Comedy, Indie and Creativity: Indie
Tampilkan postingan dengan label Indie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indie. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2026

Nevenue and All Birds Are Onion Rilis Single Kolaborasi Unsafe Zone You Could Enter

 



Loetju.idTulungagung, 24 Maret 2026 – Nevenue dan All Birds Are Onion, dua nama dari ranah alternative emo Tulungagung, Jawa Timur, kembali hadir melalui rilisan kolaborasi bertajuk "Unsafe Zone You Could Enter". Nevenue yang beranggotakan Figo (vokal), Raka (drum), Kindi (bass), Vikry (gitar), dan Izar (gitar) ini berkolaborasi dengan All Birds Are Onion untuk mengkombinasikan sound gitar twinkle dari midwest emo dengan dream pop emo untuk hasil sound yang dreamy namun intim . Single ini rencananya akan dirilis secara digital pada 24 April 2026 dengan menawarkan eksplorasi sound yang unik yang menjadi penanda pertama kolaborasi resmi mereka setelah sebelumnya bergerak terpisah di skena musik Tulungagung. Tanggal rilis ini juga bertepatan dengan sehari sebelum penampilan mereka di Acara Keluarga Midwest #1 di Malang.

Single “Unsafe Zone You Could Enter” lahir dari upaya menciptakan ruang aman di tengah wilayah emosional yang justru terasa rawan. Tema ini terinspirasi dari pengalaman personal tentang dikotomi antara keinginan untuk terbuka dan rasa takut akan konsekuensi yang menyertainya. Lirik yang ditulis oleh Onny Alberto menggambarkan pergulatan batin yang abstrak namun membumi, dibungkus dalam aransemen twinkly midwest emo yang melankolis namun eksplosif.

“Lagu ini sebenarnya berbicara tentang keberanian untuk memasuki zona yang tidak nyaman. Kita sering kali merasa aman di zona yang sudah dikenal, tapi kadang pertumbuhan justru terjadi saat kita berani melangkah ke tempat yang belum tentu nyaman. Judulnya ‘Unsafe Zone You Could Enter’ itu paradoks, karena justru di situ kita bisa menemukan versi baru dari diri sendiri,” ujar Onny Alberto 


Secara musikal, kolaborasi ini melibatkan produksi bersama oleh Nevenue dan All Birds Are Onion. Proses rekaman dilakukan oleh Muhammad Izar Runnaja, sementara mixing dan mastering dipercayakan kepada Febri Antonia di Orvius Soundlab. Hasilnya adalah perpaduan rapi antara kekuatan vokal yang emosional dengan dinamika instrumentasi yang cair, sesuatu yang menjadi ciri khas kedua band ketika bersatu. Dalam prosesnya, mereka memilih mengerjakan sendiri seluruh tahapan agar nuansa kolaborasi terasa otentik. Mulai dari produksi, rekaman, hingga desain visual, semuanya dilibatkan langsung. Cover foto sendiri digarap oleh Ananda Elang Caraka dan Onny Alberto, sehingga dari awal sampai akhir karya ini benar-benar mencerminkan visi bersama.

Single “Unsafe Zone You Could Enter” akan tersedia di berbagai platform streaming digital mulai 24 April 2026.-alfan-


Tentang Nevenue dan Onny Alberto

Nevenue adalah band emo/alternative asal Tulungagung yang terbentuk pada 2024, dengan formasi Raka (drum), Kindi (bass), Vickry dan Izar (gitar), serta Figo (vokal). Mereka mengusung perpaduan ambient pop, emo, dan rock alternatif dengan pendekatan atmosferik dan emosional yang kuat. Debut mereka ditandai lewat single “Endless Goodbye” (2025), yang mengangkat tema kehilangan dan perpisahan yang terasa tak berujung. Dalam fase awal perjalanannya, Nevenue juga merencanakan kolaborasi dengan proyek/band All Birds Are Onion bersama Onny Alberto sebagai langkah eksplorasi lanjutan sebelum menggarap EP perdana mereka, menandai keterbukaan mereka terhadap kolaborasi lintas proyek di skena independen


Sabtu, 25 April 2026

Sedang Jatuh Cinta, Silly Fragments Ungkap Perasaan Lewat Meant to Stay




Loetju.idMalang - Band pop alternatif asal Malang, Silly Fragments, resmi merilis single terbarunya bertajuk “Meant to Stay” di tanggal 22 April 2026. Beranggotakan para remaja wanita hebat yakni Alodia Amoreta (vokal & gitar), Dania Almayra (vokal & bass), Aretha Puspa (gitar), dan Nabila Asyla (drum), single ini merupakan karya kedua mereka setelah merilis “And Remains...” di tahun 2025.

“Meant to Stay” menceritakan tentang rasa suka yang tumbuh cepat dan dalam terhadap seseorang yang terasa berbeda hingga tanpa sadar kita mulai mengikuti dunianya. Ditulis oleh sang bassist yakni Dani yang terinspirasi oleh pengalaman pribadinya, “Meant to Stay” merupakan lagu bergenre pop alternatif dengan sentuhan nuansa dream-pop lewat reverb gitar yang ringan serta melodi yang catchy.

“Lagu ini udah ditulis cukup lama, bahkan barengan sama “And Remains”, jadi bisa dibilang ini termasuk karya yang udah kita simpan dan tunggu momennya. Untuk proses rekamannya sendiri, jujur baru terealisasi sekarang,” ungkap Silly Fragments yang sedikit terkendala akibat adanya pergantian formasi personel. Puspa sebagai gitaris baru membutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi dengan melodi dan visi yang diinginkan untuk “Meant to Stay”. Setelah mengulik lagu ini serta menyesuaikan dengan gaya permainan gitarnya, “Meant to Stay” justru jadi salah satu lagu favorit Puspa. Lagu ini juga mengalami beberapa kali revisi seiring dengan masuknya berbagai saran dan eksperimen dari para personnel, hingga lahirlah hasil final yang kita nikmati sekarang.

Menulis lirik saat sedang dimabuk cinta menjadikan lagu “Meant to Stay” romantis sekaligus personal bagi Dani. Ia pun mengungkapkan bahwa sang pujaan hati cukup terkejut dan salah tingkah ketika tahu bahwa lagu ini menceritakan tentang hubungan mereka. Kepribadian, hobi, hingga selera musik yang berbeda antara sepasang kekasih seperti yang tertulis di lirik lagu tersebut, terasa relevan bagi para pendengar di luar sana.

“Harapan kami, lewat “Meant to Stay”, siapa pun yang denger baik yang lagi punya pasangan atau nggak tetap bisa ngerasain hangatnya jatuh cinta, atau setidaknya merasa “dianggap” dan “dicintai” lewat lagu ini,” kata mereka.

Lebih jauh, dengan single kedua ini Silly Fragments ingin terus belajar tentang industri musik baik dari segi produksi hingga penampilan di atas panggung. “Perjalanan manggung kita masih dalam tahap berkembang. Walaupun sudah beberapa kali tampil, kita sadar kalau interaksi dengan audiens masih bisa banget ditingkatkan. Ada sedikit kecanggungan ketika on stage, dengan semakin banyak manggung kita pengen membangun koneksi lebih kuat dengan penonton sehingga mereka juga merasakan energi dari Silly Fragments,” tutup band ini.

“Meant to Stay” bisa dinikmati di berbagai kanal streaming digital andalanmu dan jangan lupa pantau terus informasi terbaru dari Silly Fragments di akun @sillyfragments via Instagram atau Tiktok.


Profile Band Silly Fragments

Silly Fragments adalah band asal Kota Malang yang dibentuk pada awal tahun 2024 oleh empat gadis remaja. Band ini beranggotakan Alodia Amoreta Candra Kirana sebagai vokalis dan gitaris, Dania Almayra Chandra sebagai vokalis dan bassis, Aretha Puspa Indriani sebagai gitaris, serta Nabila Asyla sebagai drummer.

Silly Fragments berawal dari keinginan Alodia untuk membentuk sebuah band. Ia kemudian mengajak Dania, sahabatnya sejak SMP, untuk bergabung sebagai bassist. Dalam proses melengkapi formasi, Alodia sempat merasa kebingungan mencari gitaris yang tepat. Ia pun menanyakan kepada teman dekatnya apakah memiliki kenalan yang bisa mengisi posisi tersebut. Dari situlah, ia diperkenalkan kepada Aretha Puspa Indriani, yang kemudian bergabung sebagai gitaris. Sementara itu, Dania juga mengajak teman sekelasnya, Nabila, untuk mengisi posisi drummer, sehingga formasi band pun akhirnya lengkap.

Mengambil inspirasi dari band-band seperti Grrrl Gang dan Alvvays, Silly Fragments memilih genre alternative pop sebagai identitas musik mereka. Dengan semangat dan energi yang ceria, mereka siap mewarnai harimu melalui alunan musik yang seru dan penuh semangat.

Kamis, 23 April 2026

One More Light Rilis Save My Heart, Potret Kehilangan di Fase Paling Rapuh

 


Loetju.id - Malang, 23 April 2026 - Trio sophisti-pop asal Malang, One More Light, telah hadir kembali untuk memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Save My Heart”. Dirilis di DSP sejak 17 April 2026, lagu ini mengangkat narasi emosional tentang kehilangan, ketidakhadiran, dan kebutuhan akan dukungan di masa paling sulit dalam hidup. Lagu ini terinspirasi oleh pengalaman Rezy sendiri.

Single “Save My Heart bercerita tentang seorang wanita yang ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, tepat saat ia sedang berada di fase paling sulit dalam hidupnya. Di sisi lain, si lelaki merasa bahwa keputusannya untuk pergi adalah yang terbaik saat itu. Padahal, yang dibutuhkan si wanita hanyalah kehadiran lelaki tersebut di sampingnya untuk menyemangati dan membantunya menemukan cara untuk bangkit kembali. Cerita dari single ini terinspirasi dari masa lalu aku sendiri,” ujar Rezy 

Lagu ini dikomposeri sekaligus ditulis liriknya oleh Pradhita Wahyu Alfarezy (Rezy), dengan vokal dibawakan oleh Nindi Cahya Sahputra (Cahya). Aransemen gitar diisi oleh Randa Kresna Putra Pangestu (Randa) dan Rezy. Proses produksi melibatkan Decky Anugrah bersama seluruh personel, yaitu Rezy, Randa, dan Cahya, yang turut berperan sebagai produser. Rekaman dilakukan di Paraduta Record, sementara tahap mixing dan mastering ditangani oleh Rama Satria Mahriadi. Untuk aspek visual, artwork dikerjakan oleh Nindi Cahya Sahputra. Untuk band photo digarap di Kuy Studio. 

Setelah merilis single ini, One More Light berencana melanjutkan perjalanannya melalui rangkaian Road To Showcase atau hearing session sebagai langkah untuk lebih dekat dengan para pendengar. Melalui agenda ini, mereka ingin menghadirkan pengalaman mendengarkan yang lebih intim, sekaligus menjadi ruang interaksi langsung untuk membagikan cerita di balik lagu serta proses kreatif yang mereka jalani. 

“Setelah perilisan single ini, One More Light berencana menggelar rangkaian Road To Showcase atau hearing session,” ujar Randa. 

Single “Save My Heart” sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming digital. Dengarkan sekarang, bagikan ke teman terdekatmu, dan ikuti perjalanan One More Light menuju rangkaian Road To Showcase serta hearing session mereka selanjutnya.-alfan-

Rabu, 22 April 2026

Maestoso Rayakan 11 Tahun Perjalanan Musik dengan Merilis Single Terbaru “Karma”

 



Loetju.id - MALANG Band Japanese Rock asal Malang, MAESTOSO, resmi merilis single terbaru mereka bertajuk “Karma” pada 14 April 2026, bertepatan dengan momen spesial 11 tahun perjalanan band sejak pertama kali terbentuk pada 14 April 2015.

Perilisan ini menjadi penanda fase baru bagi MAESTOSO dalam merayakan lebih dari satu dekade eksistensi mereka di skena musik independen, sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan musikal yang terus berkembang dengan karakter khas Japanese rock yang emosional, gelap, dan teatrikal.

Lewat “Karma”, MAESTOSO mengangkat tema yang dekat dengan realitas sosial, yakni perundungan (bullying) serta konsekuensi dari setiap tindakan yang pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya. Lagu ini berbicara tentang luka yang ditinggalkan oleh kata-kata maupun perlakuan, sekaligus keyakinan bahwa setiap perbuatan memiliki akibat yang tak bisa dihindari.

“Karma” dibangun melalui aransemen gitar yang agresif dari Wima dan Yudha, lapisan bass yang solid dari Jordy, permainan drum dinamis dari Tama, serta sentuhan keyboard atmosferik dari Benny yang memperkuat nuansa dramatik lagu. Di atas fondasi tersebut, vokal emosional dari Satria menjadi medium utama dalam menyampaikan rasa sakit, amarah, dan pesan tentang hukum sebab-akibat.

“Karma adalah suara bagi mereka yang pernah direndahkan atau disakiti. Kami ingin menyampaikan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Cepat atau lambat, semuanya akan kembali,” ujar Satria, vokalis MAESTOSO.

Sebagai band yang dikenal dengan identitas visual dan musikal bernuansa Jepang, MAESTOSO tetap mempertahankan elemen emosional yang menjadi ciri khas mereka, namun kali ini dengan pendekatan yang lebih matang dan intens.

Single “Karma” sudah tersedia di seluruh digital streaming platforms (DSP) mulai 14 April 2026.

MAESTOSO
Japanese Rock Band from Malang, Indonesia

MAESTOSO adalah band Japanese rock asal Malang, Indonesia, yang terbentuk pada 14 April

2015. Mengusung konsep jejepangan dengan nuansa megah, gelap, emosional, dan teatrikal,
MAESTOSO menghadirkan warna musik yang terinspirasi dari karakter Japanese rock dengan sentuhan modern dan energi panggung yang intens.

Selama lebih dari satu dekade perjalanan bermusik, MAESTOSO konsisten membangun
identitas musikal yang kuat melalui perpaduan distorsi gitar yang agresif, melodi minor yang
melankolis, lapisan keyboard atmosferik, serta vokal ekspresif yang sarat emosi. Musik mereka banyak mengeksplorasi tema konflik batin, luka emosional, realitas sosial, hingga hukum sebab-akibat dalam kehidupan.

Band ini digawangi oleh enam personel:
Satria (Vokal),
Wima (Gitar 1),
Yudha (Gitar 2),
Jordy (Bass),
Benny (Keyboard),
Tama (Drum).

Kekompakan musikal dan chemistry antar personel menjadi fondasi utama dalam setiap karya
yang mereka ciptakan.

Pada 14 April 2026, bertepatan dengan 11 tahun perjalanan mereka, MAESTOSO merilis
single berjudul “Karma”, sebuah karya yang mengangkat tema perundungan (bullying) dan
konsekuensi dari setiap tindakan. Lagu ini menegaskan komitmen MAESTOSO untuk tidak
hanya menghadirkan musik yang kuat secara musikal, tetapi juga memiliki pesan yang relevan secara sosial.

Dengan konsep visual dan musikal yang khas, MAESTOSO terus berkembang sebagai
representasi Japanese rock di skena musik independen Malang dan Indonesia. Mereka
menargetkan pendengar pecinta Japanese culture, komunitas jejepangan, serta penikmat rock alternatif yang mencari pengalaman musikal yang emosional dan berbeda.

Kamis, 09 April 2026

Trio Emo Beeswax Hadir Kembali dengan Self Titled Album, Peringatan 12 Tahun Eksistensi Dalam Berkarya



Loetju.id - Malang, 10 April 2026 - Lama menjalani karirnya dengan tampil dan rilis single demi single setelah album ketiga, Beeswax kembali dengan sebuah album yang merangkum perjalanan panjang mereka melalui album penuh self titled Beeswax. Trio emotif yang terdiri dari Bagas Yudhiswa (vokal/gitar), Putra Vibrananda (vokal/bass), dan R. Yanuar Ade Laksono (drum) ini menghadirkan sebuah rilisan yang tidak sekadar nostalgia, melainkan juga refleksi mendalam atas evolusi musikal dan personal mereka yang hadir pada 10 April 2026.

Sebagai salah satu pionir dalam skena midwest emo di Indonesia, khususnya Jawa Timur, Beeswax telah menempuh perjalanan panjang yang kini memasuki tahun ke-12. Di mana usia 12 tahun ini sebuah proses yang tidak singkat dan dipenuhi dinamika, tantangan, serta berbagai pembaruan hingga membentuk reputasi mereka hari ini. Berawal sebagai proyek one-man band pada 2014, Beeswax kemudian berkembang menjadi kuartet di album kedua sampai album ketiga sebelum menjadi trio seperti sekarang, dengan identitas musikal yang sejak awal kuat dipengaruhi gelombang Midwest emo era 90-an dan emo revival global di era 2010an. Melalui album Beeswax ini, Beeswax tidak hanya menghadirkan karya terbaru, tetapi juga merayakan sekaligus mensyukuri perjalanan tersebut sebagai penanda penting atas evolusi musikal dan personal mereka yang kini hadir dengan kedewasaan baru.

Album self-titled ini menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini. Beeswax meninjau kembali dua rilisan awal mereka yaitu EP First Step dan LP Growing Up Late yang ditulis saat mereka masih berada di usia 20-an. Kini, 16 lagu dalam album ini diaransemen ulang untuk merepresentasikan perkembangan selera, pengalaman, dan kedalaman emosional yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun. 

“Album Beeswax ini kami hadirkan untuk mengingatkan kembali pada kami terutama kenapa dan bagaimana Beeswax lahir, di mana nggak terasa kami sudah berjalan 12 tahun,” ujar Bagas.

Rangkaian perilisan dimulai dengan single “THE BRIDGE OF THE EMPTYNESS” pada Februari 2026, diikuti oleh “TAKE ME HOME” pada Maret 2026 yang dirilis bertepatan dengan perayaan Idulfitri. Puncaknya, Beeswax merilis fokus track “THE MOST PATHETIC ONE ON PLANET” pada 10 April 2026 bersamaan dengan peluncuran album secara keseluruhan.

Di lagu “THE MOST PATHETIC ONE ON PLANET” Beeswax menghadirkan kolaborasi spesial bersama Alditsa Decca Nugraha alias Dochi Sadega, sosok yang dikenal luas melalui Pee Wee Gaskins. Kolaborasi ini lahir dari hubungan panjang yang telah terjalin serta kesamaan ketertarikan terhadap musik emo/Midwest emo. Bagi Beeswax, Dochi merupakan figur yang rendah hati dan memiliki kedekatan emosional dengan genre yang mereka usung, sehingga kehadirannya terasa organik dalam lagu ini.

Secara tematis, lagu tersebut menggambarkan pengalaman menyaksikan rasa sakit orang lain dari jarak yang sangat dekat yaitu, sebuah posisi yang sarat dengan dilema antara kepedulian, ketidakberdayaan, dan komitmen. Alih-alih menawarkan solusi, lagu ini justru mengajak pendengar untuk bertahan dalam ruang emosional tersebut. Pendekatan ini menjadi benang merah bagi keseluruhan album: menghadapi masa lalu tanpa romantisasi, melainkan dengan pemahaman yang lebih dewasa.

Proses rekaman album berlangsung selama 3 bulan, menjadi ruang eksplorasi ulang terhadap materi lama dengan perspektif yang lebih jujur dan matang. Proses produksi sepenuhnya dikerjakan secara mandiri oleh para personel. Bagas Yudhiswa Putera, Putra Vibrananda Abrianto, dan Yanuar Ade Laksono terlibat sebagai penulis, komposer, sekaligus produser dan arranger. Bagas juga menangani proses mixing dan mastering. Proses rekaman drum dan vokal  dilakukan di Studio Pelikan dan Rotary, Surabaya. Untuk perekaman backing vocal berlangsung di Creatorix Studio, Malang. Proyek ini didukung juga oleh tim di balik layar seperti dari sisi visual dan kreatif, Iqbal Febrian P dan Novita Widia Rahayu (kreatif), Juniansyah Magesta Putra dan Imam Uzed Alifi (artwork), serta Ahyas Budi (fotografer).

“Kami menghabiskan total waktu selama 3 bulan untuk produksi album ini. Tentu saja ada dinamika di dalamnya seperti kendala jarak dan waktu. Untuk mengatasinya kami kerjakan dengan prinsip alon-alon asal kelakon,” tutur Yanuar.

Beeswax menyampaikan harapan sederhana namun tulus untuk langkah mereka ke depan: tidak muluk-muluk soal rencana besar, entah itu tur atau rilisan single baru, yang terpenting adalah dukungan dan doa agar mereka bisa terus berjalan, berkarya, dan menjaga perjalanan ini tetap hidup.

“Untuk rencana setelah album ini, kami mohon kepada para teman-teman fans, doain aja, tour boleh, single boleh, pokok doa nya aja,” tutup Yanuar.

Dengan mengolah ulang materi dari fase awal perjalanan mereka, Beeswax tidak berusaha mengubah masa lalu, melainkan menempatkannya dalam konteks baru dengan membuka ruang bagi pendengar lama untuk bernostalgia sekaligus mengajak pendengar baru merasakan cerita yang sama dari sudut pandang berbeda. Kini, di usia kepala tiga, Beeswax menunjukkan bahwa pertumbuhan bukan tentang meninggalkan masa lalu, tetapi memahaminya dengan lebih jujur; menjadikan album “Beeswax” sebagai jembatan antara waktu, pengalaman, dan generasi, sekaligus pernyataan bahwa musik akan selalu bertumbuh dan menemukan maknanya kembali di setiap fase kehidupan. -alfan-
 

Jumat, 13 Februari 2026

Ceritakan Tentang Kehilangan Kasih Dan Kehilangan Arah, Reconcile Rilis EP Left Me Lost




Loetju.idMalang, 13 February 2026 – Unit emo/alternative asal Malang, Reconcile, resmi merilis EP terbaru bertajuk Left Me Lost. EP ini menjadi penanda fase reflektif Reconcile, menghadirkan narasi tentang kehilangan kasih sayang, keterasingan diri, dan kebingungan dalam menentukan arah hidup, dikemas lewat materi yang mengawang, abrasif namun emosional. Secara garis besar, Left Me Lost berbicara tentang kondisi batin seseorang yang kehilangan figur kasih sayang, lalu perlahan kehilangan pegangan atas dirinya sendiri. Tema ini menjadi benang merah dari keseluruhan EP, menghadirkan suasana lengang, rapuh, dan penuh pertanyaan serta keresahan yang dekat dengan pengalaman banyak orang.

“Secara tema, Left Me Lost bercerita tentang seseorang yang kehilangan kasih sayang, lalu ikut kehilangan dirinya sendiri, dan berada di fase kebingungan tanpa benar-benar tahu ke mana harus melangkah,” jelas Dava.
EP Left Me Lost dirilis di bawah naungan Haum Entertainment dengan Reconcile bertindak sebagai produser. Proses rekaman dilakukan di Rc:en Studio Recording, kecuali vokal lagu “Keep Us Alive” yang direkam di W8 Project Studio. Engineering ditangani oleh Nabil Zuhdi Prasetya, sementara proses mixing dan mastering dilakukan di W8 Project Studio oleh Yudhistiro Lilo P. Penulisan lirik dikerjakan oleh Dava Hendra Firmansyah dan Chelsey Agustine, dengan komposisi lagu yang digarap bersama Zidane Marvelo dan Nabil Zuhdi Prasetya. Untuk visual, artwork dan tata letak sampul EP ini dikerjakan oleh Adored Studio. 

“EP Left Me Lost kami garap sejak Juli sampai Desember 2025. Prosesnya memang terasa lebih lambat karena kami harus menyesuaikan waktu dengan gitaris kami, Nabil, yang sedang kuliah di Taiwan, sehingga sebagian proses rekaman dilakukan secara jarak jauh,” tutur Dava
EP Left Me Lost digarap dalam rentang waktu Juli hingga Desember 2025 dengan proses produksi yang tidak sepenuhnya berjalan secara konvensional karena perbedaan jarak dan zona waktu personil-personil yang kuliah di luar negeri. Ke depan, Reconcile belum mengunci langkah pasti pasca-rilis EP ini, namun keinginan untuk terus bergerak tetap ada.

“Untuk rencana setelah EP ini sebenarnya belum ada yang benar-benar fix, tapi keinginan untuk membuat materi lagu baru dengan konsep yang lebih berbeda itu sudah ada. Untuk sementara, kami ingin lebih aktif menjajaki gigs-gigs live,” tutup Dava.
EP Left Me Lost kini sudah dapat didengarkan di seluruh digital streaming platform pada 13 Februari 2026. Rayakan malam sebelum Valentine dengan EP Left Me Lost, sebuah pengantar sunyi bagi mereka yang pernah kehilangan kasih sayang, kehilangan arah, dan masih berusaha menemukan diri di tengah kebingungan.-Haum, Alfan-

Reconcile is an Emo/Alternative Rock unit from Malang, Indonesia which is currently fronted by Dava (vocals/guitar), Nabil (guitar), Zidane (bass), and Chelsey (drums). Starting from a friendship bound by a love of the same music, namely emo/post hardcore, the band’s sound characteristics were inspired by Title Fight and Movements, which became the reason for the formation of Reconcile in 2023. Reconcile has independently released their debut EP entitled Faint Reflection in 2024. In 2025, starting with the maxi single "Drowned in Static", Reconcile with a new formation is now releasing new EP Left Me Lost on 13 February 2026.

 

Kamis, 12 Februari 2026

Peraukertas Mengeksplorasi Retrowave di Single Baru “13 Tahun”


 

Loetju.idPeraukertas kembali merilis karya  terbaru berjudul “13 Tahun”, yang resmi dirilis pada 13 Februari  2026. Lagu ini menjadi single kedua Peraukertas di bawah naungan POPS Music, sekaligus single perdana mereka di tahun 2026, melanjutkan langkah setelah perilisan Make It Right. 

Diproduseri oleh Wawan Eliawan dan diproduksi di 45 Movement Studio, 13 Tahun menghadirkan perkembangan signifikan dalam eksplorasi musikal Peraukertas. Lagu ini mengusung nuansa retrowave/synthwave yang atmosferik, menjadi sentuhan baru yang lahir dari sudut pandang kreatif sang produser, tanpa menghilangkan karakter emosional khas Peraukertas.
 
Secara lirik, 13 Tahun berangkat dari pengalaman personal Candra Kim, vokalis sekaligus penulis lagu Peraukertas. Lagu ini mengisahkan perjalanan panjang sebuah hubungan tentang bertahan, kelelahan, kegagalan yang disadari terlambat, hingga akhirnya menerima bahwa berakhirnya sebuah perjalanan tidak selalu berarti kekalahan. Lirik seperti “terlambat benahi dua hati ini” dan “ini bukan sepenuhnya kegagalan” menjadi refleksi tentang kedewasaan emosional dan keikhlasan. 

Sebagai bagian dari rangkaian perilisan, Peraukertas juga menggelar live stream selama 13 jam menjelang rilis 13 Tahun. Siaran ini berlangsung pada 12 Februari 2026 pukul 11.00 siang hingga 13 Februari 2026 pukul 01.00 dini hari, disiarkan secara simultan melalui youtube, Instagram, dan tiktok Peraukertas. 

Live stream tersebut dibagi ke dalam 13 segmen dan menghadirkan 13 bintang tamu dari berbagai latar belakang, mulai dari konten kreator musik, musisi, hingga pelaku industri hiburan. Program ini dirancang sebagai ruang obrolan, berbagi cerita, dan perayaan proses kreatif yang selaras dengan semangat lagu 13 Tahun tentang perjalanan panjang, refleksi, dan makna bertahan. 

Dengan 13 Tahun, Peraukertas menegaskan fase baru mereka di 2026 yang lebih dewasa secara narasi, lebih berani secara musikal, dan lebih dekat secara emosional dengan pendengarnya. Single “13 Tahun” dapat didengarkan di seluruh platform streaming digital mulai 13 Februari 2026.

Senin, 09 Februari 2026

Grup Idol JKT48 Rilis Single ke 27 Berjudul Andai 'Ku Bukan Idola

 


loetju.id - Pada 4 Feb 2026  JKT48 lewat kanal youtubenya merili Music Video terbaru berjudul Andai 'Ku Bukan Idola. Hingga  Senin tanggal 9 Februari 2026 video ini telah ditonton sebanyak 693.706 kali dan menjadi nomor  #2 musik Trending di tangga lagu.

"Andai 'Ku Bukan Idola" merupakan single ke 27 JKT48 dan kali ini dibawakan oleh:
- Angelina Christy
- Febriola Sinambela
- Fiony Alveria
- Freya Jayawardana
- Gita Sekar
- Grace Octaviani
- Greesella Adhalia
- Jessica Chandra
- Kathrina Irene
- Marsha Lenathea
- Michelle Alexandra
- Mutiara Azzahra



Sebagai informasi, JKT48 adalah grup idola (idol group) wanita pertama di Indonesia sekaligus sister group resmi dari AKB48 Jepang yang dibentuk pada tahun 2011. Berbasis di Jakarta, grup ini mengadopsi konsep "idola yang dapat Anda jumpai setiap hari" dengan pertunjukan rutin di teater mereka di fX Sudirman. JKT48 terkenal dengan lagu-lagu ceria, tarian energik, dan interaksi erat dengan penggemar. 

Lewat diskipsi di channel youtube, akun JKT48 juga memberikan akses  #JKT48FreeToPlay lewat Google Drive.

#JKT48FreeToPlay adalah sebuah wadah di mana para fans dan pendukung JKT48 dapat berkreasi bersama-sama untuk merayakan rilisnya Single JKT48.

Para fans dan pendukung JKT48 dapat mengakses dan menggunakan materi-materi yang dibagikan, dengan ketentuan yang ditentukan.

#JKT48FreeToPlay bisa akses di klik di sini.

“Static Mind”, Perkenalan Jujur Blind Phase Tentang Pikiran yang Tak Pernah Diam

 


Loetju.idMalang, 6 Februari 2026 - Blind Phase, unit pop-punk pendatang baru asal Kota Malang, resmi memperkenalkan diri ke dunia musik melalui single perdana mereka berjudul “Static Mind”. Lagu ini menjadi rilisan pertama Blind Phase dan akan menjadi pembuka menuju EP yang tengah mereka persiapkan. “Static Mind” menceritakan tentang kondisi mental yang penuh kebisingan, ketika pikiran terus berputar antara emosi naik dan turun tanpa jeda. 

Lagu debut ini menggambarkan perasaan terjebak dalam kekacauan batin, di mana kabar baik maupun buruk terasa sama-sama mengganggu, hingga akhirnya muncul keinginan untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, dan menghadapi semua dengan lebih jujur. Melalui lagu ini, Blind Phase menyampaikan proses penerimaan terhadap kekacauan tersebut sebagai bagian dari hidup, bukan untuk dilawan, melainkan dipahami.

Meski tergolong band baru, Blind Phase beranggotakan musisi yang sebelumnya telah aktif di berbagai band di Malang Raya. Blind Phase diperkuat oleh Aldy sebagai vokalis (Costive, Dominance), Andrian sebagai gitaris (Enamore, Hallway), Lilo sebagai gitaris (The Polar Bears), Reyhan sebagai basis (Grey, Costive) serta Kelvin sebagai drummer (Limbo). Meskipun berasal dari band-band dengan genre berbeda, perbedaan latar belakang tersebut justru membentuk warna baru yang solid dalam identitas Blind Phase. 

Single “Static Mind” ditulis oleh Aldy dan diproduseri oleh Lilo sendiri di W8 Project Studio miliknya. Dan juga untuk mixing & mastering single ini juga diproduksi sendiri olehnya. Diproduksi pada pertengahan Desember 2025. Blind Phase akan merilis single “Static Mind” pada Awal bulan Februari tahun 2026. 

Dengan balutan musik pop-punk yang enerjik namun emosional, “Static Mind” menjadi pernyataan awal Blind Phase tentang arah musikal mereka ke depan. Single ini bukan hanya perkenalan, tetapi juga fondasi cerita yang akan dikembangkan lebih jauh dalam format EP. Single “Static Mind” akan segera tersedia di seluruh platform streaming digital sebagai langkah awal perjalanan Blind Phase di industri musik.

Kamis, 05 Februari 2026

Born in February WUSS Bercerita tentang Tumbuh di Tengah, Bertahan Tanpa Tepuk Tangan

 


Loetju.idMalang, 6 Februari 2026 - Setelah merilis “Where It Begins” pada 2025, WUSS kembali memperkenalkan “Born in February”, sebuah karya yang lahir dari ruang di antara sorak dan kekacauan, di antara yang diagungkan dan yang sering terlewatkan. Ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, lagu ini menjadi pengakuan personal tentang tumbuh sebagai “anak kedua”: bukan bayangan, bukan pengganti, namun kerap diperlakukan sebagai jeda yang mudah dilupakan. Melalui lagu ini, Sabiella Maris (vokal, gitar), Brilyan Prathama Putra (vokal, gitar), Rara Harumi (bass), dan Rufa Hidayat (drum) menolak anggapan bahwa urutan adalah identitas, dan menegaskan bahwa bertahan seringkali membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi yang pertama. Single “Born in February” akan rilis di semua DSP pada 06 Februari 2026.

“Anak kedua lahir di tengah dua dunia - satu riuh penuh sorak, satu lagi kacau dan nggak pernah benar-benar rapi. Sering kali posisinya cuma dianggap lewat. Bagi anak kedua, ‘second’ itu cuma urutan, bukan identitas,” kata Brilyan.

Single “Born in February” menghadirkan sudut pandang tentang posisi kedua yang hidup di bawah perbandingan tanpa akhir, ketika suara kerap tenggelam oleh yang dianggap lebih utama dan mudah diterima. Alih-alih meminta maaf karena berbeda, WUSS justru merayakan keganjilan itu - liar, lentur, dan sulit dipatok—sebagai sumber nyawa lagu ini, yang bertumpu pada keberanian untuk terus bergerak meski dunia sesekali memalingkan muka. Bagi WUSS, “kedua” bukan cerita tentang kalah cepat, melainkan tentang bertahan lebih lama: tumbuh tanpa tepuk tangan, tetap berani menatap langit, dan menemukan ruang paling jujur untuk menjadi diri sendiri. Lewat lagu ini, WUSS menegaskan sikap untuk tidak menjadi salinan atau berjalan di jalur aman demi diterima, seraya mengingatkan bahwa “kedua” hanyalah angka - bukan identitas - sekaligus penanda baru tentang ketahanan dan keberanian untuk terus bermimpi, bahkan ketika dunia memilih untuk tidak melihat. 

Proses produksi “Born in February” berlangsung kurang lebih selama satu bulan, dimulai sejak pertengahan Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Lagu ini ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, dengan lirik yang digarap oleh Sabiella Maris. Proses komposisi melibatkan seluruh personel - Sabiella Maris, Brilyan Prathama Putra, Rara Harumi, dan Rufa Hidayat - yang bersama-sama merangkai dinamika emosional lagu ini menjadi satu kesatuan utuh.

Saat ini, WUSS juga tengah mempersiapkan album penuh yang akan menjadi kelanjutan dari rilisan single mereka. Album tersebut direncanakan berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir yang akan dirilis sebagai pengantar sebelum album resmi diluncurkan. Menariknya, single penutup menuju album ini akan melibatkan kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. WUSS berharap seluruh prosesnya dapat berjalan lancar dan album ini bisa segera diperkenalkan ke publik.
“WUSS saat ini tengah menyiapkan album penuh berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir sebagai pengantar menuju perilisan album, termasuk kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. Doakan kelancaran proyek kami ini ya,” ujar Sabiella.

Single “Born in February” sudah dapat didengarkan di seluruh platform digital (DSP) mulai 6 Februari 2026. Jangan lewatkan dan dengarkan pernyataan terbaru dari WUSS di platform streaming musik pilihan Anda.-alfan-

Tentang Wuss
Wuss adalah sebuah proyek musik yang beranggotakan Brilyan Prathama (ex Humi Dumi, Nonanoskins), Sabiella Maris (Closure), Rara Harumi, dan Rufa Hidayat (Remissa, Inheritors). Wuss berawal dari "Lunar", single pertama Wuss yang telah lama digarap Brilyan namun hanya tersimpan di hard disk-nya. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Sabiella Maris, solois sekaligus gitaris Masurai. Merasa memiliki kecocokan musikal, Brilyan dan Sabiella memutuskan untuk membentuk grup musik dengan mengajak Rufa Hidayat sebagai drummer dan Rara Harumi sebagai bassis. WUSS menawarkan musik indie-rock fuzzy yang dapat digambarkan sebagai perpaduan overdrive yang manis dan menggelegar serta tempo drum yang mampu mengajak siapapun untuk bernyanyi bersama atau melakukan stage diving. Wuss akhirnya merilis EP perdana mereka, We Undercover Super Softy. Setelah EP tersebut, single baru "Where It Begins" kini tersedia di semua DSP.

Trisouls Lepas Single Upbeat Bernuansa 90-an “Sementara atau Selamanya”

 



Loetju.idTrisouls kembali merilis single terbaru berjudul “Sementara atau Selamanya”, sebuah lagu pop romantis dengan aransemen menyenangkan dan upbeat, dibalut sentuhan nuansa 90-an yang hangat dan nostalgik. Lagu ini menangkap momen paling jujur dalam sebuah hubungan - saat perasaan hadir begitu nyata, namun jawabannya belum ingin ditentukan.

Diciptakan oleh Sajiva, “Sementara atau Selamanya” bercerita tentang debar hati yang muncul dari hal sederhana, seperti senyuman manis, hingga gejolak asmara yang membuat dunia terasa hanya milik berdua. Dari rasa kagum yang terpendam, kegugupan saat ingin mengungkapkan perasaan, hingga keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan, lagu ini mengalir jujur dan dekat dengan pengalaman banyak orang.

Secara musikal, Trisouls menghadirkan aransemen ceria khas mereka—ringan, optimistis, dan mudah diingat. Nuansa pop romantis era 90-an terasa kuat, namun dikemas dengan sentuhan modern yang relevan dengan pendengar hari ini. Reffrain-nya menggambarkan sensasi melayang, seolah atmosfer tak lagi mampu menahan perasaan yang menguat, mengajak pendengar menikmati keindahan momen tanpa harus terburu-buru menentukan akhir cerita.

Melalui “Sementara atau Selamanya”, Trisouls menegaskan bahwa tidak semua cinta harus segera memiliki jawaban. Terkadang, keberanian terbesar adalah memberi ruang bagi rasa untuk tumbuh - entah itu hanya sementara, atau ternyata bertahan selamanya.

Single “Sementara atau Selamanya” telah tersedia di seluruh platform streaming digital.

Rabu, 04 Februari 2026

Indra Dinda Hadirkan Cerita Berbeda Lewat Video Klip “Turun Di Sini Dulu”

 

Loetju.idDalam rangka persiapan album perdana, usai merilis single pertama “Tanggal Biru” pada Februari 2024 dan single kedua “Selalu Ada, Meski Tiada” pada Oktober 2025, Indra Dinda kini merilis single ketiga berjudul “Turun Di Sini Dulu” pada 30 Januari 2026. Ini adalah rangkaian rilis Inda Dinda dalam rangka progres album perdana yang rencananya akan dirilis sekitar pertengahan tahun 2026.

Berbeda dari dua single sebelumnya, lagu “Turun Di Sini Dulu” mengambil inspirasi aransemen dari musik-musik pop alternatif. Secara konsep album, Indra Dinda memang memilih pendekatan aransemen yang beragam, menyesuaikan karakter musikal dengan tema lirik di setiap lagunya.

Dalam proses produksinya, mulai dari tracking, mixing, hingga mastering, “Turun Di Sini Dulu” dikerjakan secara mandiri oleh Indra Dinda di studio rumahnya, dengan bantuan sejumlah session player. Ada Favian pada gitar, Gea Eine pada keyboards, Reza Triadi pada drums, serta Arga pada saksofon. Sementara itu, part bass, mixing, dan mastering sepenuhnya ditangani oleh Indra sendiri.

Selain dirilis dalam format audio, Indra Dinda juga merilis music video pada hari yang sama. Menggandeng Qich Terror sebagai director dan Qich Management sebagai rumah produksi, video klip ini mengangkat narasi yang selaras dengan tema lirik lagunya: sepasang kekasih yang menikmati adrenalin pacaran diam-diam.

Music video “Turun Di Sini Dulu” turut menghadirkan sejumlah cameo dari teman-teman influencer Malang Raya, di antaranya Pak Antono, Ruru, Modegila ‘Gendut’, Rizky Boncell, Vera Karina, serta special guest Cipheng dari Begundal Lowokwaru.

Semoga melalui rilisan ini, Indra Dinda bisa membuat para pendengarnya merasakan hal yang baru setiap mendengar lagu-lagunya, sehingga album perdana nanti akan benar-benar dinantikan hasil akhirnya.

Tentang Indra Dinda
Indra Dinda adalah duo musik indie pop yang berbasis di Kota Malang dan Surabaya. Keduanya bertemu di ajang Indonesian Idol 2014 dan sampai sekarang aktif bermusik bersama sebagai pasangan suami-istri. Indra Dinda menciptakan dan memproduksi sendiri lagu-lagu di studio rumah mereka, menyebarkan cinta ke seluruh pendengarnya.

Selasa, 13 Januari 2026

Musisi Asli Gunung Kawi, Matoha Mino, Dobrak Stereotip Mistis Dengan Lagu “Gunung Kawi”

 



Loetju.idMalang - Mendengar nama Gunung Kawi, beberapa hal yang mungkin terlintas di pikiran masyarakat Indonesia adalah angker, mistis, serta pesugihan. Stereotip yang berkembang di masyarakat ini coba dipatahkan oleh seorang musisi asal Gunung Kawi yakni Matoha Mino. Seniman berusia 57 tahun tersebut berujar, “Ide lagu ini sebenarnya sudah mengendap di kepala saya sejak 2005–2008, waktu itu sering banget dengar orang-orang bilang “Gunung Kawi itu tempat pesugihan, jangan ke sana nanti ketemu tuyul, genderuwo dan setan”. Ada pula yang bilang “orang yang ke Gunung Kawi pasti cari duit ghaib”. Saya yang lahir dan besar di Gunung Kawi (tepatnya Desa Wonosari), rasanya kesel sekali stereotip itu terus dipelihara film-film horor dan sinetron.” 

Terdorong oleh keinginan yang kuat itu, ayah kandung dari penyanyi Madukina dan musisi Hanafi Madu W. ini pun menciptakan lirik-lirik yang menunjukkan pesona Gunung Kawi sebagai tempat ziarah para pahlawan yakni Eyang Djoego dan Eyang Soejono (RM Iman Soedjono) yang merupakan laskar dari Pangeran Diponegoro saat masa perjuangan melawan Belanda. “Gunung Kawi bukan tempat pesugihan. Ini tempat ziarah, tempat berdoa, tempat wisata ritual yang bahkan dikunjungi tamu mancanegara,” tegas Matoha. Lewat bait-bait lagunya, ia mengajak masyarakat untuk kembali kepada esensi doa yang benar yakni berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa sambil tetap berusaha keras. Wisata ziarah ini pun menurutnya hanya secuil sisi dari Gunung Kawi yang baru ia eksplorasi lewat lagu. Masih banyak esensi dan nilai dari gunung yang terletak di Kabupaten Malang ini yang bisa digaungkan lebih luas lewat seni. 

Matoha yang sebelumnya juga menjadi dalang di balik lagu soundtrack film “KKN: Desa Penari” kembali memasukkan unsur-unsur musik gamelan Jawa. Namun kali ini, ia mengkombinasikan gamelan dengan unsur musik Islami dengan iringan terbangan (red: musik sholawatan). Penulisan lirik memakan waktu dua minggu dan dibantu oleh rekan musisi Alm. Bapak Irwan Sumadi. Ketika rampung, Matoha mengajak grup musik Islami Tajidor (Terbang Jidor) yang bernama “Kyai Zakaria” untuk latihan. Gamelan, drum, viola, keyboard, dan perkusi turut menghiasi dinamika lagu “Gunung Kawi” yang dimainkan sendiri oleh Matoha dan sang putra Hanafi Madu W. Sang istri yakni Ibu Dwi Siswa turut andil dalam mengkoordinasi paduan suara anak-anak di sekitar perumahan Matoha Mino untuk menyumbangkan suaranya di lagu “Gunung Kawi”. Tak mau ketinggalan, sang putri Madukina membantu mengarahkan jenis dan model vokal sebelum dan saat rekaman, serta memandu sang ayah dalam memilih busana, gaya, sampul dari single serta strategi perilisan digital lagu ini. 

Selain dikerjakan dengan bantuan banyak pihak, sang musisi juga memiliki tujuan untuk merangkul lebih banyak massa lewat lagunya yang berbahasa Indonesia. “Beda dengan waktu membuat ‘Dhat’ dulu yang berisikan bahasa Jawa dan Sansekerta kuno, saya memang sengaja menulis lagu ini dengan bahasa Indonesia agar dimengerti lebih banyak orang. Karena pertama, tujuan saya adalah meluruskan stigma dan stereotip, jadi bahasa yang universal saya rasa penting untuk digunakan. Kedua, saya ingin lirik lagu ini benar-benar sederhana dan selugas mungkin untuk menghindari salah paham dan interpretasi ganda. Terakhir, saya ingin lagu ini bisa dinyanyikan bersama-sama, dengan lirik dan melodi yang mudah sehingga bisa tersebar makin masif dan diresapi para pendengarnya,” jelas Matoha. “Gunung Kawi” resmi dirilis secara digital di penghujung tahun 2025 yakni 31 Desember di berbagai layanan streaming digital.

Minggu, 28 Desember 2025

Grup Musik Indiepop Merona dari Sidoarjo Jawa Timur Rerilis Single Bertajuk Tetes Hujan

 



Loetju.id - Merona adalah proyek indiepop dari Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia yang diinisiasi sepasang suami istri, Gelar (bass, synth) dan Arum (vokal), yang dibantu beberapa sahabat, Gayuh (guitar) dan Agra (drum).

Setelah maret 2025 lalu merilis single “Distance” di beberapa platform digital yang menandai rilisan fisik split album bersama Lanskap (Bali) untuk Record Store Day 2025, 23 November 2025 ini Merona kembali merilis single “Tetes Hujan" sebagai bagian dari album penuh Merona yang akan dilepas dalam beberapa waktu kedepan.

“Tetes Hujan" membawakan pop yang lebih mudah didengar, tidak bertele-tele tetapi terasa lebih murung dansedih ketika Arum mulai menyanyikan lirik yang ditulis oleh Gayuh. Berkisah tentang harapan yang berujung kecewa, single ini tidak terbatas hanya tentang kasih dan cinta, dia bisa diinterpretasikan jauh lebih dari itu tergantung bagaimana pendengar menafsirkan.

Senin, 22 Desember 2025

Debut Bassst Lewat Maxi Single “The World Make Sense Somehow”




Loetju.id -  Akhir tahun selalu identik dengan banyaknya rilisan musik yang bermunculan, salah satu dari sekian banyak itu adalah Bassst. Bastya Indrawan dengan nama panggung Bassst akan mencoba peruntungannya dengan project solo barunya. Setelah hiruk pikuk dan hingar bingar dengan bandnya Eas.y & Bitter Club, kini Bassst akan memulai babak baru dalam karir bermusiknya dengan debut Maxi Single yang bertajuk “The World Make Sense Somehow”. 

“I’ve been, running in circles trying, to belong right here” – The World Make Sense Somehow

Maxi Single The World Make Sense Somehow pada debut Bassst kali ini cukup menjadi rilisan yang spesial, berisi 2 lagu dalam yang berjudul The World Make Sense Somehow & Glances. Kedua lagu ini mengangkat tema yang sangat berbanding terbalik. Bastya sendiri menerangkan, “Jadi pada dasarnya 2 lagu ini berangkat dari kejadian yang cukup kontras dari pengalaman pribadi sih, misal baik-buruk, sedih-bahagia, bersyukur-takut, semuanya kurasa memiliki keterkaitan padahal 2 kejadian dan perasaan ini berbanding terbalik satu sama lain.” 

“We walk the edge of something wild, Playing lovers in a borrowed time” – Glances 

Pada bagian The World Make Sense Somehow ingin menggambarkan tentang perasaan seolah dunia berubah menjadi lebih indah dan penuh makna ketika orang yang kita cintai hadir dan berada di sisi kita. Misal seperti kehadiran seorang anak, menikah, atau bahkan sesimpel memiliki rekan kerja yang menyenangkan. Dari kehadiran orang-orang inilah yang akhirnya mendasari cerita dari lagu ini, dan seakan membuat dunia lebih bermakna.

Sementara pada Glances mengangkat sisi yang sedikit lebih personal dari Bastya, pada track ini ingin mencoba mengangkat perasaan takut yang dirasakan oleh Bastya, mulai dari takut untuk mencintai, takut untuk memulai sesuatu yang baru, bahkan perasaan menginginkan sekedar dicintai pun membuatnya merasa takut. Selain itu Glances sendiri pada track ini akan menjadi demo untuk single Bassst berikutnya yang akan dirilis pada Februari. Pada track ini cukup berbanding terbalik dengan track The World Make Sense Somehow. 

2 Track yang berlawanan ini lah yang membuat Maxi Single ini menjadi spesial. Sejalan dengan 2 track yang berlawanan pada Maxi Single ini, pada debutnya Bassst memang ingin memberi sebuah tema utama bahwa semuanya memiliki keterkaitan satu sama lain, antara baik & buruk, senang & sedih, bahagia & kecewa. “Karena pada dasarnya hidup gak selalu sedih dan ga selalu senang terus kok, pasti ada naik dan turun nya, jadi ga perlu takut karena aku yakin pasti akan ada hal baik yang akan datang nantinya.” Pungkas Bastya.

Untuk sisi produksi sendiri Bassst memang sangat terinfluence dengan baik oleh band atau solois dengan genre Sophisti-pop, macam Lany, Taylor Swift, hingga James Bay. Nampak pada debutnya kali ini unsur electro-pop dengan sentuhan Dream-Pop membuat Maxi Single ini terasa cukup manis. Pada sisi penulisan lagu Bastya tidak sendirian, dalam debutnya kali ini Bastya dibantu oleh Ayesa Almanda pada single Glances dan untuk backing vocal dibantu oleh Fajrin Jauhari. Sementara untuk dapur produksi suara mulai dari recording hingga mixing-mastering Bastya mengerjakan nya secara mandiri.

Selain merilis Maxi Single debutnya, Bassst juga akan merilis sebuah lirik video yang direct oleh Rizky Exa Mardiansyah. Debut Maxi Single Bassst – The World Make Sense Somehow akan dirilis pada 19 Desember 2025 pada seluruh digital streaming platform favorit kalian.

Selasa, 25 November 2025

Solois Pop Asal Malang, Verenathania Merilis Debut EP Dalam Versi Live Session


 

Loetju.id -  Dikemas dalam format video spesial yang memuat tiga lagu yang diaransemen ulang dalam versi live session.Didukung Kondimen Malang dan Culture Club Coffee sebagai lokasi syuting, dan 3 brand alat musik Nasional Bacchus Indonesia, Bromo Guitar, dan NUX

Verenathania merupakan seorang penyanyi, gitaris dan penulis lagu asal kota Malang. Kecintaannya akan musik sudah muncul sejak dini. Saat duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, dia sudah mulai belajar memainkan gitar lewat berbagai jalur les privat. Di antaranya dia sempat belajar pada Robby Glyph dan Bayu Priaganda - keduanya adalah guru gitar yang cukup kondang di kotanya.

Memasuki bangku SMP, Verenathania mulai bergabung dengan band di sekolahnya dan tampil pada berbagai jenis festival musik. Dia sendiri juga makin rajin mengkover lagu-lagu kesukaannya - mulai dari lagunya Justin Bieber, Coldplay, Paramore, bahkan Joe Satriani. Berbagai karya coversong-nya tadi sering diunggah melalui akun media sosial dan kanal YouTube-nya. Karir bermusik Verenathania baru dimulai sejak dia berani menulis lagu sendiri. Single pertamanya adalah "Alien" yang dirilis pada tahun 2023. 

“'Alien' itu lagu buat idola aku. Namanya Lee Seung Hyub. Eh, fun fact-nya dia itu sempet denger lagu ini tapi gatau kalo itu suaraku, hehehe," ucap Verenathania. 

"Inspirasi liriknya karena idolaku sangat jauh dan tidak mungkin tergapai. Jadinya kayak alien karena kami berasa beda dunia, beda dimensi..." tambah Verenathania

Setahun kemudian, Verenathania merilis single berjudul "Red Glasses" (2024). 

"Lagu itu tentang aku yang tau kalo pasanganku itu red flag tapi masih aku lanjutin saja. Di situ aku kayak lagi pake kacamata merah, jadi semua warna itu berasa sama, keliatan merah semua..,” ujar Verenathania

Terakhir, dia merilis "to: the future u" (2025) yang layaknya surat cinta di mana Verenathania berkisah tentang seseorang yang diidam-idamkan untuk menjadi pasangan di masa depan. Semudah itu memang seorang Verenathania bisa jatuh cinta pada sosok yang diidamkan. Ketiga single-nya tadi digubah kembali ke dalam versi live session dan dikemas dalam bentuk video spesial bertajuk 1st EP (Live Session) yang dirilis ke publik sejak tanggal 8 November 2025 melalui kanal YouTube verenathania.

"Gagasan ini muncul saat aku bertemu Mas Rexy. Trus kita ngobrol-ngobrol lah. Kan aku emang dari dulu pingin punya EP. Trus kepikiran kenapa gak eksplor lagi pada lagu-lagu yang sudah ada. Jadi kita sepakat bikin versi live session dari lagu-laguku yang kemarin..." ucap Verenathania bercerita tentang bagaimana ide untuk memproduksi 1st EP (Live Session) itu muncul. 

"Tiga lagu ini kayak ngegambarin perjalananku mencari warna diriku seperti apa. Di sini aku dibantu sama teman-teman dan diaransemen ulang sesuai dengan representasiku yang sekarang," tambah Verenathania yang mengaku mengidolakan Mikha Angelo, Rendy Pandugo, dan Ed Sheeran sebagai musisi favoritnya.

Dalam video 1st EP (Live Session), Verenathania selaku vokalis dan gitaris itu dibantu oleh Oddy Satya (gitar & keyboard), Hanafi Madu Wanandi (bass), dan Bogi Satya (drum). Rexi Tegar Pratama yang bertindak selaku sutradara, DOP sekaligus editor videonya. Juga dibantu oleh Dhanesworo (video crew) dan Pandu Putra Bia W (behind the scene photo).

"Prosesnya sangat seru dan lumayan lama karena dikerjakan pas aku bolak-balik dari Kediri-Malang, dengan timeline yang berbeda-beda," kata Verenathania soal proses pembuatan video tersebut.

Video 1st EP (Live Session) digarap bekerjasama dengan Kondimen Malang yang akan meluncurkan rubrik baru berjudul “Bermusik di Kopian” dan Culture Club Coffee sebagai lokasi syuting. Sengaja mereka take video di tengah-tengah operasional kafe karena memang ingin mengambil ambience alami yang ada di kafe tersebut.
Tak tanggung-tanggung, di sini Verenathania juga didukung oleh Bacchus Indonesia, Bromo Guitar, dan NUX yang menjadikan dia sebagai salah satu brand ambassador-nya. 

"Itu mungkin karena aku ngelawan rasa maluku dalam bermedsos, hehe. Sampai suatu saat Covid-19 datang, aku jadi makin terdorong buat aktifin media sosial. Mungkin dari situ aku bisa gained views dan followers ya..." kata Verenathania tentang bagaimana dia bisa mendapatkan endorsement dari brand produsen gitar dan efek.

Selain bermusik, Verenathania juga tercatat sebagai salah satu karyawan pada perusahaan bank swasta. Apakah dia lalu kesulitan untuk membagi waktu antara karir musik dan kerja kantoran?

"Jujur masih belajar buat ngebagi waktu. Kadang masih banyak melesetnya karena abis kerja pasti pulangnya udah capek. Kalo weekend maunya main. Tapi aku push diriku karena aku udah dikasih berkah ini-itu jadi sayang banget kalo aku biarkan begitu aja. Jadi rasa syukur aja yang bikin aku masih bisa terus stay memaksakan diri, in a good way, untuk tetep bermusik sambil bekerja," jelasnya.

"Semoga EP ini bisa jadi jembatan untuk perilisan albumku di tahun depan. Aku ingin orang-orang bisa menikmati versi yang super duper lain dari ketiga laguku yang dirilis kemarin-kemarin," ucapnya penuh harap. "Semoga aku juga bisa lebih berani take a risk untuk musikku dan bisa eksplor lebih banyak lagi bersama-sama dengan tim yang supportive."

Lantas, apa rencana Verenathania ke depannya?! Verenathania mengaku semangat untuk merencanakan album di tahun depan.

"Bikin album lah ya di tahun 2026. Bisa yuk, wkwkwk. Slowly but sure. Intinya sampai aku bisa menemukan identitas diriku sendiri dalam bermusik. Sampai orang-orang itu ngeh dan bisa bilang: 'Oh, ini sih Veren banget!...'tutup Verenathania.

Video dari EP perdana Verenathania 1st EP (Live Session) sudah bisa dinikmati di kanal youtube https://www.youtube.com/@verenathania sejak 8 November 2025. -Sammack edited by Alfan- 

Senin, 10 November 2025

Unit Power Pop, Peni dari Malang Rilis Single Terbaru “Kota”, Kehidupan Urban Sebagai Perwujudan Patah Hati yang Lain




Loetju.idMalang, 10 November 2025 – Band asal Malang, Peni, kembali merilis karya terbarunya yang berjudul “Kota”. Single ini merupakan lanjutan dari dua single sebelumnya, “Allegori” dan “Gejolak Asmara Muda”, yang telah lebih dulu hadir di berbagai platform musik digital. “Kota” tetap konsisten mengusung tema-tema reflektif namun dibawakan dengan fun yang menjadi ciri khas band ini. Berbeda dari lagu cinta yang biasa bercerita tentang seseorang, “Kota” justru mengangkat sisi lain dari sebuah patah hati. Lagu ini menggambarkan perasaan frustasi, kebingungan, dan keterasingan yang justru datang dari lingkungan urban tempat kita tinggal. Seperti diungkapkan oleh Ken Baruna, vokalis dan gitaris Peni. 


*Karena patah hati ga melulu tentang seseorang, terjebak kondisi kota yang rumit juga membuat seseorang kemrungsung (bingung),” jelas Ken 

Peni, yang secara resmi berada di bawah naungan Haum Entertainment, mengungkapkan dinamika proses kreatif mereka. Meskipun band ini belum genap berusia satu tahun, mereka telah menunjukkan produktivitas yang tinggi dengan merilis tiga single dalam waktu singkat. Efisiensi menjadi kunci bagi Peni, mengingat semua personil memiliki kesibukan masing-masing, termasuk yang bekerja di luar kota. 
 
Kemarin di sekitaran bulan April kami masuk dapur rekaman untuk merekam beberapa lagu yang memang direncanakan untuk jadi sebuah single. Sekali masuk studio kami lahirkan 3 single,” ujar Gilang

Demo awal berasal dari Ken, lalu kami mengerjakan bagian instrumen masing-masing di rumah. Bahkan drummer kami, Dibot, bekerja di Surabaya. Maka bagi-bagi tugas menjadi pilihan skema produksi kami,” tambah Gilang.

Meski dibentuk dengan sistem kerja jarak jauh, semangat dan passion tetap menjadi bahan bakar utama. Ken menegaskan filosofi band, bahwa passion adalah yang utama. Single "Kota" diproduksi oleh Ken Baruna dan direkam di Rama Project Studio dengan Benny K Wijaya sebagai sound engineer. Proses mixing dan mastering juga ditangani di Rama Project Studio oleh Rama Satria M. Seluruh proses kreatif, mulai dari penulisan lirik, komposisi musik, hingga tim desain dan foto sampul, dikerjakan secara mandiri oleh Ken Baruna.

“Do it with passion or don't do it at all. Kegiatan membuat lagu adalah hal yang menyenangkan dan rekreatif, jadi sejauh ini masih belum terbebani dan membebani pekerjaan,” ujar Ken

Agenda Peni selanjutnya adalah mempersiapkan sebuah EP (Extended Play) yang dijadwalkan rilis awal tahun depan. EP tersebut akan tetap konsisten dengan tema “kekalahan” yang menjadi benang merah karya mereka sejauh ini. Namun, bagi para penggemar yang menantikan tur atau penampilan langsung, Peni meminta untuk bersabar. 

“Tur nya masih belum terpikir, soalnya kami semua masih ada rutinitas kerja, dan kami pikir tur sepertinya akan merepotkan. Maka, sementara Peni akan fokus pada produksi musik secara digital,” tutup Ken. 


Single “Kota” kini sudah dapat dinikmati secara lengkap di semua platform musik digital, termasuk Spotify, Apple Music, dan YouTube.-Alfan-

Rabu, 05 November 2025

Costive Featuring Dandy Gilang Berkisah tentang Kehilangan dalam Single Terbaru “Gone, but Never Gone”

 



Loetju.id - Malang, 14 Oktober 2025 - Hampir memasuki penghujung 2025, unit emo Malang, Costive meluncurkan single terbarunya “Gone, But Never Gone”. Single ini adalah komposisi yang merangkum emosi yang tak terelakkan: kehilangan, dan kenangan. "Gone, But Never Gone" adalah sebuah karya yang merangkum pengalaman manusia dalam menanggapi sebuah perpisahan yang tak terelakkan.


Single “Gone, But Never Gone” diambil dari pengalaman salah satu anggota Costive tentang sebuah perjalanan hati penuh liku dan rasa rindu yang tak pernah benar-benar hilang. Dengan single ini, Costive ingin menyentuh sisi terdalam dari sebuah perpisahan yang hampir semua orang pernah lalui, serta mengeksplorasi suka duka dalam mengenang seseorang yang telah pergi, namun tetap hidup dalam ingatan dan jiwa.

Aldy dan Marcellino, vokalis dan gitaris serta penulis lirik, menjelaskan inspirasi di balik lagu ini.

“Lagu ini adalah potongan dari buku harian yang tersimpan di hati kami tentang sebuah perpisahan yang tak pernah benar-benar tuntas. Dia mungkin sudah pergi dari hidup kami, tetapi tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Setiap nada dan lirik dalam 'Gone, but Never Gone' adalah usaha kami untuk mengikhlaskan keadaan bahwa perasaan rindu itu tak pernah pergi tapi kami tidak ingin memaksa mengusirnya. Kompleks memang. Hadirnya single “Gone, But Never Gone” agar perasaan kami bisa didengar dan dirasakan oleh semua orang,” tutur Aldy
 
Lewat “Gone, But Never Gone” pula, Aldy (Vocal), Poteh (Lead Guitar), Marcellino (Rhythm Guitar), dan Ivan (Drum) juga mencoba berkolaborasi bersama salah satu vokalis band di Kota Malang yaitu Dandy Gilang dari Unit band Write The Future dan Much yang juga rekan satu label mereka di Haum Entertainment.


“Saya sangat antusias bisa terlibat dalam proyek ini. Costive merupakan salah satu semangat muda skena musik kota Malang yang sedang on fire berproses kreatif. Mereka mengingatkan masa-masa awal saya di Write The Future dan berjalan bersama Haum. Tidak butuh waktu lama untuk membangun chemistry kami di studio untuk menangkap inti dari emosi lagu ini karena kami juga sedikit banyak mendengarkan musisi-musisi yang sama," ujar Dandy Gilang mengenai pengalaman kolaborasinya.


Single “Gone, But Never Gone” ditulis oleh Aldy dan Marcellino dan diproduseri oleh Costive sendiri dengan Nadzif dan Ivan di H4ze studio milik Marcellino, Untuk part drum, direkam di Virtuoso Music Studio Malang. Untuk mixing & mastering single ini, Yudhistiro Lilo P dari The Polar Bears membantu mereka di W8 Project Studio miliknya. Semua proses produksi tersebut dilakukan pada pertengahan September 2025. 

Costive akan merilis single “Gone, but never gone” pada 31 Oktober 2025 kembali di bawah naungan Haum Entertainment.-Costive, edited by Alfan-

Rabu, 29 Oktober 2025

Indra Dinda Releases “Selalu Ada, Meski Tiada” as a New Chapter Toward Their Debut Album

 



Loetju.idAfter releasing their first EP “Hari Merah Jambu” (March 7, 2023), followed by the single “Tanggal Biru” (February 14, 2024), Indra Dinda now returns with “Selalu Ada, Meski Tiada,” which marks the second single from their upcoming debut album project.

Breaking away from the “wedding band” character on the “Hari Merah Jambu” EP, Indra Dinda is now freer to explore both musically and thematically. “Selalu Ada, Meski Tiada” offers a light pop atmosphere, laid-back vocals, but also delivers a climactic moment: a saxophone solo weaving through the build-up to the final two choruses.

“Selalu Ada, Meski Tiada” was produced entirely at Indra Dinda’s home studio, featuring collaborations with fellow musicians: Cicilia Elsa (bass), Arga Immanuel (saxophone), Gea Eine (keyboards), Favian (guitar), Monic Manikam (guitar), and Reza Triadi (drums). All tracking, mixing, and mastering were handled by Indra.

Lyrically, “Selalu Ada, Meski Tiada” tells the story of two people who are “present for each other,” yet at the same time “unable to truly fulfill one another.” It’s a feeling many can relate to, and Indra Dinda hopes listeners will find themselves connecting deeply—and even “singing out” their own emotions through the song.

In terms of timeline, “Selalu Ada, Meski Tiada” follows “Tanggal Biru” as the project’s second single. Indra Dinda plans to release two more singles before unveiling their debut full-length album, which is slated for early 2026.

Comika

Politika

Gen Z