Comedy and Indie: Indie
Tampilkan postingan dengan label Indie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indie. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juni 2024

Pawsicles Rilis Single Debut “Orange” tentang Perasaan yang Tak Terungkap

 



Loetju.idPawsicles menapakkan jejak perdana dalam industri musik tanah air lewat sebuah single yang diberi judul “Orange”. Menandakan semu jingga yang seringkali muncul secara singkat pada waktu senja, warna ini mewakili momen fantasi singkat yang kerap terselip di benak sang penulis lagu yakni Januarisky. Ia membayangkan tentang apa yang akan terjadi apabila perasaan yang saat itu muncul bisa langsung diutarakan. 

Apakah akan memberikan hasil akhir yang berbeda, ataukah akan mengubah semuanya menjadi lebih indah? “Orange” menceritakan perasaan yang tak terungkap pada sesosok wanita dan bayangan memuakkan jika pria lain merengkuhnya dalam pelukan. 

Lewat pengalaman pribadinya yang terus menerus menghantui, sang musisi menuangkannya lewat lirik dalam bahasa Inggris yang dibalut dalam nuansa indie pop. Mengambil akar musik pop, Pawsicles tidak membatasi eksplorasi sound mereka dengan memasukkan unsur dream pop hingga alternative pop. Mereka mendefinisikan musiknya sebagai ‘happysad pop’, perpaduan lirik melankolis dengan melodi yang manis.

Band yang masih berusia kurang dari 1 tahun ini dibentuk oleh dua bersaudara yakni Januarisky (vokal, gitar) dan Jayaindra (gitar) yang mengajak serta Rian (drum), Rizal (keyboard) dan Edo (bass) dalam perjalanan mereka meniti karir bermusik. Nama Pawsicles sendiri diambil dari gabungan paws dan popsicle. Direkam di Haum Studio dengan beberapa elemen yang sudah rampung, proses pembuatan lagu perdana Pawsicles tidak memakan waktu lama untuk selesai. 

Domisili personel yang tersebar di dua kota yakni Surabaya dan Malang menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk menggodok materi yang ada. Meskipun begitu, sebanyak 8 materi berhasil digarap dengan 4 lagu demo yang telah sampai pada tahap proses mixing dan mastering. 

Keempat demo tersebut menjadi modal utama bagi band ini untuk serius menekuni dunia musik independen. Desain sampul dari single ‘Orange’ mengambil suasana & perasaan ‘obscure’ yang terabadikan dari hasil tangkapan cahaya menggunakan teknik fotografi low exposure yang dieksekusi oleh Jayaindra.

Mengusung visi dan misi yang selaras disertai keuletan dalam merintis karir, band ini memiliki mimpi yang besar. “Tentu saja terdapat goals yang ingin kami segera realisasikan. Di tahun ini kami ingin menuntaskan EP yang sedang dalam proses. Dan juga kami ingin segera memperbanyak dan memperluas jaringan panggungan kami, menjalin relasi sebanyak mungkin dengan musisi-musisi lokal. Yang jelas kami ingin lagu yang kami buat dapat berdampak positif bagi yang mendengarkan, menemani senang dan sedih mereka serta menemani perjalanan hidup mereka,” ungkap Pawsicles. 

Mengiringi perilisan ini, unit tersebut juga merilis merchandise khusus serta video lirik yang memeriahkan milestone pertamanya. “Orange” bisa dinikmati di berbagai layanan streaming digital per 07 Juni 2024 via Yallfears.

Senin, 10 Juni 2024

Perjalanan baru Nico Valentz dengan merilis debut single pertamanya “Kita Sama Kita Satu“

 



Loetju.id - Perjalanan baru Nico Valentz setelah berkarya bersama Nickz and the Goodboy dan juga Dsoul Reunion.

Di tahun 2024 ini, Menjadi soloist atau bersolo karir adalah pilihan Nico Valentz untuk memulai kembali masa produktifnya dengan karya terbaru di single pertama Nico Valentz yang berjudul Kita Sama Kita Satu.

Masih dengan Rock Alternative sebagai genre musik Nico Valentz, nuansa 90's dan Sound design yang di kemas secara modern, dengan sentuhan gitar overdrive dan vocal rock dari karakter Nico Valentz, beserta lirik yang simple dan mudah di mengerti

Dengan harapan yang sangat besar, semoga single pertama Nico Valentz - Kita Sama Kita Satu, dapat di terima dan menambah warna baru di belantika musik Indonesia.

Minggu, 26 Mei 2024

Lucien Sunmoon Ungkap Perasaan yang Terpendam lewat “Reminisce”

 



Loetju.idLucien Sunmoon membutuhkan waktu 6 bulan sejak debut mereka untuk merilis lagu kedua yang diberi judul “Reminisce”. Band pendatang baru yang digawangi oleh Kanaya Firsti Gusavin (vokal), Natanael Rudy Hadinata (gitar), Yessy Aulia Zahra (gitar), Mundir Setiawan (bass), Nasywana Rahmaniyah (keyboard), dan Lyranti Revalina Kusuma (drum) tersebut membawa balutan dreamy pop dengan sedikit sentuhan alternatif juga post-punk untuk single “Reminisce” ini. Sang komposer, Yessy Aulia Zahra, menerjemahkan pengalaman pribadinya memendam rasa kepada seseorang selama 6 tahun lewat lirik demi lirik yang terjalin dalam lagu berdurasi 4 menit 12 detik. Dibantu dalam penulisan lirik bahasa Inggris oleh Danang Seloaji dari Girl and Her Bad Mood, Yessy menceritakan bagaimana sakit hatinya kala sang pujaan hati memiliki kekasih. Meskipun berisikan rintihan hati, lagu “Reminisce” justru menghadirkan melodi yang upbeat dengan ketukan drum rapat dan basuhan reverb yang kental. 

Di tengah kesibukan masing-masing personel yang masih menempuh pendidikan SMA dan perkuliahan, Lucien Sunmoon merampungkan proses rekaman selama 4 jam di Haum Studio dengan mixing-mastering di tempat yang sama selama dua bulan. Selain itu, band yang mengawali perjalanannya semenjak bertemu di SMAN 2 Kota Malang ini juga dibantu oleh Rafif Taufani dari band Yellow Flower Living Water untuk penggarapan artwork “Reminisce” yang didominasi manisnya perpaduan warna ungu dan merah muda. Setelah pengalaman berharga yang mereka dapatkan saat debut, Lucien Sunmoon melakukan persiapan yang lebih matang dan rapi untuk nomor terbaru mereka. Mengambil pengaruh sound dari GAHBM, Grrrl Gang, hingga Closure, unit musik ini sempat terkendala di bagian pengisian chorus dan reverb walaupun akhirnya bisa selesai tepat waktu. 

Tidak muluk-muluk, Lucien Sunmoon telah mengantongi 4 materi yang sudah direkam, dengan harapan dapat melepas sebuah mini album (EP) di tahun ini. “Kami juga sebenernya pengen tour juga di beberapa kota kayak Surabaya, Jogja, Bandung, Jakarta, dan lain-lain biar bisa ketemu dan kenalan sama temen-temen yang lain,” harap mereka. Para pemuda pemudi asal Kota Malang ini juga bermimpi untuk dapat mengikuti jejak musisi seniornya agar bisa tampil di berbagai festival musik nasional bergengsi. Sementara itu, band yang debut dengan lagu “Flustered” ini menaruh impian besar agar para pecinta musik bisa menikmati karya mereka, terutama lagu terbaru “Reminisce” yang telah mengudara di kanal streaming digital per 17 Mei 2024. 

Rabu, 24 April 2024

The Corner of My Room dan Maseta Sebar Afirmasi Positif Melalui Singel “CRASH n BURN”

 



Loetju.idDua musisi muda, The Corner of My Room dan Maseta bergabung dalam singel terbaru mereka “CRASH n BURN”. Perilisan singel ini mengikuti kedua singel Maseta sebelumnya yang keluar tahun lalu, “ODP” dan “Agustus Lagi”; juga album mini kedua The Corner of My Room bertajuk Perplexed and Confused; very puzzled. Menjunjung pengalaman yang dirasakan oleh sebagian besar generasi muda, “CRASH n BURN” berkisah mengenai pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat dalam menjalani kehidupan.

Melalui singel ini, Cal (panggilan akrab The Corner of My Room) ingin menyuarakan untuk terus bersikap positif dalam menjalani hidup walaupun telah dijatuhkan berkali-kali. “Terkadang you feel stuck and knowing there are people who love you and care for you and believe in you, you just keep going,” jelas Cal. Sedangkan, Maseta menganggap lagu ini sebagai bentuk mengais validasi di antara kehidupan yang kejam. Hal tersebut menyuarakan pada berbagai pihak untuk meyakini sekecil apapun progres dalam perjalanan seseorang.

“CRASH n BURN” berdurasi 4 menit 15 detik, merupakan lagu pop uptempo yang dihiasi oleh musik psychedelic dan alternatif. Kedua elemen tersebut tercermin dalam outro yang lebih lambat daripada keseluruhan lagu. Maseta sendiri menginterpretasikan lagu ini sebagai proses mengejar sesuatu yang tak dapat diraih dan bagian outro itu sendiri sebagai burnout dan meltdown karena terlalu lelah. Melalui “CRASH n BURN”, mereka berusaha menemani pendengar yang merasa stres dengan keadaan.

Kolaborasi ini sendiri diinisiasi Cal setelah keduanya berteman melalui media sosial. “Lagi pengen banyak kolaborasi karena lama bermusik sendiri. Kebetulan ada demo yang gue pikir cocok untuk collab bareng Maseta dan dia menerima ajakan gue itu dengan excited”, ujar Cal. “Demo yang dikirim Cal itu menarik banget! Kita bikin bareng sampai hasilnya klik dan connected,” tambah Maseta. 

Terbiasa memproduksi sendirian, Cal menemukan banyak pengalaman baru melalui kolaborasi ini yang tak pernah ia dapatkan ketika bermusik sendiri. “CRASH n BURN” sendiri ditulis oleh keduanya, yakni Annisa Callystha dan Maseta Pratama dan diproduksi mereka berdua bersama Ollie Lazuardi. Singel ini melalui proses mixing oleh Wishnu Ikhsantama W. dan mastering oleh Bryan Lowe.

Selain itu, Maseta dan The Corner of My Room juga akan menggelar pagelaran dengan live band pada tanggal 4 Mei 2024 dalam rangka perayaan perilisan singel  “CRASH n BURN” di Nene Moyang, PosBloc, Jakarta Pusat, dengan aksi pembuka Adeliesa, Kura Kura Parafin, dan juga Carrom Club.

“CRASH n BURN” tersedia di seluruh kanal streaming digital mulai 26 April 2024.


Minggu, 31 Maret 2024

Ambil Sudut Pandang Romansa yang Monoton, Girl and Her Bad Mood Lepas “Loves Hates Loves”



Loetju.id - Malang - Lebih dari 5 bulan sejak rilisan terakhir mereka yang bertajuk “Heals”, band indie pop/dream pop Girl and Her Bad Mood kembali menelurkan karya terbaru yang diberi judul “Loves Hates Loves”. Seperti yang tersurat pada judulnya, lagu ini mengisahkan sisi atau angle lain dalam hubungan romansa yakni adanya titik jenuh, monoton, serta kontradiksi dari interaksi antara dua insan manusia. 

Di tengah banyaknya lagu yang menggambarkan kesempurnaan romansa, “Loves Hates Loves” berani mengulik sudut pandang lain sebuah hubungan dengan  menggambarkan rollercoaster emosi yang banyak dialami orang ketika menavigasi kerumitan cinta di era digital. Meramu lirik dan melodi yang ringan nan catchy, tembang ini mengajak para pendengarnya untuk menerima bahwa cinta bagaikan dua sisi mata uang. Ia bisa membuatmu terbang dan terlena, namun di sisi lain cinta juga bisa terasa membosankan hingga membuat frustasi. 

Liriknya sendiri ditulis oleh Bima Geraldi yang banyak mendapatkan ilham ketika saling bercerita dengan teman-teman yang banyak mengalami stagnasi dalam sebuah hubungan. “Saya banyak dengar curhatan teman-teman di sekitar dan menurut pengalaman saya sendiri juga cukup relatable terhadap concern ini. Akhirnya ditulis deh lirik buat lagu ini karena dirasa tema ini jarang di approach sama orang, padahal mungkin dialami sama hampir semua pasangan,” ungkap musisi yang berposisi sebagai gitaris sekaligus vokalis tersebut.

Vokal Bima yang beradu harmonis dengan Jane Maura menyempurnakan eksplorasi sound yang lebih luas terutama di bagian sound dan rhythm gitar. Girl and Her Bad Mood atau biasa disingkat GAHBM mengaku banyak terpengaruh oleh band kawakan Angels and Airwaves, serta beberapa band alternatif asal Jepang dalam menggubah musik di lagu ini. 

Gebukan drum yang beraromakan post-punk juga tidak terlepas dari pengaruh personel band Closure yakni Dugong dan Axel yang turut andil dalam memproduseri “Loves Hates Loves”. Direkam di Haum Studio, lagu yang juga dirilis secara digital via Haum Entertainment ini siap dinikmati oleh para pendengar setia GAHBM di tanggal 29 Maret 2024. Sebuah cover yang menggambarkan dua sejoli yang tidak lain adalah Jane Maura dengan kekasihnya sendiri mengiringi dirilisnya karya ini yang rasanya sangat sulit untuk dilewatkan. 

Band yang terdiri dari Bima Geraldi (gitar/vokal), Daffa Hanafi (gitar), Danang Seloaji (drum), Handy Wandawa (synth), dan Jane Maura (bass/lead vokal) ini juga menyambut peluncuran lagu baru dengan melepas sebuah merchandise khusus yang bisa dipantau di media sosial band tersebut. Tetap konsisten menampilkan musik mereka dari panggung ke panggung serta meluncurkan karya di saat bersamaan, GAHBM membuktikan komitmen mereka sebagai sebuah unit. 

“Meskipun kami punya kesibukan masing-masing dan bahkan terpisah jarak, kami menghargai komitmen yang dibuat sebagai sebuah grup dan menghormati jadwal masing-masing. Tapi tetap kami atur waktu yang tepat biar timeline proyek tetap aman,” bocor GAHBM tentang tips untuk tetap produktif. “Loves Hates Loves” diharapkan bisa dinikmati oleh para pendengar, baik yang tengah mengalami situasi yang tergambar di lagu ataupun mereka yang kisahnya baik-baik saja. 

“Cinta tidak selalu cerah dan berwarna-warni. Terkadang kacau, terkadang membosankan, dan terkadang membingungkan. Dan itu tidak apa-apa. 'Loves Hates Loves' merayakan sifat cinta yang kacau dan tidak sempurna,” tutup GAHBM. Nikmati karya ini di berbagai layanan streaming digital favoritmu!

The Fishska Kembali Rilis Karyanya Dalam Bentuk Vinyl 7” yang dirilis oleh Liquidator Records asal Madrid Spanyol

 




Loetju.id - Setelah merilis full lenght album bertajuk ”Banned in Jakarta” Oktober 2023 lalu, kini The Fishska kembali merilis karyanya dalam bentuk vinyl 7” yang dirilis oleh Liquidator Records.

Liquidator Records adalah sebuah label kenamaan di scene Ska dunia asal kota Madrid, Spanyol. Label ini mengkhususkan dirinya hanya merilis band band Traditional Ska, Rocksteady, Early Reggae, dan Soul dengan sound 60’an. Toni Face, sang pemilik label mengkonfirmasi bahwa The Fishska adalah band Asia pertama yang karyanya dirilis dibawah label miliknya tersebut.

Adapun 2 lagu yang dirilis dalam bentuk vinyl 7” tersebut adalah ”Johny’s Whiney” dan ”Confession of a Skinhead”. Kedua lagu ini diambil dari album baru mereka Banned in Jakarta.

”Johny’s whiney”, lagu yang berada pada side A vinyl 7” ini adalah lagu protes tentang betapa buruknya demokrasi dan pemerintahan Indonesia saat ini. ”Johny” adalah alter ego yang The Fishska ciptakan sebagai personifikasi dari pemimpin Rezim Oligarki yang memerintah Indonesia saat ini. Johny menjalankan pemerintahan yang begitu korup, anti kritik namun lihai dalam membuat pencitraan, pejabatnya kenyang sementara rakyatnya banyak yang merengek kelaparan dan tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sedangkan pada side B adalah ”Confession of A Skinhead”. Sebuah lagu tentang pengakuan ”dosa” seorang Skinhead yang di masa lalunya banyak melakukan tindakan yang tidak baik, membela kebanggaan semu, salah dalam memilih sahabat dan lingkaran pertemanan sehingga menjadi penyesalan namun juga pelajaran berharga bagi hidupnya.

Vinyl 7” ini dirilis di Madrid, Spanyol pada tanggal 22 Maret 2024, akan dicetak dalam jumlah terbatas diseluruh dunia ( www.liquidatormusic.com )

Sebuah langkah besar bagi The Fishska, namun hanyalah langkah kecil dalam bentang sejarah band ini kedepannya.

Senin, 18 Maret 2024

Melangkah dengan Formasi Baru, Hiraeth Mantap Rilis EP "Unintended"

 


Loetju.idAwal tahun 2024 menjadi penanda langkah baru bagi Hiraeth, unit hardcore metal asal Malang. Di bulan Februari 2024 ini, Hiraeth melahirkan EP yang berjudul “Unintended”.

Hiraeth sebetulnya bukanlah band baru. Band ini dibentuk pada tahun 2019. Namun, gejolak internal membuat band ini mengalami beberapa kali pergantian personel. Akhirnya di tahun 2024 ini Hiraeth mantap dengan formasi baru yang beranggotakan Dimas Adi sebagai vokalis, Jordan Malvino sebagai drummer, Teddy sebagai bassist, dan Abhidzarr sebagai gitaris.

Sebagai penanda langkah di kancah musik Indonesia, Hiraeth mengusung tema kesedihan. “Unintended” merupakan representasi dari duka dan lara atas sebuah kegagalan yang menyisakan kesakitan tak berujung. “Kami mengajak siapa pun yang saat ini sedang mengalami rasa sakit karena kegagalan untuk ‘merayakan’nya menjadi sebuah kesedihan yang menyenangkan,” ujar Abhidzarr.

Kelahiran EP ini tak jauh dari pengalaman pribadi para personel Hiraeth. Berbagai bentuk rasa sedih, keresahan, kekhawatiran, dan kekecewaan dituangkan dalam EP yang berisi 2 lagu dan 1 intro ini. “Remain Sense Of Pain” akhirnya dipilih sebagai lagu jagoan dalam EP “Unintended”, seolah merangkum kegelisahan yang terpancar dari EP “Unintended”.

This finger never touched the warm
In the empty temple
The rest of the pain
Sits on the throne eternity

“Dalam penggarapan materi untuk EP ini, semuanya muncul dengan spontan,” jelas Tedy. “Nggak jarang kami bercanda sehari-hari, malah dapat inspirasi materi-materi baru. Dari situlah bisa dibilang titik awal perjalanan Hiraeth dengan EP ini.”

Walaupun digarap hanya dalam sesi latihan yang terbilang singkat, EP yang digarap di AA Studio Musik Malang ini diramu dengan penuh keseriusan dengan menggandeng Mufid (@fiditrada_98) untuk memoles mixing dan masteringnya.

EP “Unintended” dapat dinikmati di Spotify dan berbagai layanan digital streaming platform lainnya mulai tanggal 29 Februari 2024. 

Hiraeth adalah unit hardcore metal yang beranggotakan Dimas Adi (vokal), Teddy (bass), Abhidzharr (gitar), dan Jordan Malvino (drum). Terbentuk sejak tahun 2019, band asal Malang ini banyak ter-influence dari band-band hardcore metal di era 90-an, seperti Earth Crisis, Morning Again, Spirit of Youth, dan sebagainya. Lebih dekat dengan Hiraeth di: Instagram: https://www.instagram.com/hiraethhcoffcl

Slowanderer Ungkap Fantasi Liar di Single “Dig In Deep Down”

 

Loetju.id - Kran kreativitas seorang musisi elektronik asal Malang yakni Slowanderer masih mengucur deras. Terbukti di paruh awal tahun 2024, musisi yang bernama asli Jul tersebut merilis sebuah single yang diberi judul “Dig In Deep Down”. Lagi-lagi tidak sendiri, setelah berhasil menggandeng Saladdays dan Fahem di 2 karya terdahulu, kali ini Slowanderer menggandeng Shuttleark di bagian penulisan lirik serta Karima Sasi yang mengisi bagian vokal. 

Kolaborasi ketiganya tercipta apik dengan Shuttleark yang menggubah lirik puitis dengan tema yang disiapkan oleh Slowanderer. “Menurut saya Shuttleark punya gaya penulisan yang phoetic dan cocok untuk tema kali ini. Sedangkan Karima Sasi menarik perhatian saya dengan proyeknya bersama band Eas.y dan saya rasa warna vokalnya sangat cocok untuk genre yang saya bawa. Karena kecocokan ini chemistry yang kami bangun cukup mudah saat sesi recording,” ungkap Slowanderer. Dibalut genre disko 80-an, vokal manis dan lirik liar menggelitik mewarnai “Dig In Deep Down”. 

Nuansa kental disco house era 80-an menjadi tema utama di single anyar ini dan menyaksikan sedikit pergeseran atmosfer dari genre tropical house yang biasa Slowanderer usung di karya terdahulu. “Saya banyak dengerin disco 80-an seperti ABBA, Aqua, Bee Gees, sampai lagu ikonik “I Will Survive” milik Gloria Gaynor. Pas cari-cari referensi inilah terbesit keinginan untuk membuat lagu disco karena masih memiliki akar yang sama dengan genre saya yakni house,” ujar Slowanderer. 

Tidak cukup di situ, Slowanderer juga menuangkan visi visualnya pada sebuah video klip untuk “Dig In Deep Down” yang diproduksi oleh rumah produksi Paguyuban Pembawa Pesan. Aktor Temi Adwin dan model Cornelia Renata didapuk sebagai pemeran utama dalam video yang berkisah tentang pertemuan seorang wanita dengan seorang pria di suatu bar yang memicu imajinasi dari sang wanita. Proses syuting yang dilakukan di Rust Bar, Malang dan sebuah mobil hanya memakan waktu 1 hari, sedangkan proses pasca produksi dilakukan hingga lebih dari satu bulan. 

Peluncuran lagu sekaligus video klip dari “Dig In Deep Down” ini membuat Slowanderer semakin tertarik untuk mengeksplorasi banyak subgenre musik house yang ia tekuni. “Goals utama tetap menghibur pendengar musik elektronik. Namun di tahun ini, secara musikal nampaknya aku akan mencoba lebih eksplore beberapa genre agar memberi opsi bagi teman-teman yang mendengarkan laguku,” imbuh sang musisi. Selain meramu musik, 

Slowanderer juga tengah mencoba peruntungannya sebagai konten kreator yang aktif membuat berbagai konten hiburan, edukatif, hingga mengocok perut yang masih berhubungan dengan musik. Musisi yang aktif di Tiktok dan Instagram Reels ini juga tidak menutup misi lainnya sebagai produser musik. Ia berharap ketiga passion tersebut bisa berjalan berdampingan dan membuat namanya semakin dikenal publik. “Dig In Deep Down” resmi dirilis di berbagai platform digital pada tanggal 1 Maret 2024 dan videonya bisa disaksikan di Youtube Slowanderer mulai tanggal 2 Maret 2024.

Kamis, 07 Maret 2024

Fanny Soegiarto Umumkan Mundur dari Grup Band Soegi Bornean

 


Loetju.id - Hari ini Jumat bertepatan dengan tanggal 1 Maret 2024, vokalis Grup Band Soegi Bornean Fanny Soegiarto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai vokalis dan anggota dari grup band Soegi Borneon lewat akun twitter atau X nya @fannysoegi jam 10:21 WIB.

Pelantun lagu viral berjudul Asmalibrasi ini memposting poster bertulis "Halo, saya Fanny Soegiarto, Saya ingin berbagi bahwa saya telah mengambil langkah keputusan untuk mengundurkan diri dari grup band Soegi Bornean. Keputusan ini tidak diambil secara gegabah, melainkan setelah pertimbangan yang matang. Saya mengucapkan terima kasih atas semua moment luar biasa yang telah dilalui selama ini. Saya berharap yang terbaik bagi perjalanan mereka ke depan. Lebih lanjut mengenai alasan kaputusan ini, akan saya sampaikan di waktu yang tepat. Terima kasih atas pengertian dan dukungannya semua pihak. Doa baik"


Dalam kolom reply Fanny menambahkan "Untuk kedepannya, saya akan tetap berkarya dan membawa identitas saya dalam bermusik. Serta secara legal akan tetap membawakan lagu ciptaan saya dan Dimec Tirta F. : Saturnus, Pijaraya, Asmalibrasi, Haribaan, Raksa, Kala, Samsara dan Aguna".

Seperti disampaikan belum jelas alasan Fanny mengundurkan diri dan belum ada tanggapan dari personil lain grup band Soegi Bornean. 

Sebagai informasi, Soegi Bornean adalah grup musik indie pop yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Grup ini terbentuk pada April 2019, beranggotakan Fanny Soegiarto (vokal), Aditya Ilyas (gitar), dan Bagas Prasetyo (gitar).

Mereka telah merilis album mini (EP) berjudul Atma pada 2020. Salah satu single mereka berjudul "Asmalibrasi" menempati posisi kedua di Spotify Weekly Top Songs Indonesia pada tanggal 7 Oktober 2022. Nama Soegi diambil dalam kata bahasa Jawa yakni 'sugih' yang berarti kaya. Sementara itu, Bornean berarti Kalimantan, yang merupakan kampung halaman sang vokalis, Fanny Soegiarto.


Anggota grup Band Indie Soegi Bornean 
Fanny Soegiarto – vokal (2019–sekarang)
Aditya Ilyas – gitar (2019–sekarang)
Bagas Prasetyo – gitar (2021–sekarang)
Damar Komar – gitar (2019–2021)


Diskografi

Single
Saturnus (2019)
Raksa (2020)
Semenjana (2021)
Samsara (2021)
Aguna (2023)

Album mini (EP)
Atma (2020)


Doa terbaik untuk kak Fanny, terus semangat dalam bermusik kami tunggu karya-karya selanjutnya untuk mewarnai blantika musik Indonesia.




Penulis
Nandar

Sentuhan Emosi Sabiella Maris Melalui Single Terbarunya "Uneasy"

 


Loetju.idMalang, Februari 2024 - Sabiella Maris kembali merilis karya terbarunya. Solois wanita ini meluncurkan single “Uneasy” yang mengusung tema yang meresap dan emosional. Dalam single ini, penyanyi dan penulis lagu wanita dari kota Malang tersebut menggambarkan perasaan kebingungan yang melanda ketika seseorang yang dekat dengan kita, mulai menjauh tanpa alasan yang jelas. 

Lagu ini menjadi rilisan pertama Sabiella pada tahun ini setelah terakhir merilis maxi single nya di bulan Agustus tahun lalu. Sabiella yang biasanya memilih jalur indie pop dengan sentuhan lo-fi dan sedikit dream pop, kali ini memilih memperkenalkan warna baru yang dalam musiknya yaitu ambient/space rock. 

Dalam wawancara terbaru, Sabiella Maris berbagi tentang inspirasi di balik "Uneasy". "Saya ingin mengekspresikan bagaimana rasanya ketika seseorang mulai menjauh dari kita tanpa penjelasan yang memadai. Rasa kebingungan, kehilangan, dan kekosongan yang menyertainya begitu kuat, dan saya berharap melalui lagu ini, orang-orang yang mengalami hal serupa merasa didengar dan dipahami” cerita Sabiella.

Tidak hanya warna baru dalam hal bermusiknya, kali ini Sabiella juga menuangkan kreatifitas yang lebih fresh. Proses rekaman single “Uneasy” dilakukan di Haum Studio/Entertainment dengan sentuhan ide dari Axel Kevin Yuridevara. Sabiella memiliki harapan agar lagu ini akan menjadi soundtrack bagi mereka yang sedang melalui perjalanan emosional yang sama. 

Tak ketinggalan, single "Uneasy" segera hadir di semua platform streaming digital mulai 24 Februari 2024 via self released. Pendengar di seluruh dunia diundang untuk menikmati dan terhubung dengan emosi yang disampaikan oleh Sabiella Maris melalui lagu ini.

Bobi Kurtz Rilis Empat Lagu Baru Violet Snow, What a Life, Green Clouds dan Jose Human



Loetju.idJakarta, 1 Maret 2024 – EP self-titled dari Bobi Kurtz telah dirilis secara lengkap dengan keluarnya empat lagu hari ini. Violet Snow, What a Life, Green Clouds dan Jose Human sudah bisa didengarkan di platform musik favorit anda. Violet Snow, What a Life, Green Clouds dan Jose Human sudah bisa didengarkan di platform musik favorit anda.

Violet Snow adalah ballad yang menceritakan kisah melodramatis mengenai akhir yang tiba-tiba dari sebuah hubungan. Lirik dan aransemen Violet Snow dirancang untuk menggambarkan seseorang yang patah hati di cuaca yang dingin.

What a Life menceritakan masa kecil Bobi yang religius, kisah cinta yang “tragis” saat masa remaja dan dilengkapi dengan reference dari olahraga dan modern art. Nada dari What a Life terdengar riang dan gembira, namun mengandung pesan yang tersembunyi.

Green Clouds berlatarkan di padang rumput di mana dua kekasih sedang berbaring di siang hari mendung – sebuah tempat dan kondisi di mana mereka bahagia berada di sisi satu sama lain sepanjang hari. Mereka berinteraksi intim dan pikiran mereka melayang ke tempat jauh yang indah dan layaknya mimpi.

Terakhir, Jose Human dimulai dengan cerita tentang pria kulit putih bernama Buster Jeffers, seorang veteran Perang Vietnam yang kesulitan berbaur di masyarakat modern karena reputasi buruknya. Seraya lagu berjalan, pendengar akan mendengar berbagai cerita dari Tyler Farrokh, Terome Stenson, dan Joe Gonzalez, berbagai pria dari ras minoritas di negara barat.

“Beberapa lagu dari EP ini ditulis pada 2017, dan akhirnya mereka bisa didengarkan oleh khalayak. Menurut saya semua lagu yang dirilis berbeda satu dengan yang lain, tapi masih memiliki jiwa dari Bobi Kurtz,” Bobi menjelaskan

“Lagu-lagu ini berada dekat di hati saya – dan meskipun tidak semua lagu menceritakan kisah pribadi saya, namun semua berasal dari pemikiran atau perasaan yang berada di dalam diri saya.”

“Jose Human misalnya – lagu yang sulit untuk ditulis, tapi sebagai orang ketiga yang melihat dari kejauhan dan memiliki keprihatinan mendalam, saya ingin menunjukkan hormat pada orang-orang yang tertindas. Tentu saja, saya tidak memiliki kapasitas untuk menceramahi orang, dan bukan itu maksud saya, tapi saya hanya ingin menunjukkan simpati.”

“Green Clouds dan Violet Snow adalah dua lagu yang mencerminkan perasaan yang sangat bertolak belakang yang pernah saya alami, yakni sumringah dan patah hati.”

“Sedangkan What a Life adalah homage kepada hidup saya dari masa kecil sampai usia 20an – semua terasa membingungkan. Saya tidak merasa semua yang lalui itu pahit, tapi saya tahu bahwa apa yang saya lewati sangat berbeda dari yang dilewati orang lain. Tapi yang bisa saya katakan, pengalaman saya membentuk perspektif saya yang tak lazim,” Bobi menjelaskan.


Tentang Bobi Kurtz

Bobi Kurtz adalah seorang penyanyi folk, penulis lagu dan penulis dari Jakarta, Indonesia. Dibesarkan oleh keluarga Kristen yang religius, Bobi memiliki ketertarikan pada musik, terutama vokal, sejak usia dini oleh karena keterlibatannya dalam kegiatan gereja. Meskipun begitu, Bobi baru belajar bermain gitar dan menulis lagu pada saat ia menginjak kelas 11.

Bob menulis beberapa lagu pertamanya saat berusia 19, namun saat usia 23 ia baru mulai menulis lagu yang berbasis literatur berkat pengalamannya di dunia jurnalistik dan menulis profesional. Panutan menulisnya di saat itu adalah Bob Dylan, Leonard Cohen, Nick Drake dan George Harrison.

Dalam kapasitasnya sebagai penulis lagu, Bob membahas berbagai subjek seperti pengalaman pribadi, kesehatan mental, sosio-politik dan kepercayaan.

Akhirnya, di usia yang baru menginjak 27 tahun, Bob merilis EP yang berjudul nama sendiri. Lagu-lagu yang ada di dalam EP Bobi Kurtz adalah Boston, Adieu, Violet Snow, What a Life, Green Clouds, dan Jose Human.

Selasa, 27 Februari 2024

Aleksiah Menghibur Dirinya di Masa Lalu lewat Single “24”

 


Loetju.idPenyanyi dan penulis lagu dari Adelaide, Australia bernama aleksiah kembali dengan sebuah pesan hangat untuk dirinya di masa lampau lewat lagu berjudul “24”. aleksiah menginterpretasikan tembang yang awalnya bernuansa gelap dan pesimistis menjadi sebuah sindiran lucu bagi dirinya di masa lalu. Diharapkan nomor ini menjadi sebuah pengingat bahwa semuanya akan menjadi lebih baik nantinya. 

“24” ditulis pada suatu waktu di mana saya merasa banyak keirian dan rasa benci terhadap diri sendiri. Waktu itu saya baru menginjak umur 22 tahun dan merasa sangat tertinggal dibanding teman-teman sejawat. Saya belum berani menyebarluaskan musik saya karena takut akan kegagalan, tapi alih-alih memperbaiki hidup dan kepercayaan diri, saya justru menulis sebuah lagu untuk menyindir diri saya sendiri dengan sinis,” ujar aleksiah. 

“24” menjadi titik balik perubahan pola pikir seorang aleksiah yang dibalut dalam tempo cepat dan instrumen musik pop yang berkilauan. Melawan ekspektasi sosial yang banyak membuat para pemuda pemudi kesulitan meraih mimpi, aleksiah berusaha menangkap sebuah perasaan ketika kita selalu merasa tertinggal jauh dari teman-teman. Membawa perspektif baru yang segar, “24” menjadi sebuah peringatan agar kita tidak terlalu keras pada diri sendiri. Selagi muda, seharusnya kita bisa lebih menikmati proses dan percaya pada masa depan. 

Sang penyanyi melanjutkan, “Saya akan menginjak usia 24 tahun ini dan seperti lagu yang saya tulis, akhirnya saya memegang kendali hidup saya. Saya ingin lagu ini juga memberi harapan yang sama kepada para pendengar, seperti yang saya alami.”

Para penggemar dan industri musik telah memberikan sambutan hangat bagi aleksiah sejak ia debut dengan lagu “Fern”. Setelah debut, radio nasional Australia Triple J juga memilihnya sebagai talenta kategori “Unearthed” (red: pendatang baru/upcoming artist) untuk festival Groovin the Moo 2023 yang diadakan di Wayville, sekaligus memasukkan dua lagu lainnya “Ant Song” dan “Pretty Picture” ke dalam daftar putar tetap mereka. Menjadi musisi ke-6 dengan lagu paling sering diputar dari kategori ‘Unearthed Artist’ di tahun 2023 dan terpilih jadi salah satu dari 6 musisi Australia yang diprediksi meledak di tahun 2024 oleh majalah Vogue, aleksiah membuktikan bahwa ia telah memberi kesan yang luar biasa. 

Di bawah manajemen artis Chugg Music asal Australia dan agensi Select Music sebagai booking agent-nya, karir bermusik aleksiah diprediksi akan semakin melejit. Ia berhasil memukau berbagai pelaku industri musik di BIGSOUND 2023 dan telah berbagai panggung dengan beberapa musisi ternama seperti Lime Cordiale, Kita Alexander, Holy Holy, Teenage Dads, Teenage Joans dan masih banyak lagi. Tengah merancang sebuah tur tunggal dan menjadi gig pembuka bagi musisi asal UK yakni Cavetown, aleksiah berada di jalan yang tepat untuk membuat namanya semakin dikenal.

Single “24” resmi dilepas pada tanggal 2 Februari 2024 secara digital di berbagai platform. “24” ditulis dan dinyanyikan oleh aleksiah, diproduksi dan aransemen oleh Chris Collins, serta melalui proses mastering oleh King Willy Sound.

Comika

Politika

Gen Z