Comedy, Indie and Creativity: Selebrita
Tampilkan postingan dengan label Selebrita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selebrita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2026

Ceritakan Tentang Kehilangan Kasih Dan Kehilangan Arah, Reconcile Rilis EP Left Me Lost




Loetju.idMalang, 13 February 2026 – Unit emo/alternative asal Malang, Reconcile, resmi merilis EP terbaru bertajuk Left Me Lost. EP ini menjadi penanda fase reflektif Reconcile, menghadirkan narasi tentang kehilangan kasih sayang, keterasingan diri, dan kebingungan dalam menentukan arah hidup, dikemas lewat materi yang mengawang, abrasif namun emosional. Secara garis besar, Left Me Lost berbicara tentang kondisi batin seseorang yang kehilangan figur kasih sayang, lalu perlahan kehilangan pegangan atas dirinya sendiri. Tema ini menjadi benang merah dari keseluruhan EP, menghadirkan suasana lengang, rapuh, dan penuh pertanyaan serta keresahan yang dekat dengan pengalaman banyak orang.

“Secara tema, Left Me Lost bercerita tentang seseorang yang kehilangan kasih sayang, lalu ikut kehilangan dirinya sendiri, dan berada di fase kebingungan tanpa benar-benar tahu ke mana harus melangkah,” jelas Dava.
EP Left Me Lost dirilis di bawah naungan Haum Entertainment dengan Reconcile bertindak sebagai produser. Proses rekaman dilakukan di Rc:en Studio Recording, kecuali vokal lagu “Keep Us Alive” yang direkam di W8 Project Studio. Engineering ditangani oleh Nabil Zuhdi Prasetya, sementara proses mixing dan mastering dilakukan di W8 Project Studio oleh Yudhistiro Lilo P. Penulisan lirik dikerjakan oleh Dava Hendra Firmansyah dan Chelsey Agustine, dengan komposisi lagu yang digarap bersama Zidane Marvelo dan Nabil Zuhdi Prasetya. Untuk visual, artwork dan tata letak sampul EP ini dikerjakan oleh Adored Studio. 

“EP Left Me Lost kami garap sejak Juli sampai Desember 2025. Prosesnya memang terasa lebih lambat karena kami harus menyesuaikan waktu dengan gitaris kami, Nabil, yang sedang kuliah di Taiwan, sehingga sebagian proses rekaman dilakukan secara jarak jauh,” tutur Dava
EP Left Me Lost digarap dalam rentang waktu Juli hingga Desember 2025 dengan proses produksi yang tidak sepenuhnya berjalan secara konvensional karena perbedaan jarak dan zona waktu personil-personil yang kuliah di luar negeri. Ke depan, Reconcile belum mengunci langkah pasti pasca-rilis EP ini, namun keinginan untuk terus bergerak tetap ada.

“Untuk rencana setelah EP ini sebenarnya belum ada yang benar-benar fix, tapi keinginan untuk membuat materi lagu baru dengan konsep yang lebih berbeda itu sudah ada. Untuk sementara, kami ingin lebih aktif menjajaki gigs-gigs live,” tutup Dava.
EP Left Me Lost kini sudah dapat didengarkan di seluruh digital streaming platform pada 13 Februari 2026. Rayakan malam sebelum Valentine dengan EP Left Me Lost, sebuah pengantar sunyi bagi mereka yang pernah kehilangan kasih sayang, kehilangan arah, dan masih berusaha menemukan diri di tengah kebingungan.-Haum, Alfan-

Reconcile is an Emo/Alternative Rock unit from Malang, Indonesia which is currently fronted by Dava (vocals/guitar), Nabil (guitar), Zidane (bass), and Chelsey (drums). Starting from a friendship bound by a love of the same music, namely emo/post hardcore, the band’s sound characteristics were inspired by Title Fight and Movements, which became the reason for the formation of Reconcile in 2023. Reconcile has independently released their debut EP entitled Faint Reflection in 2024. In 2025, starting with the maxi single "Drowned in Static", Reconcile with a new formation is now releasing new EP Left Me Lost on 13 February 2026.

 

Senin, 09 Februari 2026

Grup Idol JKT48 Rilis Single ke 27 Berjudul Andai 'Ku Bukan Idola

 


loetju.id - Pada 4 Feb 2026  JKT48 lewat kanal youtubenya merili Music Video terbaru berjudul Andai 'Ku Bukan Idola. Hingga  Senin tanggal 9 Februari 2026 video ini telah ditonton sebanyak 693.706 kali dan menjadi nomor  #2 musik Trending di tangga lagu.

"Andai 'Ku Bukan Idola" merupakan single ke 27 JKT48 dan kali ini dibawakan oleh:
- Angelina Christy
- Febriola Sinambela
- Fiony Alveria
- Freya Jayawardana
- Gita Sekar
- Grace Octaviani
- Greesella Adhalia
- Jessica Chandra
- Kathrina Irene
- Marsha Lenathea
- Michelle Alexandra
- Mutiara Azzahra



Sebagai informasi, JKT48 adalah grup idola (idol group) wanita pertama di Indonesia sekaligus sister group resmi dari AKB48 Jepang yang dibentuk pada tahun 2011. Berbasis di Jakarta, grup ini mengadopsi konsep "idola yang dapat Anda jumpai setiap hari" dengan pertunjukan rutin di teater mereka di fX Sudirman. JKT48 terkenal dengan lagu-lagu ceria, tarian energik, dan interaksi erat dengan penggemar. 

Lewat diskipsi di channel youtube, akun JKT48 juga memberikan akses  #JKT48FreeToPlay lewat Google Drive.

#JKT48FreeToPlay adalah sebuah wadah di mana para fans dan pendukung JKT48 dapat berkreasi bersama-sama untuk merayakan rilisnya Single JKT48.

Para fans dan pendukung JKT48 dapat mengakses dan menggunakan materi-materi yang dibagikan, dengan ketentuan yang ditentukan.

#JKT48FreeToPlay bisa akses di klik di sini.

“Static Mind”, Perkenalan Jujur Blind Phase Tentang Pikiran yang Tak Pernah Diam

 


Loetju.idMalang, 6 Februari 2026 - Blind Phase, unit pop-punk pendatang baru asal Kota Malang, resmi memperkenalkan diri ke dunia musik melalui single perdana mereka berjudul “Static Mind”. Lagu ini menjadi rilisan pertama Blind Phase dan akan menjadi pembuka menuju EP yang tengah mereka persiapkan. “Static Mind” menceritakan tentang kondisi mental yang penuh kebisingan, ketika pikiran terus berputar antara emosi naik dan turun tanpa jeda. 

Lagu debut ini menggambarkan perasaan terjebak dalam kekacauan batin, di mana kabar baik maupun buruk terasa sama-sama mengganggu, hingga akhirnya muncul keinginan untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, dan menghadapi semua dengan lebih jujur. Melalui lagu ini, Blind Phase menyampaikan proses penerimaan terhadap kekacauan tersebut sebagai bagian dari hidup, bukan untuk dilawan, melainkan dipahami.

Meski tergolong band baru, Blind Phase beranggotakan musisi yang sebelumnya telah aktif di berbagai band di Malang Raya. Blind Phase diperkuat oleh Aldy sebagai vokalis (Costive, Dominance), Andrian sebagai gitaris (Enamore, Hallway), Lilo sebagai gitaris (The Polar Bears), Reyhan sebagai basis (Grey, Costive) serta Kelvin sebagai drummer (Limbo). Meskipun berasal dari band-band dengan genre berbeda, perbedaan latar belakang tersebut justru membentuk warna baru yang solid dalam identitas Blind Phase. 

Single “Static Mind” ditulis oleh Aldy dan diproduseri oleh Lilo sendiri di W8 Project Studio miliknya. Dan juga untuk mixing & mastering single ini juga diproduksi sendiri olehnya. Diproduksi pada pertengahan Desember 2025. Blind Phase akan merilis single “Static Mind” pada Awal bulan Februari tahun 2026. 

Dengan balutan musik pop-punk yang enerjik namun emosional, “Static Mind” menjadi pernyataan awal Blind Phase tentang arah musikal mereka ke depan. Single ini bukan hanya perkenalan, tetapi juga fondasi cerita yang akan dikembangkan lebih jauh dalam format EP. Single “Static Mind” akan segera tersedia di seluruh platform streaming digital sebagai langkah awal perjalanan Blind Phase di industri musik.

Kamis, 05 Februari 2026

Born in February WUSS Bercerita tentang Tumbuh di Tengah, Bertahan Tanpa Tepuk Tangan

 


Loetju.idMalang, 6 Februari 2026 - Setelah merilis “Where It Begins” pada 2025, WUSS kembali memperkenalkan “Born in February”, sebuah karya yang lahir dari ruang di antara sorak dan kekacauan, di antara yang diagungkan dan yang sering terlewatkan. Ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, lagu ini menjadi pengakuan personal tentang tumbuh sebagai “anak kedua”: bukan bayangan, bukan pengganti, namun kerap diperlakukan sebagai jeda yang mudah dilupakan. Melalui lagu ini, Sabiella Maris (vokal, gitar), Brilyan Prathama Putra (vokal, gitar), Rara Harumi (bass), dan Rufa Hidayat (drum) menolak anggapan bahwa urutan adalah identitas, dan menegaskan bahwa bertahan seringkali membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi yang pertama. Single “Born in February” akan rilis di semua DSP pada 06 Februari 2026.

“Anak kedua lahir di tengah dua dunia - satu riuh penuh sorak, satu lagi kacau dan nggak pernah benar-benar rapi. Sering kali posisinya cuma dianggap lewat. Bagi anak kedua, ‘second’ itu cuma urutan, bukan identitas,” kata Brilyan.

Single “Born in February” menghadirkan sudut pandang tentang posisi kedua yang hidup di bawah perbandingan tanpa akhir, ketika suara kerap tenggelam oleh yang dianggap lebih utama dan mudah diterima. Alih-alih meminta maaf karena berbeda, WUSS justru merayakan keganjilan itu - liar, lentur, dan sulit dipatok—sebagai sumber nyawa lagu ini, yang bertumpu pada keberanian untuk terus bergerak meski dunia sesekali memalingkan muka. Bagi WUSS, “kedua” bukan cerita tentang kalah cepat, melainkan tentang bertahan lebih lama: tumbuh tanpa tepuk tangan, tetap berani menatap langit, dan menemukan ruang paling jujur untuk menjadi diri sendiri. Lewat lagu ini, WUSS menegaskan sikap untuk tidak menjadi salinan atau berjalan di jalur aman demi diterima, seraya mengingatkan bahwa “kedua” hanyalah angka - bukan identitas - sekaligus penanda baru tentang ketahanan dan keberanian untuk terus bermimpi, bahkan ketika dunia memilih untuk tidak melihat. 

Proses produksi “Born in February” berlangsung kurang lebih selama satu bulan, dimulai sejak pertengahan Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Lagu ini ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, dengan lirik yang digarap oleh Sabiella Maris. Proses komposisi melibatkan seluruh personel - Sabiella Maris, Brilyan Prathama Putra, Rara Harumi, dan Rufa Hidayat - yang bersama-sama merangkai dinamika emosional lagu ini menjadi satu kesatuan utuh.

Saat ini, WUSS juga tengah mempersiapkan album penuh yang akan menjadi kelanjutan dari rilisan single mereka. Album tersebut direncanakan berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir yang akan dirilis sebagai pengantar sebelum album resmi diluncurkan. Menariknya, single penutup menuju album ini akan melibatkan kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. WUSS berharap seluruh prosesnya dapat berjalan lancar dan album ini bisa segera diperkenalkan ke publik.
“WUSS saat ini tengah menyiapkan album penuh berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir sebagai pengantar menuju perilisan album, termasuk kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. Doakan kelancaran proyek kami ini ya,” ujar Sabiella.

Single “Born in February” sudah dapat didengarkan di seluruh platform digital (DSP) mulai 6 Februari 2026. Jangan lewatkan dan dengarkan pernyataan terbaru dari WUSS di platform streaming musik pilihan Anda.-alfan-

Tentang Wuss
Wuss adalah sebuah proyek musik yang beranggotakan Brilyan Prathama (ex Humi Dumi, Nonanoskins), Sabiella Maris (Closure), Rara Harumi, dan Rufa Hidayat (Remissa, Inheritors). Wuss berawal dari "Lunar", single pertama Wuss yang telah lama digarap Brilyan namun hanya tersimpan di hard disk-nya. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Sabiella Maris, solois sekaligus gitaris Masurai. Merasa memiliki kecocokan musikal, Brilyan dan Sabiella memutuskan untuk membentuk grup musik dengan mengajak Rufa Hidayat sebagai drummer dan Rara Harumi sebagai bassis. WUSS menawarkan musik indie-rock fuzzy yang dapat digambarkan sebagai perpaduan overdrive yang manis dan menggelegar serta tempo drum yang mampu mengajak siapapun untuk bernyanyi bersama atau melakukan stage diving. Wuss akhirnya merilis EP perdana mereka, We Undercover Super Softy. Setelah EP tersebut, single baru "Where It Begins" kini tersedia di semua DSP.

Trisouls Lepas Single Upbeat Bernuansa 90-an “Sementara atau Selamanya”

 



Loetju.idTrisouls kembali merilis single terbaru berjudul “Sementara atau Selamanya”, sebuah lagu pop romantis dengan aransemen menyenangkan dan upbeat, dibalut sentuhan nuansa 90-an yang hangat dan nostalgik. Lagu ini menangkap momen paling jujur dalam sebuah hubungan - saat perasaan hadir begitu nyata, namun jawabannya belum ingin ditentukan.

Diciptakan oleh Sajiva, “Sementara atau Selamanya” bercerita tentang debar hati yang muncul dari hal sederhana, seperti senyuman manis, hingga gejolak asmara yang membuat dunia terasa hanya milik berdua. Dari rasa kagum yang terpendam, kegugupan saat ingin mengungkapkan perasaan, hingga keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan, lagu ini mengalir jujur dan dekat dengan pengalaman banyak orang.

Secara musikal, Trisouls menghadirkan aransemen ceria khas mereka—ringan, optimistis, dan mudah diingat. Nuansa pop romantis era 90-an terasa kuat, namun dikemas dengan sentuhan modern yang relevan dengan pendengar hari ini. Reffrain-nya menggambarkan sensasi melayang, seolah atmosfer tak lagi mampu menahan perasaan yang menguat, mengajak pendengar menikmati keindahan momen tanpa harus terburu-buru menentukan akhir cerita.

Melalui “Sementara atau Selamanya”, Trisouls menegaskan bahwa tidak semua cinta harus segera memiliki jawaban. Terkadang, keberanian terbesar adalah memberi ruang bagi rasa untuk tumbuh - entah itu hanya sementara, atau ternyata bertahan selamanya.

Single “Sementara atau Selamanya” telah tersedia di seluruh platform streaming digital.

Rabu, 04 Februari 2026

Indra Dinda Hadirkan Cerita Berbeda Lewat Video Klip “Turun Di Sini Dulu”

 

Loetju.idDalam rangka persiapan album perdana, usai merilis single pertama “Tanggal Biru” pada Februari 2024 dan single kedua “Selalu Ada, Meski Tiada” pada Oktober 2025, Indra Dinda kini merilis single ketiga berjudul “Turun Di Sini Dulu” pada 30 Januari 2026. Ini adalah rangkaian rilis Inda Dinda dalam rangka progres album perdana yang rencananya akan dirilis sekitar pertengahan tahun 2026.

Berbeda dari dua single sebelumnya, lagu “Turun Di Sini Dulu” mengambil inspirasi aransemen dari musik-musik pop alternatif. Secara konsep album, Indra Dinda memang memilih pendekatan aransemen yang beragam, menyesuaikan karakter musikal dengan tema lirik di setiap lagunya.

Dalam proses produksinya, mulai dari tracking, mixing, hingga mastering, “Turun Di Sini Dulu” dikerjakan secara mandiri oleh Indra Dinda di studio rumahnya, dengan bantuan sejumlah session player. Ada Favian pada gitar, Gea Eine pada keyboards, Reza Triadi pada drums, serta Arga pada saksofon. Sementara itu, part bass, mixing, dan mastering sepenuhnya ditangani oleh Indra sendiri.

Selain dirilis dalam format audio, Indra Dinda juga merilis music video pada hari yang sama. Menggandeng Qich Terror sebagai director dan Qich Management sebagai rumah produksi, video klip ini mengangkat narasi yang selaras dengan tema lirik lagunya: sepasang kekasih yang menikmati adrenalin pacaran diam-diam.

Music video “Turun Di Sini Dulu” turut menghadirkan sejumlah cameo dari teman-teman influencer Malang Raya, di antaranya Pak Antono, Ruru, Modegila ‘Gendut’, Rizky Boncell, Vera Karina, serta special guest Cipheng dari Begundal Lowokwaru.

Semoga melalui rilisan ini, Indra Dinda bisa membuat para pendengarnya merasakan hal yang baru setiap mendengar lagu-lagunya, sehingga album perdana nanti akan benar-benar dinantikan hasil akhirnya.

Tentang Indra Dinda
Indra Dinda adalah duo musik indie pop yang berbasis di Kota Malang dan Surabaya. Keduanya bertemu di ajang Indonesian Idol 2014 dan sampai sekarang aktif bermusik bersama sebagai pasangan suami-istri. Indra Dinda menciptakan dan memproduksi sendiri lagu-lagu di studio rumah mereka, menyebarkan cinta ke seluruh pendengarnya.

Selasa, 13 Januari 2026

Musisi Asli Gunung Kawi, Matoha Mino, Dobrak Stereotip Mistis Dengan Lagu “Gunung Kawi”

 



Loetju.idMalang - Mendengar nama Gunung Kawi, beberapa hal yang mungkin terlintas di pikiran masyarakat Indonesia adalah angker, mistis, serta pesugihan. Stereotip yang berkembang di masyarakat ini coba dipatahkan oleh seorang musisi asal Gunung Kawi yakni Matoha Mino. Seniman berusia 57 tahun tersebut berujar, “Ide lagu ini sebenarnya sudah mengendap di kepala saya sejak 2005–2008, waktu itu sering banget dengar orang-orang bilang “Gunung Kawi itu tempat pesugihan, jangan ke sana nanti ketemu tuyul, genderuwo dan setan”. Ada pula yang bilang “orang yang ke Gunung Kawi pasti cari duit ghaib”. Saya yang lahir dan besar di Gunung Kawi (tepatnya Desa Wonosari), rasanya kesel sekali stereotip itu terus dipelihara film-film horor dan sinetron.” 

Terdorong oleh keinginan yang kuat itu, ayah kandung dari penyanyi Madukina dan musisi Hanafi Madu W. ini pun menciptakan lirik-lirik yang menunjukkan pesona Gunung Kawi sebagai tempat ziarah para pahlawan yakni Eyang Djoego dan Eyang Soejono (RM Iman Soedjono) yang merupakan laskar dari Pangeran Diponegoro saat masa perjuangan melawan Belanda. “Gunung Kawi bukan tempat pesugihan. Ini tempat ziarah, tempat berdoa, tempat wisata ritual yang bahkan dikunjungi tamu mancanegara,” tegas Matoha. Lewat bait-bait lagunya, ia mengajak masyarakat untuk kembali kepada esensi doa yang benar yakni berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa sambil tetap berusaha keras. Wisata ziarah ini pun menurutnya hanya secuil sisi dari Gunung Kawi yang baru ia eksplorasi lewat lagu. Masih banyak esensi dan nilai dari gunung yang terletak di Kabupaten Malang ini yang bisa digaungkan lebih luas lewat seni. 

Matoha yang sebelumnya juga menjadi dalang di balik lagu soundtrack film “KKN: Desa Penari” kembali memasukkan unsur-unsur musik gamelan Jawa. Namun kali ini, ia mengkombinasikan gamelan dengan unsur musik Islami dengan iringan terbangan (red: musik sholawatan). Penulisan lirik memakan waktu dua minggu dan dibantu oleh rekan musisi Alm. Bapak Irwan Sumadi. Ketika rampung, Matoha mengajak grup musik Islami Tajidor (Terbang Jidor) yang bernama “Kyai Zakaria” untuk latihan. Gamelan, drum, viola, keyboard, dan perkusi turut menghiasi dinamika lagu “Gunung Kawi” yang dimainkan sendiri oleh Matoha dan sang putra Hanafi Madu W. Sang istri yakni Ibu Dwi Siswa turut andil dalam mengkoordinasi paduan suara anak-anak di sekitar perumahan Matoha Mino untuk menyumbangkan suaranya di lagu “Gunung Kawi”. Tak mau ketinggalan, sang putri Madukina membantu mengarahkan jenis dan model vokal sebelum dan saat rekaman, serta memandu sang ayah dalam memilih busana, gaya, sampul dari single serta strategi perilisan digital lagu ini. 

Selain dikerjakan dengan bantuan banyak pihak, sang musisi juga memiliki tujuan untuk merangkul lebih banyak massa lewat lagunya yang berbahasa Indonesia. “Beda dengan waktu membuat ‘Dhat’ dulu yang berisikan bahasa Jawa dan Sansekerta kuno, saya memang sengaja menulis lagu ini dengan bahasa Indonesia agar dimengerti lebih banyak orang. Karena pertama, tujuan saya adalah meluruskan stigma dan stereotip, jadi bahasa yang universal saya rasa penting untuk digunakan. Kedua, saya ingin lirik lagu ini benar-benar sederhana dan selugas mungkin untuk menghindari salah paham dan interpretasi ganda. Terakhir, saya ingin lagu ini bisa dinyanyikan bersama-sama, dengan lirik dan melodi yang mudah sehingga bisa tersebar makin masif dan diresapi para pendengarnya,” jelas Matoha. “Gunung Kawi” resmi dirilis secara digital di penghujung tahun 2025 yakni 31 Desember di berbagai layanan streaming digital.

Minggu, 28 Desember 2025

Grup Musik Indiepop Merona dari Sidoarjo Jawa Timur Rerilis Single Bertajuk Tetes Hujan

 



Loetju.id - Merona adalah proyek indiepop dari Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia yang diinisiasi sepasang suami istri, Gelar (bass, synth) dan Arum (vokal), yang dibantu beberapa sahabat, Gayuh (guitar) dan Agra (drum).

Setelah maret 2025 lalu merilis single “Distance” di beberapa platform digital yang menandai rilisan fisik split album bersama Lanskap (Bali) untuk Record Store Day 2025, 23 November 2025 ini Merona kembali merilis single “Tetes Hujan" sebagai bagian dari album penuh Merona yang akan dilepas dalam beberapa waktu kedepan.

“Tetes Hujan" membawakan pop yang lebih mudah didengar, tidak bertele-tele tetapi terasa lebih murung dansedih ketika Arum mulai menyanyikan lirik yang ditulis oleh Gayuh. Berkisah tentang harapan yang berujung kecewa, single ini tidak terbatas hanya tentang kasih dan cinta, dia bisa diinterpretasikan jauh lebih dari itu tergantung bagaimana pendengar menafsirkan.

Senin, 22 Desember 2025

Debut Bassst Lewat Maxi Single “The World Make Sense Somehow”




Loetju.id -  Akhir tahun selalu identik dengan banyaknya rilisan musik yang bermunculan, salah satu dari sekian banyak itu adalah Bassst. Bastya Indrawan dengan nama panggung Bassst akan mencoba peruntungannya dengan project solo barunya. Setelah hiruk pikuk dan hingar bingar dengan bandnya Eas.y & Bitter Club, kini Bassst akan memulai babak baru dalam karir bermusiknya dengan debut Maxi Single yang bertajuk “The World Make Sense Somehow”. 

“I’ve been, running in circles trying, to belong right here” – The World Make Sense Somehow

Maxi Single The World Make Sense Somehow pada debut Bassst kali ini cukup menjadi rilisan yang spesial, berisi 2 lagu dalam yang berjudul The World Make Sense Somehow & Glances. Kedua lagu ini mengangkat tema yang sangat berbanding terbalik. Bastya sendiri menerangkan, “Jadi pada dasarnya 2 lagu ini berangkat dari kejadian yang cukup kontras dari pengalaman pribadi sih, misal baik-buruk, sedih-bahagia, bersyukur-takut, semuanya kurasa memiliki keterkaitan padahal 2 kejadian dan perasaan ini berbanding terbalik satu sama lain.” 

“We walk the edge of something wild, Playing lovers in a borrowed time” – Glances 

Pada bagian The World Make Sense Somehow ingin menggambarkan tentang perasaan seolah dunia berubah menjadi lebih indah dan penuh makna ketika orang yang kita cintai hadir dan berada di sisi kita. Misal seperti kehadiran seorang anak, menikah, atau bahkan sesimpel memiliki rekan kerja yang menyenangkan. Dari kehadiran orang-orang inilah yang akhirnya mendasari cerita dari lagu ini, dan seakan membuat dunia lebih bermakna.

Sementara pada Glances mengangkat sisi yang sedikit lebih personal dari Bastya, pada track ini ingin mencoba mengangkat perasaan takut yang dirasakan oleh Bastya, mulai dari takut untuk mencintai, takut untuk memulai sesuatu yang baru, bahkan perasaan menginginkan sekedar dicintai pun membuatnya merasa takut. Selain itu Glances sendiri pada track ini akan menjadi demo untuk single Bassst berikutnya yang akan dirilis pada Februari. Pada track ini cukup berbanding terbalik dengan track The World Make Sense Somehow. 

2 Track yang berlawanan ini lah yang membuat Maxi Single ini menjadi spesial. Sejalan dengan 2 track yang berlawanan pada Maxi Single ini, pada debutnya Bassst memang ingin memberi sebuah tema utama bahwa semuanya memiliki keterkaitan satu sama lain, antara baik & buruk, senang & sedih, bahagia & kecewa. “Karena pada dasarnya hidup gak selalu sedih dan ga selalu senang terus kok, pasti ada naik dan turun nya, jadi ga perlu takut karena aku yakin pasti akan ada hal baik yang akan datang nantinya.” Pungkas Bastya.

Untuk sisi produksi sendiri Bassst memang sangat terinfluence dengan baik oleh band atau solois dengan genre Sophisti-pop, macam Lany, Taylor Swift, hingga James Bay. Nampak pada debutnya kali ini unsur electro-pop dengan sentuhan Dream-Pop membuat Maxi Single ini terasa cukup manis. Pada sisi penulisan lagu Bastya tidak sendirian, dalam debutnya kali ini Bastya dibantu oleh Ayesa Almanda pada single Glances dan untuk backing vocal dibantu oleh Fajrin Jauhari. Sementara untuk dapur produksi suara mulai dari recording hingga mixing-mastering Bastya mengerjakan nya secara mandiri.

Selain merilis Maxi Single debutnya, Bassst juga akan merilis sebuah lirik video yang direct oleh Rizky Exa Mardiansyah. Debut Maxi Single Bassst – The World Make Sense Somehow akan dirilis pada 19 Desember 2025 pada seluruh digital streaming platform favorit kalian.

Rabu, 03 Desember 2025

Daftar Film Yang Diumumkan Saat Gelaran Jaff Market 2025



Loetju.id - Baru-baru ini event Gelaran Jaff Market telah digelar di Jogjakarta. Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) adalah festival film yang memfokuskan diri pada perkembangan sinema Asia. Tahun ini merupakan tahun kelima penyelenggaraan JAFF di Jogjakarta.

Berikut daftar film dari berbagai production house yang diumumkan bakal segara tayang di bioskop atau mulai proses shooting. 


1. Studio Magma 
- Si Buta Dari Gua Hantu Mata Malaikat
- Kampung Kubur
- Perang Tanding
- Death Trap
- Hoki
- Qodrat 3
- Mayat Hidup
- Badut Gendong


2. Uwais Picture
- Timur
- Iakatan Darah
- Pasung


3. Starvision Plus
- Kamar Ganti
- Agensi Rumah Tangga
- 730 Days
- Senin Harga Naik
- Datang Akan Pergi
- Sekawan Limo 2
- Medium Ugly
- Kafir Gerbang Suksa


4. Adhya Pictures
- Pulo Majeti
- Bolong


5. Riva Studio
- Forza


6. MD Pictures
- Ivanna 2
- Children of Heaven
- Danur The Last Chapter
- Rumah Sakit Angker Korea


7. Mahakarya Picture
- Pelangi di Mars


8. VMS Stuios
- Penerbangan Terakhir


9. Rapi Film
- Tunggu Aku Sukses Nanti
- Check Out Sekarang, Pay Later
- Yang Takkan Terlupa


10. MVP Pictures
- Cerita Lila


11. Paragon Pictures
- Oki dan Nirmala
- Kuasa Gelap II


12. Visinema Pictures
- Na Willa
- Ratu Malaka


13. Pal8
- Laut Bercerita




Selasa, 25 November 2025

Film Pertama Sukses, AGAK LAEN: Menyala Pantiku Hadir Sebagai Sequel


 

Loetju.id - Setelah mengokohkan diri sebagai film terlaris sepanjang masa ke tiga, Agak Laen yang diangkat dari podcast populer berjudul yang sama hadir kembali sebagai sequel dengan judul Agak Laen: Menyala Pantiku.

Muhadkly Acho kembali duduk sebagai sutradara sekaligus penulis skenario yang kali ini dibantu oleh Awwe. Ernest Prakasa dan Dipa Andika dari rumah produksi Imajinari juga kembali menjadi produser.


Sinopsis film Agak Laen: Menyala Pantiku
Setelah berulang kali gagal menjalankan misi, Detektif Bene, Boris, Jegel, dan Oki diberi satu kesempatan terakhir: Menyamar dan menyusup ke sebuah panti jompo, untuk mencari buronan kasus pembunuhan anak wali kota.

Dalam banyak kesempatan, Acho menyampaikan bahwa konsep pengembangan IP Agak Laen antara film satu dengan yang lainnya peran dan ceritanya berbeda dan tidak menyambung, berbeda dengan konsep kebanyakn film yang prekuel serta sekuelnya umumnya masih sambung menyambung.

Konsep pembuatan film seperti ini pernah diterapkan oleh Warkop DKI dimana walau nama karakternya sama namun peran dan jalan cerita antar satu film dengan lainnya sama sekali tidak berhubungan.


Daftar pemain film Agak Laen: Menyala Pantiku

Bene Dion

Boris Bokir

Indra Jegel

Oki Rengga

Ariyo Wahab

Gita Bhebhita

Chew Kin Wah

Jajang C. Noer

Tika Panggabean

Jarwo Kwat

Egy Fedly

Tissa Biani

Priska Baru Segu

Boah Sartika

Ayushita

Surya Saputra


Berdurasi 1 jam 59 menit, Agak Laen: Menyala Pantiku bisa sobat nikmati di bioskop kesayangan mulai tanggal 27 November 2025 dan untuk kota-kota tertentu bakal tayang lebih awal.

Solois Pop Asal Malang, Verenathania Merilis Debut EP Dalam Versi Live Session


 

Loetju.id -  Dikemas dalam format video spesial yang memuat tiga lagu yang diaransemen ulang dalam versi live session.Didukung Kondimen Malang dan Culture Club Coffee sebagai lokasi syuting, dan 3 brand alat musik Nasional Bacchus Indonesia, Bromo Guitar, dan NUX

Verenathania merupakan seorang penyanyi, gitaris dan penulis lagu asal kota Malang. Kecintaannya akan musik sudah muncul sejak dini. Saat duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, dia sudah mulai belajar memainkan gitar lewat berbagai jalur les privat. Di antaranya dia sempat belajar pada Robby Glyph dan Bayu Priaganda - keduanya adalah guru gitar yang cukup kondang di kotanya.

Memasuki bangku SMP, Verenathania mulai bergabung dengan band di sekolahnya dan tampil pada berbagai jenis festival musik. Dia sendiri juga makin rajin mengkover lagu-lagu kesukaannya - mulai dari lagunya Justin Bieber, Coldplay, Paramore, bahkan Joe Satriani. Berbagai karya coversong-nya tadi sering diunggah melalui akun media sosial dan kanal YouTube-nya. Karir bermusik Verenathania baru dimulai sejak dia berani menulis lagu sendiri. Single pertamanya adalah "Alien" yang dirilis pada tahun 2023. 

“'Alien' itu lagu buat idola aku. Namanya Lee Seung Hyub. Eh, fun fact-nya dia itu sempet denger lagu ini tapi gatau kalo itu suaraku, hehehe," ucap Verenathania. 

"Inspirasi liriknya karena idolaku sangat jauh dan tidak mungkin tergapai. Jadinya kayak alien karena kami berasa beda dunia, beda dimensi..." tambah Verenathania

Setahun kemudian, Verenathania merilis single berjudul "Red Glasses" (2024). 

"Lagu itu tentang aku yang tau kalo pasanganku itu red flag tapi masih aku lanjutin saja. Di situ aku kayak lagi pake kacamata merah, jadi semua warna itu berasa sama, keliatan merah semua..,” ujar Verenathania

Terakhir, dia merilis "to: the future u" (2025) yang layaknya surat cinta di mana Verenathania berkisah tentang seseorang yang diidam-idamkan untuk menjadi pasangan di masa depan. Semudah itu memang seorang Verenathania bisa jatuh cinta pada sosok yang diidamkan. Ketiga single-nya tadi digubah kembali ke dalam versi live session dan dikemas dalam bentuk video spesial bertajuk 1st EP (Live Session) yang dirilis ke publik sejak tanggal 8 November 2025 melalui kanal YouTube verenathania.

"Gagasan ini muncul saat aku bertemu Mas Rexy. Trus kita ngobrol-ngobrol lah. Kan aku emang dari dulu pingin punya EP. Trus kepikiran kenapa gak eksplor lagi pada lagu-lagu yang sudah ada. Jadi kita sepakat bikin versi live session dari lagu-laguku yang kemarin..." ucap Verenathania bercerita tentang bagaimana ide untuk memproduksi 1st EP (Live Session) itu muncul. 

"Tiga lagu ini kayak ngegambarin perjalananku mencari warna diriku seperti apa. Di sini aku dibantu sama teman-teman dan diaransemen ulang sesuai dengan representasiku yang sekarang," tambah Verenathania yang mengaku mengidolakan Mikha Angelo, Rendy Pandugo, dan Ed Sheeran sebagai musisi favoritnya.

Dalam video 1st EP (Live Session), Verenathania selaku vokalis dan gitaris itu dibantu oleh Oddy Satya (gitar & keyboard), Hanafi Madu Wanandi (bass), dan Bogi Satya (drum). Rexi Tegar Pratama yang bertindak selaku sutradara, DOP sekaligus editor videonya. Juga dibantu oleh Dhanesworo (video crew) dan Pandu Putra Bia W (behind the scene photo).

"Prosesnya sangat seru dan lumayan lama karena dikerjakan pas aku bolak-balik dari Kediri-Malang, dengan timeline yang berbeda-beda," kata Verenathania soal proses pembuatan video tersebut.

Video 1st EP (Live Session) digarap bekerjasama dengan Kondimen Malang yang akan meluncurkan rubrik baru berjudul “Bermusik di Kopian” dan Culture Club Coffee sebagai lokasi syuting. Sengaja mereka take video di tengah-tengah operasional kafe karena memang ingin mengambil ambience alami yang ada di kafe tersebut.
Tak tanggung-tanggung, di sini Verenathania juga didukung oleh Bacchus Indonesia, Bromo Guitar, dan NUX yang menjadikan dia sebagai salah satu brand ambassador-nya. 

"Itu mungkin karena aku ngelawan rasa maluku dalam bermedsos, hehe. Sampai suatu saat Covid-19 datang, aku jadi makin terdorong buat aktifin media sosial. Mungkin dari situ aku bisa gained views dan followers ya..." kata Verenathania tentang bagaimana dia bisa mendapatkan endorsement dari brand produsen gitar dan efek.

Selain bermusik, Verenathania juga tercatat sebagai salah satu karyawan pada perusahaan bank swasta. Apakah dia lalu kesulitan untuk membagi waktu antara karir musik dan kerja kantoran?

"Jujur masih belajar buat ngebagi waktu. Kadang masih banyak melesetnya karena abis kerja pasti pulangnya udah capek. Kalo weekend maunya main. Tapi aku push diriku karena aku udah dikasih berkah ini-itu jadi sayang banget kalo aku biarkan begitu aja. Jadi rasa syukur aja yang bikin aku masih bisa terus stay memaksakan diri, in a good way, untuk tetep bermusik sambil bekerja," jelasnya.

"Semoga EP ini bisa jadi jembatan untuk perilisan albumku di tahun depan. Aku ingin orang-orang bisa menikmati versi yang super duper lain dari ketiga laguku yang dirilis kemarin-kemarin," ucapnya penuh harap. "Semoga aku juga bisa lebih berani take a risk untuk musikku dan bisa eksplor lebih banyak lagi bersama-sama dengan tim yang supportive."

Lantas, apa rencana Verenathania ke depannya?! Verenathania mengaku semangat untuk merencanakan album di tahun depan.

"Bikin album lah ya di tahun 2026. Bisa yuk, wkwkwk. Slowly but sure. Intinya sampai aku bisa menemukan identitas diriku sendiri dalam bermusik. Sampai orang-orang itu ngeh dan bisa bilang: 'Oh, ini sih Veren banget!...'tutup Verenathania.

Video dari EP perdana Verenathania 1st EP (Live Session) sudah bisa dinikmati di kanal youtube https://www.youtube.com/@verenathania sejak 8 November 2025. -Sammack edited by Alfan- 

Comika

Politika

Gen Z