiasi kolaborasi tersebut dan berharap pendampingan dapat terus berlanjut agar produk yang dihasilkan semakin berkualitas dan berpotensi menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat.
Program ini dilaksanakan di bawah pendampingan Tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Ir. Joko Mariyono, M.P., Ph.D., Annisa Firdauzi, S.P., M.P., dan Pramesti Megayana, S.P., M.Sc. Pendampingan tersebut diarahkan agar inovasi mahasiswa tidak berhenti sebagai luaran KKN, tetapi dapat diimplementasikan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN-T 106 Universitas Diponegoro, PT Pertamina Patra Niaga, Pemerintah Kelurahan Pedurungan Tengah, dan masyarakat, abon bonggol pisang menjadi lebih dari sekadar produk hasil KKN. Inovasi ini menjadi bukti bahwa R&D dapat menjadi fondasi dalam mengembangkan potensi lokal menjadi produk pangan bernilai tambah, sekaligus menjadi media edukasi bagi masyarakat bahwa sebuah inovasi membutuhkan proses, evaluasi, dan penyempurnaan sebelum dapat memberikan manfaat nyata.
Penulis:
Benedicta Praycillia Wardaniela
Teknologi Pangan Angkatan 2023, Universitas Diponegoro.
Editor:
Achmad Munandar
Achmad Munandar


