Comedy, Indie and Creativity: Musik
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2026

Review dan Link Lagu Album Jalan Kaki dari Hifdzi Khoir 11 Track

 


Loetju.id - Komika Hifdzi Khoir yang dikenal sebagai anggota grup GJLS, vokalis grup musik Orkes Pensil Alis dan solois baru saja merilis album pada tanggal 2 Mei 2026 berjudul Jalan Kaki.

Album Jalan Kaki terdiri dari 11 track dengan kombinasi singgle lama dan baru, berikut daftar lagu lengkap dan reviewnya dari saya:


1. Ambigu 
Dinyanyikan sendiri oleh Hifdzi Khoir dan lagu Ambigu merupakan single lamanya berdurasi 3 menit 30 detik.


2. Terlambat
Kolaborasi dengan Kicuy Aduy yang merupakan sahabat dekatnya dan terbiasa dengan musik dadakan, lagu ini berdurasi 3 menit 25 detik.


3. Main Air YK
Kolaborasi bersama Olski berdurasi 3 menit 37 detik, lagu Main Air YK enak didengar.


4. Petrikor
Merupakan single lama juga yang bercerita tentang aroma setelah hujan jatuh, dinyanyikan oleh Hifdzi sendiri dengan durasi 3 menit 59 detik.



5. Istri
Lagu yang dipersembahkan untuk istrinya tercinta Echa mall, sangat curhat kehidupan rumah tanggamu sekali isinya Hip! berdurasi 3 menit 41 detik.



6. Gemintang
Materi lama yang easy listening, berdurasi 3 menit 42 detik. Bagus Hip!



7. Untukku Untukmu Juga
Duet bareng sang putri mungil Nadin Pribadi, lagu Untukku Untukmu Juga berdurasi paling pendek daripada lagu-lagu lainnya yaitu 2 menit 55 detik, tapi lagu ini berisi nasehat yang panjang untuk anaknya yang tersayang agar jadi anak yang suka berbagi dan baik hatinya.



8. Banyak Mau
Dalam lagu yang satu ini Hifdzi duet maut dengan Yono Bakrie yang juga dikenal sebagai musisi di kalangan para komika Indonesia, durasinya 3 menit 35 detik.



9. Sahabat Lama
Lagu yang bikin haru karena merupakan hasil kolab bersama alm. Gusti Irwan Wibowo dalam beberapa kesempatan Hifdzi menangis saat menyanyikan lagu ini, durasinya 4 menit 21 detik.



10. Kembali ke Jogja
Di lagu ini Hifdzi keroyokan bersama Orkes Pensil Alis dengan vokalisnya Mukti Entut dan ada rapnya dari Lil Mamat, durasi 4 menit 21 detik. Berkisah tentang kenangannya di Kota Jogja semasa kuliah dan merintis karirnya sebagai komika. Lagu ini postensial jadi lagu koplo yang viral, semoga segera dicover Ndarboy Genk dan Denny Caknan Hips!.



11. Takal
Album Jalan Kaki ditutup dengan lagu berjudul Takal berdurasi 3 menit 44 detik. Nuansanya kalem lebih ke refleksi diri dengan nuansa religi, cocok untuk kontemplasi Gen, Po.


Album Jalan Kaki Hifdzi Khoir ada 11 lagu


Saya sudah mendengarkan semua lagunya dan keseluruhan easy listening, paling suka materi lama Ambigu dan Petrikor untuk materi baru saya suka lagu Sahabat Lama, Istri, Kembali Ke Jogja dan Untukku Untukmu Juga.


Sukses Hip! untuk Album Jalan kakinya, walau sempat terjadi "kegaduhan" dengan band legendaris asal Jogja Festivalist dan mas Farid Stevy gara-gara becandaan Mukti Entut dan Yusril Fahriza di podcast Pemuda Edgy tentang perilisan album Hifdzi Khoir dan Festivalist  yang berjudul Paradoks Diametral berselang satu hari.


Hal ini semakin menjadi-jadi saat diamplifikasi oleh GJLSer di sosial media terutama Twitter, tidak cukup sampai disitu bahkan Festivalist sampai membuat surat "Ultimtimatum" untuk Hifdzi Khoir.


Tapi tenang ya guys, ini semua hanya becandaan jangan dibawa serius, selamat mendengarkan.


Oh ya ini Url Link Lagu Album Jalan Kaki Hifdzi Khoir secara legal di Spotify, klik di sini.



Penulis
Nandar

Minggu, 17 Mei 2026

“Berbalik Arah” Single Baru Jescara tentang Insecurity, Overthinking, dan Keberanian untuk Tetap Melangkah

 


Loetju.idTangerang Selatan, Mei 2026 - Musisi asal Pamulang, Tangerang Selatan, Jescara, akan merilis single terbarunya berjudul “Berbalik Arah” pada 15 Mei 2026 di seluruh platform musik digital. Lagu ini hadir sebagai karya akustik pop yang reflektif dengan balutan gitar hangat, piano yang emosional, dan lirik yang dekat dengan keresahan banyak orang di era sekarang.

“Berbalik Arah” bercerita tentang seseorang yang takut melangkah ke tahap berikutnya dalam hidupnya karena terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Di tengah era media sosial, perasaan selalu tertinggal, tidak cukup baik, hingga rendah diri menjadi hal yang semakin sering dirasakan banyak orang. Padahal, dirinya sendiri pun sedang berjuang dan menjalani proses terbaik yang ia bisa. Namun terkadang, proses yang panjang dapat membuat seseorang merasa lelah, hingga pikiran untuk menyerah terasa seperti jalan pintas yang paling mudah diambil.

Melawan suara keraguan dalam diri menjadi tantangan bagi setiap orang. Terkadang, justru mimpi terbesar yang ingin kita capai adalah hal yang paling sering memunculkan rasa takut dan ragu, bukan? Tapi bagaimana kita bisa menjalaninya? Melewatinya? Bukankah proses itu sendiri adalah bagian dari pelajaran hidup, untuk mengenal diri kita lebih baik?

Melalui lagu ini, Jescara ingin menyampaikan bahwa rasa insecure adalah hal yang manusiawi, namun tidak seharusnya membuat seseorang berhenti melangkah. Lagu ini mengajak pendengar untuk berhenti melihat orang lain sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang.

“Kadang kita sudah kalah sebelum mencoba. Padahal gagal yang sebenarnya adalah ketika kita memilih mundur dan tidak pernah mencoba sama sekali,” ujar Jescara mengenai pesan utama dalam lagu ini.

Secara musikal, “Berbalik Arah” terinspirasi dari nuansa akustik pop hangat ala The Overtunes dan Tulus. Aransemen lagu dibangun melalui kombinasi gitar akustik, piano, serta dinamika drum yang perlahan berkembang menjadi penuh harapan.

Beberapa potongan lirik yang menjadi inti dari lagu ini di antaranya:
“Jangan kau berbalik arah, berputar di dalam rasa
Seakan kau tak bisa, seakan kau tak pantas
Kita hanyalah manusia, tak ada yang sempurna
Kurang dan lebih kita, jadi peran berharga
Tuk mencapai asa” 

Dalam proses produksinya, Jescara berkolaborasi dengan Yuna Yunaldi sebagai produser sekaligus mixing engineer, serta Resha Aditya sebagai mastering engineer. Lagu ini juga menjadi karya yang sangat personal karena Jescara turut terlibat langsung dalam penulisan lagu, aransemen, hingga pengisian gitar dan backing vocal.

“Berbalik Arah” akan tersedia di seluruh layanan musik digital mulai 15 Mei 2026.


Tentang Jescara
Jessica Tiarany, yang dikenal dengan nama panggung Jescara, adalah musisi asal Pamulang, Tangerang Selatan, kelahiran 29 Oktober 1998. Nama “Jescara” berasal dari gabungan nama aslinya dengan kata ditengahnya “scar” yang berarti luka — Jescara berharap semoga setiap lagunya dapat menjadi ruang untuk membicarakan luka yang sama dan menemukan harapan menjadi manusia yang lebih baik dari apa yang sudah dialami.

Selain menulis dan menyanyi, Jescara juga pendiri Solsica Music Studio, tempat ia bergerak di dunia musi melalui pendidikan dan kedepan ingin banyak terlibat dalam produksi karya musisi lokal. Terinspirasi oleh musisi bergenre folk, neo soul, jazz, dan pop, Jescara berharap karya-karyanya menjadi ruang refleksi diri bagi pendengarnya.


Unit Melodic Hardocer Samarinda, The OUTLIER Lepas EP “This Love Hurts”, Potret Hubungan yang Tak Selalu Mulus

 


Loetju.id - Samarinda, 14 Mei 2026. Outlier, unit melodic hardcore asal Samarinda, resmi merilis EP THIS LOVE HURTS. Rilisan ini hadir sebagai refleksi emosional yang personal mengenai relasi antarmanusia, komitmen, kehilangan, serta proses pemulihan diri dalam upaya menemukan kedamaian setelah melewati fase kehidupan yang berat. Band melodic hardcore asal Samarinda, Kalimantan Timur ini terbentuk pada akhir tahun 2023 dengan formasi Bayu Handik Suprayogo pada vokal, Muhammad Ramadhani dan Muhammad Iswahyudi pada gitar, Ricky Aprianto pada bass, serta Dian Ananto Rayenda di posisi drum.


EP THIS LOVE HURTS tidak dibangun sebagai cerita yang rapi dan selesai. EP ini bergerak dari suasana pembuka dalam “The Prologue”, masuk ke empat lagu utama yang membawa tekanan berbeda, lalu ditutup oleh “The Epilogue”. Hasilnya adalah perjalanan singkat yang gelap, melankolis, tetapi tetap sederhana dalam penyampaian.


“EP ini inspirasinya kebanyakan dari kisah pribadi namun tidak sedikit juga menyangkut komentar sosial,” ungkap Dian Ananto Rayenda

Di dalamnya, “To The River” menggambarkan titik ketika seseorang telah memberi terlalu banyak namun tetap kehilangan arah. “Peace of Mind” menjadi ruang untuk melepas beban dan kenangan yang merusak. “Forever Unrest” membawa energi perlawanan dari seseorang yang memilih bangkit setelah lama menahan rasa sakit. Sementara itu, “All Alone” menangkap perasaan berjalan sendiri, mencari jalan pulang, lalu menyadari bahwa rumah yang dituju tidak lagi sama.
Secara musikal, Outlier menjaga karakter melodic hardcore yang padat dan emosional. Gitar menjadi lapisan tekanan utama, bass dan drum menjaga dorongan lagu tetap tegas, sementara vokal Bayu membawa narasi dengan pendekatan yang kasar, jujur, dan tidak dibuat berlebihan. Kehadiran Devia Winanda di “All Alone” memberi kontras yang lebih rapuh pada bagian paling personal dari EP ini. 

EP This Love Hurts direkam, dimix dan dimastering oleh Invader Records. Produksi ini berawal kurang dari satu tahun sejak proses pengerjaan single kedua mereka, “All Alone”, yang dimulai pada medio Mei 2025 hingga April 2026, OUTLIER terus bergerak secara konsisten dalam mengembangkan arah musikal sekaligus memperkuat identitas emosional yang mereka bangun. Rentang waktu tersebut menjadi fase penting bagi band asal Samarinda ini dalam merangkai berbagai keresahan personal, dinamika hubungan antarmanusia, hingga pengalaman emosional yang kemudian diterjemahkan menjadi materi-materi baru. Dari proses yang berjalan hampir selama setahun itu pula, OUTLIER perlahan mematangkan fondasi untuk melahirkan EP “This Love Hurts” sebagai rilisan yang merepresentasikan perjalanan emosional mereka secara lebih utuh dan intens.  

“Produksi ini dimulai sejak kurang dari satu tahun sejak pembuatan single kedua (All Alone), medio Mei 2025 sampai April 2026,” ujar Dian Ananto Rayenda 

Setelah merilis EP “This Love Hurts”, OUTLIER membuka kemungkinan untuk menjalani rangkaian tur di sejumlah kota di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Agenda tersebut direncanakan sebagai upaya mereka untuk membawa materi terbaru secara langsung ke pendengar sekaligus memperluas jangkauan skena di wilayah setempat. Di waktu yang bersamaan, OUTLIER juga tengah merampungkan proses pengerjaan single terbaru yang dipersiapkan sebagai langkah lanjutan setelah perilisan EP ini. 

“Setelah rilis, kemungkinan ada rencana untuk tur seputaran kota di  kaltim dan kaltara, sembari merampungkan single terbaru,” Jelas Dian Ananto Rayenda

EP ini memuat enam trek yang terdiri dari intro, empat lagu, dan outro. Materi ini direkam, mix dan master oleh Invader Records dan didistribusikan secara digital oleh Muara Records. EP THIS LOVE HURTS dapat didengarkan melalui berbagai Digital Streaming Platform pada 14 Mei 2026.

Sebagai satu rangkaian, “THIS LOVE HURTS” membaca luka sebagai proses yang tidak selalu rapi. EP ini dimulai dengan “The Prologue” sebagai pintu masuk, lalu bergerak ke “To The River” yang memakai sungai sebagai bayangan tentang pulang, pelepasan, dan keterjebakan. “Peace of Mind” menjadi titik hening ketika seseorang mulai mengosongkan diri dari ingatan yang melelahkan, sedangkan “Forever Unrest” mengubah kemarahan menjadi tenaga untuk bertahan. “All Alone” menjadi bagian paling manusiawi karena tidak hanya bicara soal putusnya koneksi, tetapi juga hilangnya arah dan tempat pulang. “The Epilogue” menutup EP ini dengan rasa yang masih menggantung, namun cukup jelas untuk memberi akhir pada perjalanan emosionalnya.

Dengan durasi yang ringkas, EP ini tidak berusaha menjelaskan semua luka secara berlebihan. Outlier memilih pendekatan yang lugas: menyebut rasa sakit apa adanya, memberi ruang untuk amarah, lalu membiarkan pendengar menemukan sendiri bagian yang paling dekat dengan pengalaman mereka.

Tentang OUTLIER
Band melodic hardcore asal Samarinda, Kalimantan Timur, OUTLIER, terbentuk pada akhir tahun 2023 dengan formasi Bayu pada vokal, Dhani dan Yudi pada gitar, Ricky pada bass, serta Dede di posisi drum. Outlier menawarkan musik melodic hardcore yang padat, melankolis, dan on point, Outlier menulis tentang keresahan, kehilangan, relasi manusia, dan usaha untuk tetap berjalan setelah masa yang sulit.


Gabriëlle Rilis “Animals” Ketika Mahasiswi 21 Tahun Menggugat Dunia Lewat EP Metal Debutnya

 


Loetju.id - Yogyakarta, 17 Mei 2026 - Di usia 21 tahun, saat banyak musisi masih mencari bentuk, Gabriëlle justru memilih untuk langsung menyerang. Lewat EP debut Animals, yang dirilis melalui Repertoart Records, ia meninggalkan pendekatan clean vocal di single sebelumnya Falling For An End dan beralih ke sesuatu yang jauh lebih kasar, lebih keras, dan lebih jujur—scream vocal yang membawa kemarahan ke permukaan.

Langkah ini bukan tanpa risiko. Gabriëlle baru mengenal musik metal sekitar empat tahun lalu, dan teknik extreme vocal baru ia pelajari dalam dua tahun terakhir. Namun di Animals, keterbatasan waktu itu justru terasa seperti bahan bakar—mendorongnya untuk tidak bermain aman dan langsung menempatkan dirinya di spektrum modern metal dengan pengaruh hardcore yang agresif.

Di balik agresinya, Animals dibangun di atas konsep yang jelas: empat lagu, empat representasi hewan—babi, anjing, domba, dan tikus—yang digunakan sebagai metafora untuk membedah isu geopolitik dan dinamika kekuasaan global. Dari siklus kekuasaan yang korup, ketaatan buta terhadap otoritas, hingga bagaimana kapitalisme memaksa manusia bekerja tanpa henti dan menguras tenaga serta jiwa demi keuntungan, EP ini berdiri sebagai respons personal terhadap kondisi dunia saat ini.

“Aku nggak nulis ini buat semua orang,” ujar Gabriëlle. “Kalau orang nggak suka, ya nggak apa-apa. Tapi kalau mereka relate, kalau mereka ngerasa ini ngomongin sesuatu yang nyata, itu udah cukup. Ini caraku buat ‘speak up’, karena aku sendiri nggak terlalu nyaman ngomong langsung di depan kamera atau di sosial media.”

Seluruh materi dalam Animals ditulis oleh Gabriëlle (Gabrielle Maryse Antoinette den Hertog), dengan produksi oleh Sambung Penumbra. EP ini akan tersedia di seluruh Digital Streaming Platforms (DSP) mulai 22 Mei 2026.

Gabriëlle adalah solois metal berusia 21 tahun yang saat ini berbasis di Yogyakarta. Meski baru mengenal musik metal dalam empat tahun terakhir dan mempelajari teknik extreme vocal selama dua tahun, ia telah mengembangkan pendekatan musikal yang agresif dan eksploratif. Menggabungkan berbagai elemen modern metal dengan pengaruh hardcore, Gabriëlle menjadikan musik sebagai medium untuk menyuarakan keresahan terhadap isu-isu global, khususnya yang berkaitan dengan kekuasaan, hukum, dan dinamika sosial.


Oleh: 
Ghulam Tufail

Costive feat Amanda Putri (Drizzly) Lewat Single Terbaru “Soft Luck” Refleksikan Rasa Syukur dalam Hubungan

 


Loetju.id - Malang, 15 Mei 2026 - Costive kembali merilis karya terbaru berjudul “Soft Luck”, sebuah lagu dengan irama musik alternative-rock yang mengangkat sisi hangat dari sebuah hubungan dengan rasa syukur karena memiliki seseorang yang selalu hadir dan memberi arti.

Lewat lirik yang sederhana namun emosional, “Soft Luck” menggambarkan perasaan seseorang yang menyadari betapa berharganya kehadiran pasangannya dalam hidup.

Single “Softluck” yang ditulis oleh Aldy merupakan lagu tentang rasa syukur ketika menyadari betapa beruntungnya memiliki seseorang yang tetap memilih untuk tinggal, bertahan, dan menjaga di tengah segala ketidaksempurnaan. Lewat lirik-lirik yang jujur dan personal, lagu ini tidak hanya berbicara soal cinta, tetapi juga penghargaan terhadap hal-hal kecil yang sering terlewat dari sosok yang selalu hadir dan memberi dukungan. Dengan nuansa penuh ketulusan, kesetiaan, serta harapan agar hubungan tetap terjaga, “Softluck” menjadi ungkapan terima kasih mendalam bagi mereka yang tanpa disadari memiliki peran besar dalam hidup seseorang. 

“Sebenernya lagu ini lahir dari rasa syukur sederhana ketika kita sadar kalau ada orang yang tetap bertahan dan milih ada buat kita. ‘Softluck’ jadi semacam pengakuan jujur sih, karena tanpa dukungan dan kebaikan mereka, mungkin aku juga nggak akan sampai di titik sekarang,” ujar Aldy 

Beranggotakan 5 personil yaitu Aldy (Vocal), Poteh (Lead Guitar), Marcellino (Rhythm Guitar), Reyhan (Bass), dan Ivan (Drum), Costive menghadirkan komposisi yang lembut namun tetap emosional,membangun atmosfer intim yang memperkuat pesan lagu. Dalam single ini, Costive juga berkolaborasi dengan Manda, vokalis dari band Drizzly asal Surabaya, yang memberikan sentuhan vokal yang hangat dan penuh perasaan.

Single “Soft Luck” ditulis oleh Aldy dan diproduseri oleh Marcellino di H4ze Studio miliknya, sementara proses rekaman drum dilakukan oleh Ivan di Virtuoso Music Studio Malang. Untuk proses mixing & mastering, single ini dikerjakan oleh Yudhistiro Lilo P. di W8 Project Studio. 

Awalnya brainstorming dan workshop single ini dimulai pada pertengahan September 2025 dan selesai pada awal Desember 2025. Kemudian produksi single ini dilanjutkan dan diselesaikan pada pertengahan Maret 2026. 

Untuk rencana setelah merilis single “Softluck” Costive akan langsung merilis EP yang akan berisi 6 lagu termasuk 3 single sebelumnya (Gone But Never Gone, Outworn, Softluck).

Costive adalah unit alt-rock dari Malang yang terdiri dari 5 personil yaitu Aldy (Vocal), Poteh (Lead Guitar), Marcellino (Rhythm Guitar), Reyhan (Bass), dan Ivan (Drum). Costive berdiri sejak Juni 2023.


Costive - Softluck feat Amanda Putri

Lyrics:

Verse:
You learned for it, you earned for it
I hold your hand, and take you to the end

It has become a curse
I have to take a course
To avoid making mistakes
And it’s your heart I break

Make me wonder why I keep falling
(Make me wonder why I keep falling)

Chorus:
So thankful for everything you have done
And for all the good you bring my way

And I will wait for you / I will be waiting for you
Please don’t go away

What more is there to say?
Please come and stay

And I will be here for you
Don’t go away

What more is there to say?

Come stay



Senin, 27 April 2026

Nevenue and All Birds Are Onion Rilis Single Kolaborasi Unsafe Zone You Could Enter

 



Loetju.idTulungagung, 24 Maret 2026 – Nevenue dan All Birds Are Onion, dua nama dari ranah alternative emo Tulungagung, Jawa Timur, kembali hadir melalui rilisan kolaborasi bertajuk "Unsafe Zone You Could Enter". Nevenue yang beranggotakan Figo (vokal), Raka (drum), Kindi (bass), Vikry (gitar), dan Izar (gitar) ini berkolaborasi dengan All Birds Are Onion untuk mengkombinasikan sound gitar twinkle dari midwest emo dengan dream pop emo untuk hasil sound yang dreamy namun intim . Single ini rencananya akan dirilis secara digital pada 24 April 2026 dengan menawarkan eksplorasi sound yang unik yang menjadi penanda pertama kolaborasi resmi mereka setelah sebelumnya bergerak terpisah di skena musik Tulungagung. Tanggal rilis ini juga bertepatan dengan sehari sebelum penampilan mereka di Acara Keluarga Midwest #1 di Malang.

Single “Unsafe Zone You Could Enter” lahir dari upaya menciptakan ruang aman di tengah wilayah emosional yang justru terasa rawan. Tema ini terinspirasi dari pengalaman personal tentang dikotomi antara keinginan untuk terbuka dan rasa takut akan konsekuensi yang menyertainya. Lirik yang ditulis oleh Onny Alberto menggambarkan pergulatan batin yang abstrak namun membumi, dibungkus dalam aransemen twinkly midwest emo yang melankolis namun eksplosif.

“Lagu ini sebenarnya berbicara tentang keberanian untuk memasuki zona yang tidak nyaman. Kita sering kali merasa aman di zona yang sudah dikenal, tapi kadang pertumbuhan justru terjadi saat kita berani melangkah ke tempat yang belum tentu nyaman. Judulnya ‘Unsafe Zone You Could Enter’ itu paradoks, karena justru di situ kita bisa menemukan versi baru dari diri sendiri,” ujar Onny Alberto 


Secara musikal, kolaborasi ini melibatkan produksi bersama oleh Nevenue dan All Birds Are Onion. Proses rekaman dilakukan oleh Muhammad Izar Runnaja, sementara mixing dan mastering dipercayakan kepada Febri Antonia di Orvius Soundlab. Hasilnya adalah perpaduan rapi antara kekuatan vokal yang emosional dengan dinamika instrumentasi yang cair, sesuatu yang menjadi ciri khas kedua band ketika bersatu. Dalam prosesnya, mereka memilih mengerjakan sendiri seluruh tahapan agar nuansa kolaborasi terasa otentik. Mulai dari produksi, rekaman, hingga desain visual, semuanya dilibatkan langsung. Cover foto sendiri digarap oleh Ananda Elang Caraka dan Onny Alberto, sehingga dari awal sampai akhir karya ini benar-benar mencerminkan visi bersama.

Single “Unsafe Zone You Could Enter” akan tersedia di berbagai platform streaming digital mulai 24 April 2026.-alfan-


Tentang Nevenue dan Onny Alberto

Nevenue adalah band emo/alternative asal Tulungagung yang terbentuk pada 2024, dengan formasi Raka (drum), Kindi (bass), Vickry dan Izar (gitar), serta Figo (vokal). Mereka mengusung perpaduan ambient pop, emo, dan rock alternatif dengan pendekatan atmosferik dan emosional yang kuat. Debut mereka ditandai lewat single “Endless Goodbye” (2025), yang mengangkat tema kehilangan dan perpisahan yang terasa tak berujung. Dalam fase awal perjalanannya, Nevenue juga merencanakan kolaborasi dengan proyek/band All Birds Are Onion bersama Onny Alberto sebagai langkah eksplorasi lanjutan sebelum menggarap EP perdana mereka, menandai keterbukaan mereka terhadap kolaborasi lintas proyek di skena independen


Sabtu, 25 April 2026

Sedang Jatuh Cinta, Silly Fragments Ungkap Perasaan Lewat Meant to Stay




Loetju.idMalang - Band pop alternatif asal Malang, Silly Fragments, resmi merilis single terbarunya bertajuk “Meant to Stay” di tanggal 22 April 2026. Beranggotakan para remaja wanita hebat yakni Alodia Amoreta (vokal & gitar), Dania Almayra (vokal & bass), Aretha Puspa (gitar), dan Nabila Asyla (drum), single ini merupakan karya kedua mereka setelah merilis “And Remains...” di tahun 2025.

“Meant to Stay” menceritakan tentang rasa suka yang tumbuh cepat dan dalam terhadap seseorang yang terasa berbeda hingga tanpa sadar kita mulai mengikuti dunianya. Ditulis oleh sang bassist yakni Dani yang terinspirasi oleh pengalaman pribadinya, “Meant to Stay” merupakan lagu bergenre pop alternatif dengan sentuhan nuansa dream-pop lewat reverb gitar yang ringan serta melodi yang catchy.

“Lagu ini udah ditulis cukup lama, bahkan barengan sama “And Remains”, jadi bisa dibilang ini termasuk karya yang udah kita simpan dan tunggu momennya. Untuk proses rekamannya sendiri, jujur baru terealisasi sekarang,” ungkap Silly Fragments yang sedikit terkendala akibat adanya pergantian formasi personel. Puspa sebagai gitaris baru membutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi dengan melodi dan visi yang diinginkan untuk “Meant to Stay”. Setelah mengulik lagu ini serta menyesuaikan dengan gaya permainan gitarnya, “Meant to Stay” justru jadi salah satu lagu favorit Puspa. Lagu ini juga mengalami beberapa kali revisi seiring dengan masuknya berbagai saran dan eksperimen dari para personnel, hingga lahirlah hasil final yang kita nikmati sekarang.

Menulis lirik saat sedang dimabuk cinta menjadikan lagu “Meant to Stay” romantis sekaligus personal bagi Dani. Ia pun mengungkapkan bahwa sang pujaan hati cukup terkejut dan salah tingkah ketika tahu bahwa lagu ini menceritakan tentang hubungan mereka. Kepribadian, hobi, hingga selera musik yang berbeda antara sepasang kekasih seperti yang tertulis di lirik lagu tersebut, terasa relevan bagi para pendengar di luar sana.

“Harapan kami, lewat “Meant to Stay”, siapa pun yang denger baik yang lagi punya pasangan atau nggak tetap bisa ngerasain hangatnya jatuh cinta, atau setidaknya merasa “dianggap” dan “dicintai” lewat lagu ini,” kata mereka.

Lebih jauh, dengan single kedua ini Silly Fragments ingin terus belajar tentang industri musik baik dari segi produksi hingga penampilan di atas panggung. “Perjalanan manggung kita masih dalam tahap berkembang. Walaupun sudah beberapa kali tampil, kita sadar kalau interaksi dengan audiens masih bisa banget ditingkatkan. Ada sedikit kecanggungan ketika on stage, dengan semakin banyak manggung kita pengen membangun koneksi lebih kuat dengan penonton sehingga mereka juga merasakan energi dari Silly Fragments,” tutup band ini.

“Meant to Stay” bisa dinikmati di berbagai kanal streaming digital andalanmu dan jangan lupa pantau terus informasi terbaru dari Silly Fragments di akun @sillyfragments via Instagram atau Tiktok.


Profile Band Silly Fragments

Silly Fragments adalah band asal Kota Malang yang dibentuk pada awal tahun 2024 oleh empat gadis remaja. Band ini beranggotakan Alodia Amoreta Candra Kirana sebagai vokalis dan gitaris, Dania Almayra Chandra sebagai vokalis dan bassis, Aretha Puspa Indriani sebagai gitaris, serta Nabila Asyla sebagai drummer.

Silly Fragments berawal dari keinginan Alodia untuk membentuk sebuah band. Ia kemudian mengajak Dania, sahabatnya sejak SMP, untuk bergabung sebagai bassist. Dalam proses melengkapi formasi, Alodia sempat merasa kebingungan mencari gitaris yang tepat. Ia pun menanyakan kepada teman dekatnya apakah memiliki kenalan yang bisa mengisi posisi tersebut. Dari situlah, ia diperkenalkan kepada Aretha Puspa Indriani, yang kemudian bergabung sebagai gitaris. Sementara itu, Dania juga mengajak teman sekelasnya, Nabila, untuk mengisi posisi drummer, sehingga formasi band pun akhirnya lengkap.

Mengambil inspirasi dari band-band seperti Grrrl Gang dan Alvvays, Silly Fragments memilih genre alternative pop sebagai identitas musik mereka. Dengan semangat dan energi yang ceria, mereka siap mewarnai harimu melalui alunan musik yang seru dan penuh semangat.

Kamis, 23 April 2026

One More Light Rilis Save My Heart, Potret Kehilangan di Fase Paling Rapuh

 


Loetju.id - Malang, 23 April 2026 - Trio sophisti-pop asal Malang, One More Light, telah hadir kembali untuk memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Save My Heart”. Dirilis di DSP sejak 17 April 2026, lagu ini mengangkat narasi emosional tentang kehilangan, ketidakhadiran, dan kebutuhan akan dukungan di masa paling sulit dalam hidup. Lagu ini terinspirasi oleh pengalaman Rezy sendiri.

Single “Save My Heart bercerita tentang seorang wanita yang ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, tepat saat ia sedang berada di fase paling sulit dalam hidupnya. Di sisi lain, si lelaki merasa bahwa keputusannya untuk pergi adalah yang terbaik saat itu. Padahal, yang dibutuhkan si wanita hanyalah kehadiran lelaki tersebut di sampingnya untuk menyemangati dan membantunya menemukan cara untuk bangkit kembali. Cerita dari single ini terinspirasi dari masa lalu aku sendiri,” ujar Rezy 

Lagu ini dikomposeri sekaligus ditulis liriknya oleh Pradhita Wahyu Alfarezy (Rezy), dengan vokal dibawakan oleh Nindi Cahya Sahputra (Cahya). Aransemen gitar diisi oleh Randa Kresna Putra Pangestu (Randa) dan Rezy. Proses produksi melibatkan Decky Anugrah bersama seluruh personel, yaitu Rezy, Randa, dan Cahya, yang turut berperan sebagai produser. Rekaman dilakukan di Paraduta Record, sementara tahap mixing dan mastering ditangani oleh Rama Satria Mahriadi. Untuk aspek visual, artwork dikerjakan oleh Nindi Cahya Sahputra. Untuk band photo digarap di Kuy Studio. 

Setelah merilis single ini, One More Light berencana melanjutkan perjalanannya melalui rangkaian Road To Showcase atau hearing session sebagai langkah untuk lebih dekat dengan para pendengar. Melalui agenda ini, mereka ingin menghadirkan pengalaman mendengarkan yang lebih intim, sekaligus menjadi ruang interaksi langsung untuk membagikan cerita di balik lagu serta proses kreatif yang mereka jalani. 

“Setelah perilisan single ini, One More Light berencana menggelar rangkaian Road To Showcase atau hearing session,” ujar Randa. 

Single “Save My Heart” sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming digital. Dengarkan sekarang, bagikan ke teman terdekatmu, dan ikuti perjalanan One More Light menuju rangkaian Road To Showcase serta hearing session mereka selanjutnya.-alfan-

Rabu, 22 April 2026

Maestoso Rayakan 11 Tahun Perjalanan Musik dengan Merilis Single Terbaru “Karma”

 



Loetju.id - MALANG Band Japanese Rock asal Malang, MAESTOSO, resmi merilis single terbaru mereka bertajuk “Karma” pada 14 April 2026, bertepatan dengan momen spesial 11 tahun perjalanan band sejak pertama kali terbentuk pada 14 April 2015.

Perilisan ini menjadi penanda fase baru bagi MAESTOSO dalam merayakan lebih dari satu dekade eksistensi mereka di skena musik independen, sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan musikal yang terus berkembang dengan karakter khas Japanese rock yang emosional, gelap, dan teatrikal.

Lewat “Karma”, MAESTOSO mengangkat tema yang dekat dengan realitas sosial, yakni perundungan (bullying) serta konsekuensi dari setiap tindakan yang pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya. Lagu ini berbicara tentang luka yang ditinggalkan oleh kata-kata maupun perlakuan, sekaligus keyakinan bahwa setiap perbuatan memiliki akibat yang tak bisa dihindari.

“Karma” dibangun melalui aransemen gitar yang agresif dari Wima dan Yudha, lapisan bass yang solid dari Jordy, permainan drum dinamis dari Tama, serta sentuhan keyboard atmosferik dari Benny yang memperkuat nuansa dramatik lagu. Di atas fondasi tersebut, vokal emosional dari Satria menjadi medium utama dalam menyampaikan rasa sakit, amarah, dan pesan tentang hukum sebab-akibat.

“Karma adalah suara bagi mereka yang pernah direndahkan atau disakiti. Kami ingin menyampaikan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Cepat atau lambat, semuanya akan kembali,” ujar Satria, vokalis MAESTOSO.

Sebagai band yang dikenal dengan identitas visual dan musikal bernuansa Jepang, MAESTOSO tetap mempertahankan elemen emosional yang menjadi ciri khas mereka, namun kali ini dengan pendekatan yang lebih matang dan intens.

Single “Karma” sudah tersedia di seluruh digital streaming platforms (DSP) mulai 14 April 2026.

MAESTOSO
Japanese Rock Band from Malang, Indonesia

MAESTOSO adalah band Japanese rock asal Malang, Indonesia, yang terbentuk pada 14 April

2015. Mengusung konsep jejepangan dengan nuansa megah, gelap, emosional, dan teatrikal,
MAESTOSO menghadirkan warna musik yang terinspirasi dari karakter Japanese rock dengan sentuhan modern dan energi panggung yang intens.

Selama lebih dari satu dekade perjalanan bermusik, MAESTOSO konsisten membangun
identitas musikal yang kuat melalui perpaduan distorsi gitar yang agresif, melodi minor yang
melankolis, lapisan keyboard atmosferik, serta vokal ekspresif yang sarat emosi. Musik mereka banyak mengeksplorasi tema konflik batin, luka emosional, realitas sosial, hingga hukum sebab-akibat dalam kehidupan.

Band ini digawangi oleh enam personel:
Satria (Vokal),
Wima (Gitar 1),
Yudha (Gitar 2),
Jordy (Bass),
Benny (Keyboard),
Tama (Drum).

Kekompakan musikal dan chemistry antar personel menjadi fondasi utama dalam setiap karya
yang mereka ciptakan.

Pada 14 April 2026, bertepatan dengan 11 tahun perjalanan mereka, MAESTOSO merilis
single berjudul “Karma”, sebuah karya yang mengangkat tema perundungan (bullying) dan
konsekuensi dari setiap tindakan. Lagu ini menegaskan komitmen MAESTOSO untuk tidak
hanya menghadirkan musik yang kuat secara musikal, tetapi juga memiliki pesan yang relevan secara sosial.

Dengan konsep visual dan musikal yang khas, MAESTOSO terus berkembang sebagai
representasi Japanese rock di skena musik independen Malang dan Indonesia. Mereka
menargetkan pendengar pecinta Japanese culture, komunitas jejepangan, serta penikmat rock alternatif yang mencari pengalaman musikal yang emosional dan berbeda.

Kamis, 09 April 2026

Trio Emo Beeswax Hadir Kembali dengan Self Titled Album, Peringatan 12 Tahun Eksistensi Dalam Berkarya



Loetju.id - Malang, 10 April 2026 - Lama menjalani karirnya dengan tampil dan rilis single demi single setelah album ketiga, Beeswax kembali dengan sebuah album yang merangkum perjalanan panjang mereka melalui album penuh self titled Beeswax. Trio emotif yang terdiri dari Bagas Yudhiswa (vokal/gitar), Putra Vibrananda (vokal/bass), dan R. Yanuar Ade Laksono (drum) ini menghadirkan sebuah rilisan yang tidak sekadar nostalgia, melainkan juga refleksi mendalam atas evolusi musikal dan personal mereka yang hadir pada 10 April 2026.

Sebagai salah satu pionir dalam skena midwest emo di Indonesia, khususnya Jawa Timur, Beeswax telah menempuh perjalanan panjang yang kini memasuki tahun ke-12. Di mana usia 12 tahun ini sebuah proses yang tidak singkat dan dipenuhi dinamika, tantangan, serta berbagai pembaruan hingga membentuk reputasi mereka hari ini. Berawal sebagai proyek one-man band pada 2014, Beeswax kemudian berkembang menjadi kuartet di album kedua sampai album ketiga sebelum menjadi trio seperti sekarang, dengan identitas musikal yang sejak awal kuat dipengaruhi gelombang Midwest emo era 90-an dan emo revival global di era 2010an. Melalui album Beeswax ini, Beeswax tidak hanya menghadirkan karya terbaru, tetapi juga merayakan sekaligus mensyukuri perjalanan tersebut sebagai penanda penting atas evolusi musikal dan personal mereka yang kini hadir dengan kedewasaan baru.

Album self-titled ini menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini. Beeswax meninjau kembali dua rilisan awal mereka yaitu EP First Step dan LP Growing Up Late yang ditulis saat mereka masih berada di usia 20-an. Kini, 16 lagu dalam album ini diaransemen ulang untuk merepresentasikan perkembangan selera, pengalaman, dan kedalaman emosional yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun. 

“Album Beeswax ini kami hadirkan untuk mengingatkan kembali pada kami terutama kenapa dan bagaimana Beeswax lahir, di mana nggak terasa kami sudah berjalan 12 tahun,” ujar Bagas.

Rangkaian perilisan dimulai dengan single “THE BRIDGE OF THE EMPTYNESS” pada Februari 2026, diikuti oleh “TAKE ME HOME” pada Maret 2026 yang dirilis bertepatan dengan perayaan Idulfitri. Puncaknya, Beeswax merilis fokus track “THE MOST PATHETIC ONE ON PLANET” pada 10 April 2026 bersamaan dengan peluncuran album secara keseluruhan.

Di lagu “THE MOST PATHETIC ONE ON PLANET” Beeswax menghadirkan kolaborasi spesial bersama Alditsa Decca Nugraha alias Dochi Sadega, sosok yang dikenal luas melalui Pee Wee Gaskins. Kolaborasi ini lahir dari hubungan panjang yang telah terjalin serta kesamaan ketertarikan terhadap musik emo/Midwest emo. Bagi Beeswax, Dochi merupakan figur yang rendah hati dan memiliki kedekatan emosional dengan genre yang mereka usung, sehingga kehadirannya terasa organik dalam lagu ini.

Secara tematis, lagu tersebut menggambarkan pengalaman menyaksikan rasa sakit orang lain dari jarak yang sangat dekat yaitu, sebuah posisi yang sarat dengan dilema antara kepedulian, ketidakberdayaan, dan komitmen. Alih-alih menawarkan solusi, lagu ini justru mengajak pendengar untuk bertahan dalam ruang emosional tersebut. Pendekatan ini menjadi benang merah bagi keseluruhan album: menghadapi masa lalu tanpa romantisasi, melainkan dengan pemahaman yang lebih dewasa.

Proses rekaman album berlangsung selama 3 bulan, menjadi ruang eksplorasi ulang terhadap materi lama dengan perspektif yang lebih jujur dan matang. Proses produksi sepenuhnya dikerjakan secara mandiri oleh para personel. Bagas Yudhiswa Putera, Putra Vibrananda Abrianto, dan Yanuar Ade Laksono terlibat sebagai penulis, komposer, sekaligus produser dan arranger. Bagas juga menangani proses mixing dan mastering. Proses rekaman drum dan vokal  dilakukan di Studio Pelikan dan Rotary, Surabaya. Untuk perekaman backing vocal berlangsung di Creatorix Studio, Malang. Proyek ini didukung juga oleh tim di balik layar seperti dari sisi visual dan kreatif, Iqbal Febrian P dan Novita Widia Rahayu (kreatif), Juniansyah Magesta Putra dan Imam Uzed Alifi (artwork), serta Ahyas Budi (fotografer).

“Kami menghabiskan total waktu selama 3 bulan untuk produksi album ini. Tentu saja ada dinamika di dalamnya seperti kendala jarak dan waktu. Untuk mengatasinya kami kerjakan dengan prinsip alon-alon asal kelakon,” tutur Yanuar.

Beeswax menyampaikan harapan sederhana namun tulus untuk langkah mereka ke depan: tidak muluk-muluk soal rencana besar, entah itu tur atau rilisan single baru, yang terpenting adalah dukungan dan doa agar mereka bisa terus berjalan, berkarya, dan menjaga perjalanan ini tetap hidup.

“Untuk rencana setelah album ini, kami mohon kepada para teman-teman fans, doain aja, tour boleh, single boleh, pokok doa nya aja,” tutup Yanuar.

Dengan mengolah ulang materi dari fase awal perjalanan mereka, Beeswax tidak berusaha mengubah masa lalu, melainkan menempatkannya dalam konteks baru dengan membuka ruang bagi pendengar lama untuk bernostalgia sekaligus mengajak pendengar baru merasakan cerita yang sama dari sudut pandang berbeda. Kini, di usia kepala tiga, Beeswax menunjukkan bahwa pertumbuhan bukan tentang meninggalkan masa lalu, tetapi memahaminya dengan lebih jujur; menjadikan album “Beeswax” sebagai jembatan antara waktu, pengalaman, dan generasi, sekaligus pernyataan bahwa musik akan selalu bertumbuh dan menemukan maknanya kembali di setiap fase kehidupan. -alfan-
 

Jumat, 13 Februari 2026

Ceritakan Tentang Kehilangan Kasih Dan Kehilangan Arah, Reconcile Rilis EP Left Me Lost




Loetju.idMalang, 13 February 2026 – Unit emo/alternative asal Malang, Reconcile, resmi merilis EP terbaru bertajuk Left Me Lost. EP ini menjadi penanda fase reflektif Reconcile, menghadirkan narasi tentang kehilangan kasih sayang, keterasingan diri, dan kebingungan dalam menentukan arah hidup, dikemas lewat materi yang mengawang, abrasif namun emosional. Secara garis besar, Left Me Lost berbicara tentang kondisi batin seseorang yang kehilangan figur kasih sayang, lalu perlahan kehilangan pegangan atas dirinya sendiri. Tema ini menjadi benang merah dari keseluruhan EP, menghadirkan suasana lengang, rapuh, dan penuh pertanyaan serta keresahan yang dekat dengan pengalaman banyak orang.

“Secara tema, Left Me Lost bercerita tentang seseorang yang kehilangan kasih sayang, lalu ikut kehilangan dirinya sendiri, dan berada di fase kebingungan tanpa benar-benar tahu ke mana harus melangkah,” jelas Dava.
EP Left Me Lost dirilis di bawah naungan Haum Entertainment dengan Reconcile bertindak sebagai produser. Proses rekaman dilakukan di Rc:en Studio Recording, kecuali vokal lagu “Keep Us Alive” yang direkam di W8 Project Studio. Engineering ditangani oleh Nabil Zuhdi Prasetya, sementara proses mixing dan mastering dilakukan di W8 Project Studio oleh Yudhistiro Lilo P. Penulisan lirik dikerjakan oleh Dava Hendra Firmansyah dan Chelsey Agustine, dengan komposisi lagu yang digarap bersama Zidane Marvelo dan Nabil Zuhdi Prasetya. Untuk visual, artwork dan tata letak sampul EP ini dikerjakan oleh Adored Studio. 

“EP Left Me Lost kami garap sejak Juli sampai Desember 2025. Prosesnya memang terasa lebih lambat karena kami harus menyesuaikan waktu dengan gitaris kami, Nabil, yang sedang kuliah di Taiwan, sehingga sebagian proses rekaman dilakukan secara jarak jauh,” tutur Dava
EP Left Me Lost digarap dalam rentang waktu Juli hingga Desember 2025 dengan proses produksi yang tidak sepenuhnya berjalan secara konvensional karena perbedaan jarak dan zona waktu personil-personil yang kuliah di luar negeri. Ke depan, Reconcile belum mengunci langkah pasti pasca-rilis EP ini, namun keinginan untuk terus bergerak tetap ada.

“Untuk rencana setelah EP ini sebenarnya belum ada yang benar-benar fix, tapi keinginan untuk membuat materi lagu baru dengan konsep yang lebih berbeda itu sudah ada. Untuk sementara, kami ingin lebih aktif menjajaki gigs-gigs live,” tutup Dava.
EP Left Me Lost kini sudah dapat didengarkan di seluruh digital streaming platform pada 13 Februari 2026. Rayakan malam sebelum Valentine dengan EP Left Me Lost, sebuah pengantar sunyi bagi mereka yang pernah kehilangan kasih sayang, kehilangan arah, dan masih berusaha menemukan diri di tengah kebingungan.-Haum, Alfan-

Reconcile is an Emo/Alternative Rock unit from Malang, Indonesia which is currently fronted by Dava (vocals/guitar), Nabil (guitar), Zidane (bass), and Chelsey (drums). Starting from a friendship bound by a love of the same music, namely emo/post hardcore, the band’s sound characteristics were inspired by Title Fight and Movements, which became the reason for the formation of Reconcile in 2023. Reconcile has independently released their debut EP entitled Faint Reflection in 2024. In 2025, starting with the maxi single "Drowned in Static", Reconcile with a new formation is now releasing new EP Left Me Lost on 13 February 2026.

 

Kamis, 12 Februari 2026

Peraukertas Mengeksplorasi Retrowave di Single Baru “13 Tahun”


 

Loetju.idPeraukertas kembali merilis karya  terbaru berjudul “13 Tahun”, yang resmi dirilis pada 13 Februari  2026. Lagu ini menjadi single kedua Peraukertas di bawah naungan POPS Music, sekaligus single perdana mereka di tahun 2026, melanjutkan langkah setelah perilisan Make It Right. 

Diproduseri oleh Wawan Eliawan dan diproduksi di 45 Movement Studio, 13 Tahun menghadirkan perkembangan signifikan dalam eksplorasi musikal Peraukertas. Lagu ini mengusung nuansa retrowave/synthwave yang atmosferik, menjadi sentuhan baru yang lahir dari sudut pandang kreatif sang produser, tanpa menghilangkan karakter emosional khas Peraukertas.
 
Secara lirik, 13 Tahun berangkat dari pengalaman personal Candra Kim, vokalis sekaligus penulis lagu Peraukertas. Lagu ini mengisahkan perjalanan panjang sebuah hubungan tentang bertahan, kelelahan, kegagalan yang disadari terlambat, hingga akhirnya menerima bahwa berakhirnya sebuah perjalanan tidak selalu berarti kekalahan. Lirik seperti “terlambat benahi dua hati ini” dan “ini bukan sepenuhnya kegagalan” menjadi refleksi tentang kedewasaan emosional dan keikhlasan. 

Sebagai bagian dari rangkaian perilisan, Peraukertas juga menggelar live stream selama 13 jam menjelang rilis 13 Tahun. Siaran ini berlangsung pada 12 Februari 2026 pukul 11.00 siang hingga 13 Februari 2026 pukul 01.00 dini hari, disiarkan secara simultan melalui youtube, Instagram, dan tiktok Peraukertas. 

Live stream tersebut dibagi ke dalam 13 segmen dan menghadirkan 13 bintang tamu dari berbagai latar belakang, mulai dari konten kreator musik, musisi, hingga pelaku industri hiburan. Program ini dirancang sebagai ruang obrolan, berbagi cerita, dan perayaan proses kreatif yang selaras dengan semangat lagu 13 Tahun tentang perjalanan panjang, refleksi, dan makna bertahan. 

Dengan 13 Tahun, Peraukertas menegaskan fase baru mereka di 2026 yang lebih dewasa secara narasi, lebih berani secara musikal, dan lebih dekat secara emosional dengan pendengarnya. Single “13 Tahun” dapat didengarkan di seluruh platform streaming digital mulai 13 Februari 2026.

Senin, 09 Februari 2026

Grup Idol JKT48 Rilis Single ke 27 Berjudul Andai 'Ku Bukan Idola

 


loetju.id - Pada 4 Feb 2026  JKT48 lewat kanal youtubenya merili Music Video terbaru berjudul Andai 'Ku Bukan Idola. Hingga  Senin tanggal 9 Februari 2026 video ini telah ditonton sebanyak 693.706 kali dan menjadi nomor  #2 musik Trending di tangga lagu.

"Andai 'Ku Bukan Idola" merupakan single ke 27 JKT48 dan kali ini dibawakan oleh:
- Angelina Christy
- Febriola Sinambela
- Fiony Alveria
- Freya Jayawardana
- Gita Sekar
- Grace Octaviani
- Greesella Adhalia
- Jessica Chandra
- Kathrina Irene
- Marsha Lenathea
- Michelle Alexandra
- Mutiara Azzahra



Sebagai informasi, JKT48 adalah grup idola (idol group) wanita pertama di Indonesia sekaligus sister group resmi dari AKB48 Jepang yang dibentuk pada tahun 2011. Berbasis di Jakarta, grup ini mengadopsi konsep "idola yang dapat Anda jumpai setiap hari" dengan pertunjukan rutin di teater mereka di fX Sudirman. JKT48 terkenal dengan lagu-lagu ceria, tarian energik, dan interaksi erat dengan penggemar. 

Lewat diskipsi di channel youtube, akun JKT48 juga memberikan akses  #JKT48FreeToPlay lewat Google Drive.

#JKT48FreeToPlay adalah sebuah wadah di mana para fans dan pendukung JKT48 dapat berkreasi bersama-sama untuk merayakan rilisnya Single JKT48.

Para fans dan pendukung JKT48 dapat mengakses dan menggunakan materi-materi yang dibagikan, dengan ketentuan yang ditentukan.

#JKT48FreeToPlay bisa akses di klik di sini.

“Static Mind”, Perkenalan Jujur Blind Phase Tentang Pikiran yang Tak Pernah Diam

 


Loetju.idMalang, 6 Februari 2026 - Blind Phase, unit pop-punk pendatang baru asal Kota Malang, resmi memperkenalkan diri ke dunia musik melalui single perdana mereka berjudul “Static Mind”. Lagu ini menjadi rilisan pertama Blind Phase dan akan menjadi pembuka menuju EP yang tengah mereka persiapkan. “Static Mind” menceritakan tentang kondisi mental yang penuh kebisingan, ketika pikiran terus berputar antara emosi naik dan turun tanpa jeda. 

Lagu debut ini menggambarkan perasaan terjebak dalam kekacauan batin, di mana kabar baik maupun buruk terasa sama-sama mengganggu, hingga akhirnya muncul keinginan untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, dan menghadapi semua dengan lebih jujur. Melalui lagu ini, Blind Phase menyampaikan proses penerimaan terhadap kekacauan tersebut sebagai bagian dari hidup, bukan untuk dilawan, melainkan dipahami.

Meski tergolong band baru, Blind Phase beranggotakan musisi yang sebelumnya telah aktif di berbagai band di Malang Raya. Blind Phase diperkuat oleh Aldy sebagai vokalis (Costive, Dominance), Andrian sebagai gitaris (Enamore, Hallway), Lilo sebagai gitaris (The Polar Bears), Reyhan sebagai basis (Grey, Costive) serta Kelvin sebagai drummer (Limbo). Meskipun berasal dari band-band dengan genre berbeda, perbedaan latar belakang tersebut justru membentuk warna baru yang solid dalam identitas Blind Phase. 

Single “Static Mind” ditulis oleh Aldy dan diproduseri oleh Lilo sendiri di W8 Project Studio miliknya. Dan juga untuk mixing & mastering single ini juga diproduksi sendiri olehnya. Diproduksi pada pertengahan Desember 2025. Blind Phase akan merilis single “Static Mind” pada Awal bulan Februari tahun 2026. 

Dengan balutan musik pop-punk yang enerjik namun emosional, “Static Mind” menjadi pernyataan awal Blind Phase tentang arah musikal mereka ke depan. Single ini bukan hanya perkenalan, tetapi juga fondasi cerita yang akan dikembangkan lebih jauh dalam format EP. Single “Static Mind” akan segera tersedia di seluruh platform streaming digital sebagai langkah awal perjalanan Blind Phase di industri musik.

Kamis, 05 Februari 2026

Born in February WUSS Bercerita tentang Tumbuh di Tengah, Bertahan Tanpa Tepuk Tangan

 


Loetju.idMalang, 6 Februari 2026 - Setelah merilis “Where It Begins” pada 2025, WUSS kembali memperkenalkan “Born in February”, sebuah karya yang lahir dari ruang di antara sorak dan kekacauan, di antara yang diagungkan dan yang sering terlewatkan. Ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, lagu ini menjadi pengakuan personal tentang tumbuh sebagai “anak kedua”: bukan bayangan, bukan pengganti, namun kerap diperlakukan sebagai jeda yang mudah dilupakan. Melalui lagu ini, Sabiella Maris (vokal, gitar), Brilyan Prathama Putra (vokal, gitar), Rara Harumi (bass), dan Rufa Hidayat (drum) menolak anggapan bahwa urutan adalah identitas, dan menegaskan bahwa bertahan seringkali membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi yang pertama. Single “Born in February” akan rilis di semua DSP pada 06 Februari 2026.

“Anak kedua lahir di tengah dua dunia - satu riuh penuh sorak, satu lagi kacau dan nggak pernah benar-benar rapi. Sering kali posisinya cuma dianggap lewat. Bagi anak kedua, ‘second’ itu cuma urutan, bukan identitas,” kata Brilyan.

Single “Born in February” menghadirkan sudut pandang tentang posisi kedua yang hidup di bawah perbandingan tanpa akhir, ketika suara kerap tenggelam oleh yang dianggap lebih utama dan mudah diterima. Alih-alih meminta maaf karena berbeda, WUSS justru merayakan keganjilan itu - liar, lentur, dan sulit dipatok—sebagai sumber nyawa lagu ini, yang bertumpu pada keberanian untuk terus bergerak meski dunia sesekali memalingkan muka. Bagi WUSS, “kedua” bukan cerita tentang kalah cepat, melainkan tentang bertahan lebih lama: tumbuh tanpa tepuk tangan, tetap berani menatap langit, dan menemukan ruang paling jujur untuk menjadi diri sendiri. Lewat lagu ini, WUSS menegaskan sikap untuk tidak menjadi salinan atau berjalan di jalur aman demi diterima, seraya mengingatkan bahwa “kedua” hanyalah angka - bukan identitas - sekaligus penanda baru tentang ketahanan dan keberanian untuk terus bermimpi, bahkan ketika dunia memilih untuk tidak melihat. 

Proses produksi “Born in February” berlangsung kurang lebih selama satu bulan, dimulai sejak pertengahan Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Lagu ini ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, dengan lirik yang digarap oleh Sabiella Maris. Proses komposisi melibatkan seluruh personel - Sabiella Maris, Brilyan Prathama Putra, Rara Harumi, dan Rufa Hidayat - yang bersama-sama merangkai dinamika emosional lagu ini menjadi satu kesatuan utuh.

Saat ini, WUSS juga tengah mempersiapkan album penuh yang akan menjadi kelanjutan dari rilisan single mereka. Album tersebut direncanakan berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir yang akan dirilis sebagai pengantar sebelum album resmi diluncurkan. Menariknya, single penutup menuju album ini akan melibatkan kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. WUSS berharap seluruh prosesnya dapat berjalan lancar dan album ini bisa segera diperkenalkan ke publik.
“WUSS saat ini tengah menyiapkan album penuh berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir sebagai pengantar menuju perilisan album, termasuk kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. Doakan kelancaran proyek kami ini ya,” ujar Sabiella.

Single “Born in February” sudah dapat didengarkan di seluruh platform digital (DSP) mulai 6 Februari 2026. Jangan lewatkan dan dengarkan pernyataan terbaru dari WUSS di platform streaming musik pilihan Anda.-alfan-

Tentang Wuss
Wuss adalah sebuah proyek musik yang beranggotakan Brilyan Prathama (ex Humi Dumi, Nonanoskins), Sabiella Maris (Closure), Rara Harumi, dan Rufa Hidayat (Remissa, Inheritors). Wuss berawal dari "Lunar", single pertama Wuss yang telah lama digarap Brilyan namun hanya tersimpan di hard disk-nya. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Sabiella Maris, solois sekaligus gitaris Masurai. Merasa memiliki kecocokan musikal, Brilyan dan Sabiella memutuskan untuk membentuk grup musik dengan mengajak Rufa Hidayat sebagai drummer dan Rara Harumi sebagai bassis. WUSS menawarkan musik indie-rock fuzzy yang dapat digambarkan sebagai perpaduan overdrive yang manis dan menggelegar serta tempo drum yang mampu mengajak siapapun untuk bernyanyi bersama atau melakukan stage diving. Wuss akhirnya merilis EP perdana mereka, We Undercover Super Softy. Setelah EP tersebut, single baru "Where It Begins" kini tersedia di semua DSP.

Trisouls Lepas Single Upbeat Bernuansa 90-an “Sementara atau Selamanya”

 



Loetju.idTrisouls kembali merilis single terbaru berjudul “Sementara atau Selamanya”, sebuah lagu pop romantis dengan aransemen menyenangkan dan upbeat, dibalut sentuhan nuansa 90-an yang hangat dan nostalgik. Lagu ini menangkap momen paling jujur dalam sebuah hubungan - saat perasaan hadir begitu nyata, namun jawabannya belum ingin ditentukan.

Diciptakan oleh Sajiva, “Sementara atau Selamanya” bercerita tentang debar hati yang muncul dari hal sederhana, seperti senyuman manis, hingga gejolak asmara yang membuat dunia terasa hanya milik berdua. Dari rasa kagum yang terpendam, kegugupan saat ingin mengungkapkan perasaan, hingga keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan, lagu ini mengalir jujur dan dekat dengan pengalaman banyak orang.

Secara musikal, Trisouls menghadirkan aransemen ceria khas mereka—ringan, optimistis, dan mudah diingat. Nuansa pop romantis era 90-an terasa kuat, namun dikemas dengan sentuhan modern yang relevan dengan pendengar hari ini. Reffrain-nya menggambarkan sensasi melayang, seolah atmosfer tak lagi mampu menahan perasaan yang menguat, mengajak pendengar menikmati keindahan momen tanpa harus terburu-buru menentukan akhir cerita.

Melalui “Sementara atau Selamanya”, Trisouls menegaskan bahwa tidak semua cinta harus segera memiliki jawaban. Terkadang, keberanian terbesar adalah memberi ruang bagi rasa untuk tumbuh - entah itu hanya sementara, atau ternyata bertahan selamanya.

Single “Sementara atau Selamanya” telah tersedia di seluruh platform streaming digital.

Comika

Politika

Gen Z